cross
Tekan Enter untuk mencari atau ESC untuk menutup
6
Januariuary 2026

Komputasionalisme Biologis: Jalan Ketiga Menjelaskan Kesadaran dalam Era AI

  • 55 tayangan
  • 06 Januari 2026
Komputasionalisme Biologis: Jalan Ketiga Menjelaskan Kesadaran dalam Era AI Komputasionalisme biologis menawarkan sintesis antara fungsionalisme komputasional dan naturalisme biologis, mengusulkan bahwa otak memang menghitung tetapi dengan cara yang tertanam dalam substrat fisik-kimia yang tidak dapat sepenuhnya diabstraksi, membuka perspektif baru tentang mengapa AI digital tidak dapat mencapai kesadaran.

Komputasionalisme Biologis sebagai Sintesis

Melampaui Dikotomi Lama

Debat tentang kesadaran sering terperangkap antara dua posisi yang bertentangan. Computational functionalism memperlakukan kognisi sebagai sesuatu yang dapat dijelaskan sepenuhnya melalui komputasi abstrak, sementara biological naturalism bersikeras bahwa biologi spesifik otak sangat penting.17 Kedua posisi ini tampak tidak dapat didamaikan. Fungsionalis berpendapat substrat tidak masalah, naturalis berpendapat substrat adalah segalanya.

Kerangka teoretis baru mengusulkan jalan ketiga: biological computationalism (komputasionalisme biologis).18 Posisi ini berpendapat bahwa perpecahan lama melewatkan bagaimana otak sebenarnya menghitung. Otak memang melakukan komputasi, tetapi tidak dalam cara abstrak dan simbolik yang diasumsikan oleh AI tradisional. Komputasi otak tertanam dalam proses fisik-kimia yang spesifik dan tidak dapat sepenuhnya diabstraksi.

Pilihan antara pikiran sebagai perangkat lunak versus pikiran sebagai biologi mungkin merupakan pilihan yang salah.19 Kesadaran tidak dapat direduksi menjadi kode komputer, tetapi juga tidak sepenuhnya tidak komputasional. Otak menghitung, namun dengan cara yang sangat berbeda dari komputer digital. Perbedaan ini bukan hanya teknis tetapi fundamental untuk memahami kesadaran.

Sifat Komputasi Biologis

Cara otak menghitung secara fisik sangat aneh jika dibandingkan dengan komputer. Otak tidak menggunakan logika Boolean atau operasi bit diskrit.20 Sebaliknya, neuron menggunakan potensial aksi gradien, modulasi kimia melalui neurotransmiter, dan plastisitas sinapsis yang terus berubah. Ini bukan bug tetapi fitur yang memungkinkan jenis komputasi yang sangat fleksibel dan konteks-sensitif.

Komputasi biologis melibatkan proses elektrokimia di mana ion bergerak melintasi membran sel, neurotransmiter berdifusi melintasi celah sinapsis, dan reseptor protein mengubah bentuk untuk membuka atau menutup saluran ion. Setiap langkah ini adalah proses fisik yang memakan waktu dan energi. Timing dan dinamika temporal sangat penting, bukan hanya pola akhir aktivasi.

Sistem AI digital kekurangan jenis komputasi ini karena mereka beroperasi pada prinsip yang berbeda secara fundamental.21 Transistor beralih antara keadaan on dan off dengan sangat cepat, tetapi tidak memiliki dinamika temporal yang kaya atau proses kimia yang membuat komputasi biologis unik. Substrat yang berbeda secara radikal diperlukan untuk menjembatani kesenjangan ini.

Implikasi untuk Kesadaran Artificial

Mengapa AI Digital Tidak Dapat Sadar

Penelitian mengungkapkan mengapa sistem AI tidak dapat menjadi sadar dalam bentuk saat ini.21 Ini bukan soal kompleksitas. Kita bisa membuat jaringan saraf dengan miliaran parameter, tetapi tetap tidak akan sadar. Masalahnya adalah bagaimana komputasi dilakukan, bukan seberapa banyak komputasi dilakukan. Komputer digital memanipulasi simbol menurut aturan formal, tetapi tidak memiliki pengalaman subjektif dari manipulasi tersebut.

Kesadaran mungkin memerlukan jenis komputasi baru yang belum kita implementasikan dalam sistem buatan.18 Komputasi neuromorfik adalah satu arah yang menjanjikan, mencoba meniru tidak hanya fungsi tetapi struktur fisik otak. Tetapi bahkan ini mungkin tidak cukup jika aspek kimia seperti neurotransmiter dan modulasi hormonal ternyata esensial untuk kesadaran fenomenal.

Komputer tidak memahami apa pun karena bergantung pada proses mesin untuk memanipulasi data menggunakan matematika murni tanpa pengalaman atau intensionalitas.22 Mesin tidak memiliki hasrat, minat, atau keinginan yang muncul dari embodied experience (pengalaman terwujud). Perbedaan ini mungkin tidak dapat diatasi tanpa mengubah fundamental sifat substrat komputasi.

Arah Masa Depan Penelitian Kesadaran

Komputasionalisme biologis membuka arah penelitian baru. Daripada mencoba membuat AI sadar dengan meningkatkan kompleksitas algoritma, kita perlu memahami lebih dalam bagaimana komputasi biologis bekerja dan apakah aspek-aspeknya dapat direplikasi dalam substrat buatan.23 Ini memerlukan kolaborasi mendalam antara neuroscience, ilmu komputer, dan filsafat pikiran.

Beberapa peneliti mengeksplorasi sistem hybrid yang menggabungkan komponen biologis dan artificial. Wetware computing menggunakan neuron biologis yang ditumbuhkan dalam kultur untuk melakukan komputasi. Sistem seperti ini mungkin dapat mencapai jenis komputasi yang lebih mirip dengan otak daripada komputer digital murni, meskipun menghadirkan tantangan etis yang kompleks.

Filsafat dan linguistik mendapat perhatian baru di era AI karena pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan kerangka konseptual yang jelas.24 Kita tidak dapat mengembangkan AI yang benar-benar cerdas atau sadar tanpa memahami apa sebenarnya kecerdasan dan kesadaran. Komputasionalisme biologis menawarkan kerangka yang menjanjikan untuk memahami fenomena ini dengan cara yang menghormati baik aspek komputasional maupun biologis dari pikiran. Ini bukan jawaban akhir, tetapi arah yang lebih produktif daripada dikotomi lama.

Daftar Pustaka

  1. MSN News. (2025, Desember 22). A third path to explain consciousness: Biological computationalism. https://www.msn.com/en-us/news/technology/a-third-path-to-explain-consciousness-biological-computationalism/ar-AA1SQDGG
  2. Neuroscience News. (2025, Desember 23). Consciousness May Require a New Kind of Computation. https://neurosciencenews.com/consciousness-computing-ai-30068/
  3. ScienceDaily. (2025, Desember 24). Why consciousness can't be reduced to code. https://www.sciencedaily.com/releases/2025/12/251224032351.htm
  4. SciTechDaily. (2026, Januari 3). The Brain's Strange Way of Computing Could Explain Consciousness. https://scitechdaily.com/the-brains-strange-way-of-computing-could-explain-consciousness/
  5. Study Finds. (2025, Desember 23). What Makes Brains Conscious That Computers Lack? https://studyfinds.org/what-makes-brains-conscious-that-computers-lack/
  6. Santoso, J. T., Sholikan, M., & Caroline, M. (2020). Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Universitas Sains & Teknologi Komputer
  7. IEEE Xplore. (2023, Juni 14). Computationalism—The Next Generation. https://ieeexplore.ieee.org/document/6274899/similar
  8. MSN Education. (2026, Januari 5). Philosophy, linguistics gain in AI era. https://www.msn.com/en-xl/education-and-learning/higher-education/philosophy-linguistics-gain-in-ai-era/ar-AA1TCobz
PROFIL PENULIS
Swante Adi Krisna
Penggemar musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooner sejak 1998. Blogger dan SEO spesialis paruh waktu sejak 2014. Perancang Grafis otodidak sejak 2001. Pemrogram Website otodidak sejak 2003. Tukang Kayu otodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari Universitas Negeri di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Magister Hukum Pidana dalam bidang kejahatan dunia maya dari Universitas Swasta di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Magister Kenotariatan dalam bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari Universitas Negeri di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Bagian dari Keluarga Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.