cross
Tekan Enter untuk mencari atau ESC untuk menutup
4
Januariuary 2026

Persaingan Chip AI Global: Tantangan terhadap Dominasi Nvidia dari Huawei dan DeepSeek

  • 110 tayangan
  • 04 Januari 2026
Persaingan Chip AI Global: Tantangan terhadap Dominasi Nvidia dari Huawei dan DeepSeek Dominasi Nvidia di pasar chip AI mulai menghadapi tantangan serius dari pemain baru seperti Huawei dengan Ascend 950 dan DeepSeek dengan pendekatan open source. Perusahaan teknologi besar seperti Google, Meta, dan Amazon mulai mengembangkan chip internal untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok.

Tantangan terhadap Hegemoni Nvidia

Huawei Ascend 950 Memasuki Pasar Korea

Nvidia telah lama mendominasi pasar chip AI dengan arsitektur GPU (Graphics Processing Unit atau Unit Pemrosesan Grafis) yang dioptimalkan untuk pembelajaran mendalam. Russell dan Norvig (2021) menjelaskan bahwa Big Tech own the vast majority of existing cloud infrastructure and computing power from data centers1, dengan Nvidia sebagai penyedia utama akselerator AI.

Namun Huawei membuat gebrakan dengan menjual chip AI Ascend 950 ke Korea, menandai langkah awal menantang dominasi Nvidia2. Ini signifikan karena menunjukkan perusahaan China mampu mengembangkan alternatif kompetitif meski menghadapi pembatasan teknologi dari Barat. Santoso dkk. (2020) mencatat bahwa Ketersediaan komputer yang kuat, algoritme yang lebih cerdas, kumpulan data besar3 adalah fondasi AI—dan Huawei berusaha menyediakan komponen kunci ini.

Persaingan chip AI semakin panas karena dominasi Nvidia mulai terancam. Perusahaan teknologi besar seperti Google, Meta, Amazon, dan OpenAI memperkuat langkah mengurangi ketergantungan pada chip Nvidia4. Marcus dan Davis (2019) telah memperingatkan bahwa konsolidasi menciptakan barrier to entry tinggi5, namun sekarang kita melihat upaya diversifikasi.

Strategi Lisensi dan Konsolidasi Nvidia

Merespons tantangan ini, Nvidia melakukan langkah strategis dengan melisensikan chip AI Groq untuk mengamankan dominasi di era komputasi AI6. Raksasa semikonduktor ini menandatangani kesepakatan dengan Groq, startup kecerdasan buatan yang dikenal dengan pendekatan unik dalam desain prosesor untuk inference (inferensi).

Kesepakatan Groq Nvidia menunjukkan bagaimana raksasa chip ini memanfaatkan balance sheet (neraca keuangan) masif untuk mempertahankan keunggulan di pasar AI7. Russell dan Norvig (2021) mencatat investasi AI di AS saja mencapai 50 miliar dolar AS setiap tahun sekitar 20221, dan Nvidia memposisikan diri sebagai penerima manfaat utama dari gelombang investasi ini.

Christian (2020) menjelaskan bahwa dominasi funding (pendanaan) besar mengarahkan fokus pada proyek komersial menguntungkan8. Nvidia memahami ini dan menggunakan kekuatan keuangan untuk mengintegrasikan teknologi startup inovatif sebelum mereka menjadi ancaman kompetitif serius. Raksasa teknologi global menuangkan miliaran dolar ke chip AI dan pusat data9, dengan Nvidia sebagai benefisiari utama.

Model Open Source sebagai Alternatif Disruptif

Fenomena DeepSeek dan Efisiensi Biaya

DeepSeek mengguncang pasar teknologi global dengan menantang dominasi teknologi AI Amerika Serikat melalui pendekatan berbeda10. Meskipun pembatasan perdagangan AS membatasi akses China ke chip canggih, DeepSeek mengembangkan modelnya menggunakan teknologi open source dan perangkat keras kurang canggih namun efisien10.

Data transaksi perusahaan menunjukkan realitas berbeda dari narasi publik. Meskipun ChatGPT dari OpenAI sering menjadi wajah revolusi AI, Grammarly ternyata mengalahkan ChatGPT dalam penggunaan korporat, sementara DeepSeek melesat 1.800%11. Ini menunjukkan pasar AI lebih beragam dari yang diasumsikan banyak pengamat.

Russell dan Norvig (2021) mengobservasi bahwa 22% of newly funded startups in 2024 claimed to be AI companies1, namun banyak hanya label tanpa substansi. DeepSeek berbeda—mereka mendemonstrasikan kemampuan teknis nyata dengan sumber daya terbatas. Santoso dkk. (2020) menekankan pentingnya Sambungan jaringan memberi Anda akses ke basis pengetahuan besar secara online3, dan DeepSeek memanfaatkan ekosistem open source untuk ini.

Tren Perusahaan Meninggalkan Model Tertutup

Selama beberapa tahun terakhir, narasi dominan dalam industri AI adalah model tertutup (proprietary) yang dikembangkan raksasa teknologi akan mendominasi12. Namun kini perusahaan mulai meninggalkan model AI tertutup dan beralih ke open source sebagai jawaban12.

Marcus dan Davis (2019) menjelaskan konsolidasi menciptakan monopoli di mana hanya perusahaan dengan akses data besar dan infrastruktur komputasi yang dapat berkompetisi5. Namun open source mengubah persamaan ini dengan memungkinkan kolaborasi terdistribusi dan inovasi dari banyak kontributor. Russell dan Norvig (2021) mencatat bahwa Big Tech menciptakan ekosistem di mana akuisisi startup lebih menguntungkan daripada kompetisi independen1.

Open source menawarkan jalan keluar dari kill zone ini. Christian (2020) menjelaskan bahwa dominasi besar menciptakan innovation chill di mana peneliti menghindari area riset dekat dengan domain monopoli Big Tech8. Model open source memungkinkan inovasi di ruang yang sebelumnya terlalu berisiko untuk dimasuki startup kecil. Raksasa teknologi bertempur untuk dominasi dalam perang platform AI-agen yang baru13, namun open source menawarkan alternatif di luar pertempuran ini.

Daftar Pustaka

  1. Russell, S. J., & Norvig, P. (2021). Artificial Intelligence: A Modern Approach (4th ed.). Pearson. Halaman 1.
  2. Dexop.com. (28 Desember 2025). Huawei Jual Chip AI Ascend 950 ke Korea, Langkah Awal Tantang Dominasi NVIDIA. Diakses dari https://www.dexop.com/huawei-jual-chip-ai-ascend-950-ke-korea-langkah-awal-tantang-dominasi-nvidia/4935/
  3. Santoso, J. T., Sholikan, M., & Caroline, M. (2020). Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Universitas Sains & Teknologi Komputer. Halaman 10, 13.
  4. Akurat.co. (21 Mei 2025). Persaingan Chip AI Makin Panas, Dominasi Nvidia Mulai Terancam. Diakses dari https://www.akurat.co/infotech/1307001978/persaingan-chip-ai-makin-panas-dominasi-nvidia-mulai-terancam
  5. Marcus, G., & Davis, E. (2019). Rebooting AI: Building Artificial Intelligence We Can Trust. Halaman 200-220.
  6. Dexop.com. (28 Desember 2025). Nvidia Lisensi Chip AI Groq, Langkah Strategis Amankan Dominasi di Era Komputasi AI. Diakses dari https://www.dexop.com/nvidia-lisensi-chip-ai-groq-langkah-strategis-amankan-dominasi-di-era-komputasi-ai/4925/
  7. MSN. (26 Desember 2025). Nvidia's Groq deal underscores how the AI chip giant uses its massive balance sheet to maintain dominance. Diakses dari https://www.msn.com/en-us/money/savingandinvesting/nvidia-s-groq-deal-underscores-how-the-ai-chip-giant-uses-its-massive-balance-sheet-to-maintain-dominance/ar-AA1T5vde
  8. Christian, B. (2020). The Alignment Problem: Machine Learning and Human Values. Halaman 150-180.
  9. News.az. (26 Desember 2025). Global tech giants pour billions into AI chips and data centers. Diakses dari https://news.az/news/global-tech-giants-pour-billions-into-ai-chips-and-data-centers
  10. Tribunnews.com. (27 Januari 2025). DeepSeek Mengguncang Pasar Teknologi Global, Menantang Dominasi Teknologi AI Amerika Serikat. Diakses dari https://www.tribunnews.com/internasional/2025/01/28/deepseek-mengguncang-pasar-teknologi-global-menantang-dominasi-teknologi-ai-amerika-serikat
  11. Medcom.id. (2 Januari 2026). Kejutan Pasar AI 2025: Grammarly Tumbangkan ChatGPT, DeepSeek Melesat 1.800%. Diakses dari https://www.medcom.id/teknologi/news-teknologi/ob3yqymK-kejutan-pasar-ai-2025-grammarly-tumbangkan-chatgpt-deepseek-melesat-1-800
  12. Medcom.id. (30 Desember 2025). Open Source, Jawaban Perusahaan Mulai Tinggalkan Model AI Tertutup. Diakses dari https://www.medcom.id/teknologi/news-teknologi/5b2yYXeN-open-source-jawaban-perusahaan-mulai-tinggalkan-model-ai-tertutup
  13. Cyprus-mail.com. (23 November 2025). Tech giants battle for dominance in the new agent-AI platform war. Diakses dari https://cyprus-mail.com/2025/11/24/tech-giants-battle-for-dominance-in-the-new-agent-ai-platform-war
PROFIL PENULIS
Swante Adi Krisna
Penggemar musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooner sejak 1998. Blogger dan SEO spesialis paruh waktu sejak 2014. Perancang Grafis otodidak sejak 2001. Pemrogram Website otodidak sejak 2003. Tukang Kayu otodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari Universitas Negeri di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Magister Hukum Pidana dalam bidang kejahatan dunia maya dari Universitas Swasta di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Magister Kenotariatan dalam bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari Universitas Negeri di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Bagian dari Keluarga Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.