cross
Tekan Enter untuk mencari atau ESC untuk menutup
11
Januariuary 2026

Lester Sterling: Pilar Alto Saxophone dan Kontinuitas The Skatalites

  • 48 tayangan
  • 11 Januari 2026
Lester Sterling: Pilar Alto Saxophone dan Kontinuitas The Skatalites Lester Sterling memberikan stabilitas pada horn section The Skatalites melalui kehadirannya yang konsisten dari formasi original 1964 hingga dekade 2020-an, menjadi saksi hidup evolusi ska selama lebih dari 50 tahun.

Lester Sterling sebagai Fondasi Alto Saxophone The Skatalites

Posisi dalam Lineup Original dan Konsistensi Jangka Panjang

Lester Sterling menjadi anggota pendiri The Skatalites yang memberikan kontribusi pada alto saxophone sejak band terbentuk tahun 1964. Tommy McCook mengidentifikasi Sterling dalam lineup core (inti), menyatakan bahwa Lloyd Brevett played the bass and Lloyd Knibbs played drums. The latter two are still in the band's lineup, along with saxophonists Roland Alphonso and Lester Sterling1. Pernyataan ini bukan hanya daftar nama. Ini pengakuan terhadap musisi yang bertahan melampaui turnover (pergantian) band normal.

Sterling adalah satu-satunya horn player original yang tetap aktif hingga dekade terakhir hidupnya2. Dia meninggal pada 16 Mei 2023 dalam usia 87 tahun. Tributes (penghormatan) mengalir dari pojok-pojok bumi yang jauh, mengikuti kepergian alto saxophonist ini, yang terakhir dari tiga hornsmen ikonik Skatalites3. Kehadirannya selama hampir enam dekade menjadikannya living archive (arsip hidup) dari evolusi musik Jamaika.

Konsistensi Sterling melampaui sekadar longevity (umur panjang). Ia hadir dalam setiap fase penting band. Dari era original yang singkat namun explosive, melalui periode hiatus, hingga reunion dan anniversary tours di abad ke-21. Sterling bermain untuk mods dan ska-heads, untuk rockers dan raggamuffins, untuk tua dan muda4. Universalitas appeal (daya tarik) ini mencerminkan kualitas musikal yang transcendent (melampaui batas).

Peran dalam Pembentukan Sound dan Tekstur Musikal

Alto saxophone Sterling memberikan voice (suara) yang berbeda namun komplementer dalam horn section The Skatalites. McCook menjelaskan pendekatan band: The Skatalites injected the mento or calypso-type guitar... with horns taking the lead and often following the off-beat skank5. Dalam konteks ini, alto Sterling mengisi register yang lebih tinggi, menciptakan counterpoint (kontrapoin) terhadap tenor Roland Alphonso dan trombone Don Drummond.

Karakteristik ska terletak pada horns taking the lead dan following the off-beat skank, sementara piano menekankan bass line dan playing the skank6. Sterling memahami perannya dalam ekosistem musikal ini dengan mendalam. Alto saxophone tidak hanya bermain melodi. Ia harus mengisi ruang antara rhythm section dan horn section lainnya, menciptakan cohesion (kekohesifan) tanpa kehilangan individualitas. Sterling menguasai keseimbangan ini dengan elegance yang jarang terlihat.

The Skatalites hanya bersama selama empat belas bulan sebelum bubar tahun 1965, namun output rekaman dan pengaruh berkelanjutan mereka tetap luar biasa7. Sterling ada di setiap rekaman era original tersebut. Kemampuannya untuk adapt (beradaptasi) dengan berbagai style dalam satu session membuatnya invaluable (sangat berharga). Dari upbeat ska dancers hingga slower, more contemplative pieces, Sterling delivered dengan consistency yang remarkable.

Warisan dan Pengaruh Lester Sterling dalam Musik Jamaika

Peran sebagai Session Musician dan Backing Band

Sebelum The Skatalites terbentuk secara resmi tahun 1964, para anggota pendiri termasuk Sterling adalah session musicians yang bermain di hampir setiap lagu yang dibuat di Jamaika selama sepuluh tahun sebelumnya8. Ini adalah periode formative (pembentukan) yang membentuk skill set mereka. Sterling belajar membaca charts dengan cepat, improvise (berimprovisasi) on the spot, dan deliver takes yang usable dalam waktu minimal. Studio time mahal. Musisi yang bisa work fast tanpa mengorbankan quality selalu diminati.

The Skatalites, secara individual dan kombinasi, selama bertahun-tahun sebelum dan sesudah breakup mereka, menjadi studio band paling dicari di Jamaika9. Sterling adalah bagian integral dari reputation ini. Ia backing Bob Marley, Desmond Dekker, dan countless artists lainnya sebelum dan selama era Skatalites. Kemampuan untuk switching between (beralih antara) different musical contexts dengan seamless transitions adalah hallmark seorang true professional.

Sterling tidak pernah orang yang suka spotlight (sorotan), tapi ia suka enjoy himself10. Pendekatan ini mencerminkan etika musikal generasinya: musik adalah tentang serving the song, bukan ego. Family dan friends memastikan ia mendapat rousing send-off (perpisahan meriah) dengan thanksgiving service yang merayakan kontribusinya pada musik Jamaika. Kerendahan hati kombinasi dengan excellence menciptakan legacy yang lasting.

Kontribusi dalam Mempertahankan Tradisi Ska Hingga Abad 21

Sterling menjadi bridge (jembatan) antara era original ska dan generasi contemporary. Tahun 2021 menandai anniversary ke-57 The Skatalites11. Sterling masih aktif performing pada saat itu, membawa authentic voice dari era foundational langsung ke audiences modern. Ini bukan reenactment (pemeragaan ulang). Ini adalah continuation (kelanjutan) langsung dari tradisi yang hidup.

The Skatalites adalah unsung heroes (pahlawan yang tidak dikenal) reggae. Dengan pengecualian Bob Marley and the Wailers, tidak ada grup musikal Jamaika yang sepenting dan seberpengaruh The Skatalites12. Sterling memainkan peran crucial dalam mempertahankan pentingnya ini melalui decades of consistent performance. Setiap kali ia naik ke panggung, ia tidak hanya playing notes. Ia mentransmisikan entire history dari genre tersebut.

Pertunjukan The Skatalites selalu truly uplifting (benar-benar mengangkat semangat)13. Sterling, meski usianya lanjut, tetap membawa energi dan joy yang mendefinisikan ska dari awal. Kepergiannya tahun 2023 menandai end of an era. Namun recordings, performances, dan influence-nya tetap hidup. Generasi musisi yang belajar langsung darinya sekarang mengajarkan generation berikutnya. Cycle ini memastikan bahwa meski Sterling gone, suaranya tidak akan pernah silent.

Daftar Pustaka

  1. Foster, C. (1999). Roots rock reggae. Billboard Books, hlm. 11
  2. The Skatalites (n.d.), hlm. 2
  3. Dancehall Mag. (2023, 17 Mei). The Skatalites' Saxophonist Lester Sterling Dead At 87
  4. Under the Radar. (2025, 6 Desember). The Skatalites 50th Anniversary
  5. Foster, op. cit., hlm. 11
  6. Ska (n.d.), hlm. 2
  7. Foster, loc. cit., hlm. 11
  8. The Aquarian. (2019, 31 Desember). The Skatalites—55 Years and Still Dancing
  9. Foster, op. cit., hlm. 12
  10. Jamaica Observer. (2023, 17 Juli). Farewell, Lester
  11. All About Jazz. (2021, 23 November). The Skatalites
  12. The List. (2025, 26 Agustus). The Skatalites - 60th Anniversary Tour
  13. Brighton and Hove News. (2019, 27 Mei). The Skatalites perform a truly uplifting concert
PROFIL PENULIS
Swante Adi Krisna
Penggemar musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooner sejak 1998. Blogger dan SEO spesialis paruh waktu sejak 2014. Perancang Grafis otodidak sejak 2001. Pemrogram Website otodidak sejak 2003. Tukang Kayu otodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari Universitas Negeri di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Magister Hukum Pidana dalam bidang kejahatan dunia maya dari Universitas Swasta di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Magister Kenotariatan dalam bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari Universitas Negeri di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Bagian dari Keluarga Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.