Abstrak
Kemampuan NLP lintas bahasa menghadapi kesenjangan dramatis antara bahasa dominan dan bahasa minoritas. Model dilatih terutama pada data Bahasa Inggris, menciptakan hegemoni linguistik digital yang memperkuat ketidaksetaraan global dan mengabaikan kekayaan bahasa dengan sumber daya terbatas.

Dominasi Bahasa Inggris dalam Data Pelatihan AI

Bias Struktural dalam Korpus Pelatihan

Kemampuan NLP lintas bahasa menghadapi kesenjangan signifikan yang jarang dibicarakan. Santoso dan kolega mencatat kondisi teknis: "Dalam banyak kasus, komputer hampir tidak dapat mengurai input menjadi kata kunci"1. Tapi realitasnya lebih kompleks—masalah ini jauh lebih parah untuk bahasa non-Inggris.

Mayoritas model NLP modern dilatih terutama pada data Bahasa Inggris. Ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi dari ketersediaan data digital. Internet didominasi konten berbahasa Inggris. Dataset publik besar seperti Common Crawl memiliki representasi Bahasa Inggris yang tidak proporsional. Hasilnya? Model yang bias secara fundamental terhadap struktur dan pola bahasa Inggris2.

Prosa AI, perusahaan Indonesia, mengembangkan Salyns untuk speech to text Indonesia dengan teknologi NLP berbasis bahasa Indonesia. Ini menunjukkan kebutuhan nyata untuk model lokal3. Tanpa upaya khusus seperti ini, bahasa-bahasa dengan penutur jutaan orang tetap tertinggal dalam revolusi AI.

Kinerja Buruk pada Bahasa Low-Resource

Russell dan Norvig menjelaskan bahwa meskipun multilingual models seperti mBERT dan XLM-R mengadopsi transfer learning cross-lingual, performanya tetap jauh lebih buruk pada bahasa dengan sumber daya terbatas4. Perbedaannya bukan sedikit—bisa mencapai puluhan persen dalam akurasi.

Bahasa-bahasa dengan sistem penulisan berbeda, struktur morfologi kompleks, atau sintaksis yang sangat berbeda dari Bahasa Inggris mengalami degradasi kinerja paling parah. Model kesulitan generalize pola yang dipelajari dari Bahasa Inggris ke konteks linguistik yang berbeda secara fundamental.

Prosa.ai juga menghadirkan produk Text-to-Speech berbasis cloud untuk mengubah teks menjadi suara berbahasa Indonesia5. Inisiatif lokal seperti ini penting karena model global sering gagal menangkap nuansa fonetik dan prosodi bahasa tertentu. Aksen, intonasi, ritme—semuanya memerlukan data spesifik bahasa untuk dimodel dengan baik5.

Digital Language Divide dan Solusi Neuro-Symbolic

Hegemoni Linguistik dalam Ekosistem AI

Bender dan kolega dalam On the Dangers of Stochastic Parrots memberikan kritik tajam. Multilingualism superfisial yang diklaim model besar justru memperkuat hegemoni bahasa dominan dan mengabaikan kekayaan linguistik minoritas. Ini menciptakan digital language divide baru—kesenjangan akses teknologi berdasarkan bahasa6.

Tempo melaporkan bahwa dari 6 chatbot AI paling populer di dunia, hampir semuanya dioptimalkan untuk Bahasa Inggris. Pengguna bahasa lain mendapat pengalaman yang jauh lebih terbatas7. Ini bukan hanya masalah teknis—ini masalah keadilan linguistik dan akses pengetahuan.

Marcus dan Davis menambahkan bahwa pemahaman budaya dan konteks pragmatis—yang krusial untuk komunikasi efektif—sulit dipelajari dari data tekstual saja. Ini memerlukan grounding dalam interaksi dunia nyata yang spesifik budaya8. Bahasa bukan hanya sistem simbol abstrak; ia tertanam dalam praktik sosial dan konteks kultural yang kaya.

Pendekatan Hybrid untuk Kesetaraan Linguistik

Mitchell mengusulkan pendekatan neuro-symbolic yang menggabungkan pengetahuan linguistik struktural dengan model neural untuk mengatasi keterbatasan ini9. Alih-alih hanya mengandalkan pembelajaran statistik dari data, pendekatan ini memanfaatkan pengetahuan eksplisit tentang struktur bahasa.

Untuk bahasa dengan sumber daya terbatas, kombinasi rule-based systems yang mengkodekan pengetahuan linguistik dengan neural models yang dapat belajar dari data lebih sedikit menunjukkan hasil menjanjikan. Ini memungkinkan transfer learning yang lebih efektif dengan memanfaatkan universalitas linguistik—properti yang dibagikan oleh banyak bahasa.

Antara News melaporkan bahwa China menggunakan model bahasa protein AI untuk mengungkap misteri evolusi kehidupan, menunjukkan bahwa prinsip NLP dapat diterapkan pada "bahasa" non-manusia10. Ini membuka perspektif baru: jika kita dapat mengadaptasi NLP untuk "bahasa" protein, kita tentu dapat mengembangkan pendekatan yang lebih inklusif untuk keragaman bahasa manusia. Evolusi bahasa, sebagaimana dicatat dalam opini Pos Kupang, adalah fenomena yang tidak terhindarkan dan terus berlanjut11. Teknologi NLP harus berkembang bersama keragaman linguistik ini, bukan mengabaikannya.

Daftar Pustaka

  1. Santoso, J. T., Sholikan, M., & Caroline, M. (2020). Kecerdasan buatan (artificial intelligence). Universitas Sains & Teknologi Komputer.
  2. Computerworld UK. (2025, 29 Juli). Natural Language Processing. https://www.computerworld.com/uk/natural-language-processing/
  3. Berita Satu. (2022, 20 Agustus). Prosa AI Mudahkan Speech To Text Indonesia dengan Salyns. https://www.beritasatu.com/ekonomi/966755/prosa-ai-mudahkan-speech-to-text-indonesia-dengan-salyns
  4. Russell, S. J., & Norvig, P. (2021). Artificial intelligence: A modern approach (4th ed.). Pearson.
  5. Antara News. (2024, 7 April). Prosa.ai hadirkan produk pengubah teks jadi suara berbahasa Indonesia. https://www.antaranews.com/berita/4048887/prosaai-hadirkan-produk-pengubah-teks-jadi-suara-berbahasa-indonesia
  6. Bender, E. M., et al. (2021). On the dangers of stochastic parrots. Proceedings of FAccT 2021.
  7. Tempo. (2025, 22 September). Daftar 6 Chatbot AI Paling Banyak Dipakai di Dunia. https://www.tempo.co/digital/daftar-6-chatbot-ai-paling-banyak-dipakai-di-dunia-2072026
  8. Marcus, G., & Davis, E. (2019). Rebooting AI: Building artificial intelligence we can trust. Pantheon Books.
  9. Mitchell, M. (2019). Artificial intelligence: A guide for thinking humans. Farrar, Straus and Giroux.
  10. Antara News. (2025, 9 Oktober). China gunakan model bahasa protein AI ungkap misteri evolusi kehidupan. https://www.antaranews.com/berita/5163061/china-gunakan-model-bahasa-protein-ai-ungkap-misteri-evolusi-kehidupan
  11. Pos Kupang. (2024, 21 Desember). Opini: Evolusi Bahasa. https://kupang.tribunnews.com/2024/12/22/opini-evolusi-bahasa