Michael LaBossiere, seorang filosof kontemporer, mengangkat perdebatan menarik tentang kemungkinan melarikan diri dari simulasi yang diduga menaungi realitas kita.1 Diskusi ini bermula dari klaim yang pernah diajukan oleh Elon Musk bahwa kita mungkin hidup dalam simulasi—sebuah gagasan yang menambah bab baru pada problem klasik tentang dunia eksternal dalam filsafat. Namun berbeda dengan pendekatan filosofis tradisional, Musk dan beberapa pendana lainnya konon mendanai upaya praktis untuk keluar dari simulasi tersebut.1
Pertanyaan yang mengemuka bukan hanya soal how (bagaimana) melarikan diri, tetapi juga whether (apakah) pelarian semacam itu bahkan dimungkinkan secara filosofis.
Tiga Faktor Penentu Kemungkinan Pelarian
LaBossiere mengidentifikasi tiga area utama yang menentukan apakah pelarian dari simulasi bisa terwujud.1 Pertama, sifat simulasi itu sendiri. Kedua adalah karakteristik dunia di luar simulasi. Yang ketiga—ini yang paling rumit—adalah hakikat para penghuni simulasi tersebut.
| Aspek 🔍 | Pertanyaan Kunci 🎯 | Implikasi untuk Pelarian 🚪 |
|---|---|---|
| Sifat Simulasi | Fisik atau virtual? | Menentukan metode pelarian |
| Dunia Luar | Apakah dapat dihuni? | Menentukan keberlangsungan hidup |
| Identitas Penghuni | Real atau simulasi? | Menentukan kontinuitas pribadi |
| Problem Identitas Personal | Apa yang membuat 'saya' tetap 'saya'? | Krusial untuk pelarian bermakna |
| Fisik vs Virtual | Tubuh material atau kode? | Berbeda strategi escape-nya |
| Persistensi Eksistensi | Bisa bertahan di luar? | Menentukan viabilitas jangka panjang |
| Problem Dunia Eksternal | Benar-benar bebas? | Kemungkinan nested simulations |
Memahami hakikat penghuni simulasi berarti berhadapan dengan problem klasik personal identity (identitas personal).1 Ini melibatkan penentuan apa yang membuat seseorang menjadi pribadi, apa yang membedakannya dari entitas lain, dan bagaimana seseorang tetap menjadi orang yang sama lintas waktu. Para filosof telah bergulat dengan masalah ini selama berabad-abad—tanpa solusi definitif sampai saat ini.
Simulasi Fisik versus Simulasi Virtual
Dua jenis simulasi perlu dibedakan. Simulasi fisik dirancang mereplikasi bagian dunia nyata menggunakan entitas riil, biasanya untuk mengumpulkan data.1 Contoh fiksi ilmiahnya adalah cerita pendek Frederik Pohl berjudul "The Tunnel under the World" di mana penduduk kota yang direkonstruksi dipaksa mengulang 15 Juni berulang kali untuk menguji teknik periklanan.
Jika kita berada dalam simulasi fisik, pelarian akan mirip melarikan diri dari penjara fisik—soal melampaui jarak atau memecahkan dinding pembatas.1 Mungkin Mars berada di luar simulasi? Atau seperti dalam The Truman Show, ada dinding literal yang bisa ditembus. Kelangsungan hidup di luar simulasi akan mungkin jika dunia luar dapat dihuni.
Matrix: Tikus Nyata dalam Kandang Virtual
Musk dan lainnya tampaknya membayangkan simulasi virtual reality (realitas virtual) ketimbang fisik.1 Pertanyaannya kemudian: apakah kita tikus nyata dalam kandang simulasi, atau tikus tersimulasi dalam kandang tersimulasi?
Menjadi "tikus nyata" di sini analog dengan situasi dalam film Matrix—kita punya tubuh material di dunia nyata tetapi terhubung ke realitas virtual.1 Pelarian berarti dicabut dari Matrix. Tentu saja, pengelola sistem mungkin mengambil tindakan pencegahan lebih baik daripada yang ditunjukkan dalam film. Kecuali mereka bersikap sportif dan memberi kita kesempatan.
Asumsi bahwa kita bisa bertahan di dunia nyata di luar simulasi (bukan, misalnya, di planet dengan atmosfer mematikan) membuat eksistensi di luar simulasi sebagai pribadi yang sama menjadi mungkin.1 Analoginya seperti menghentikan permainan video dan berjalan keluar. Anda tetap anda; hanya kini anda melihat hal-hal fisik yang nyata. Identitas personal metafisik anda di luar simulasi akan sama seperti di dalamnya.
Spinoza dan Ilusi Individualitas
Namun bagaimana jika kita adalah penghuni virtual sepenuhnya? Kekhawatiran kuncinya adalah hakikat eksistensi virtual kita. Pertanyaan untuk pelarian bermakna: apakah orang tersimulasi bisa melarikan diri, mempertahankan identitas personalnya, dan bertahan di luar simulasi?1
Individualitas kita mungkin hanya ilusi. Simulasi bisa seperti bagaimana Spinoza membayangkan dunia—segala sesuatu adalah Tuhan, dan setiap orang hanyalah mode dari Tuhan.1 Filsuf Yahudi yang dikucilkan ini memang punya pemikiran radikal tentang kesatuan eksistensi.2 Analogi kasarnya: bayangkan seprai dengan lipatan. Kita adalah lipatannya dan seprai adalah Tuhan. Tidak ada "kita" yang terpisah yang bisa melarikan diri dari seprai. Demikian pula, tidak akan ada kita yang bisa keluar dari simulasi.
Spinoza sendiri adalah tokoh Pencerahan yang kontroversial—pemikir Yahudi pada abad ke-17 yang dikucilkan komunitasnya sendiri karena ide-idenya.3 Treatise Theological-Political-nya yang diterbitkan anonim tahun 1670 dianggap buku paling berbahaya di zamannya.4
Skenario Pelarian yang Mungkin
Bisa jadi kita eksis sebagai individu dalam simulasi, mungkin sebagai objek terprogram.1 Dalam kasus ini, mungkin seorang individu bisa keluar dari simulasi—keluar ke sistem lain sebsemacam rogue program (program nakal), mirip film Wreck-It Ralph. Meski pribadi tersebut masih tidak berada di dunia fisik (jika ada), setidaknya mereka telah melarikan diri dari penjara simulasi itu. Tantangan praktisnya adalah mewujudkan pelarian ini.
Bahkan mungkin memperoleh tubuh fisik yang akan menjadi host kode yang menyusun pribadi tersebut.1 Ini bagian dari plot film Virtuosity—film aksi sci-fi tahun 1995 yang dibintangi Denzel Washington dan Russell Crowe.5 Film yang pada masanya dianggap menggelikan ini ternyata jauh mendahului zamannya dalam mengeksplorasi konsep virtual reality.6 Bahkan beberapa kritikus mengatakan Virtuosity membuka jalan bagi kesuksesan The Matrix empat tahun kemudian.5
Transisi dari simulasi ke dunia nyata memerlukan persyaratan khusus. Jika kode saya disalin ke cangkang fisik yang mengira dirinya saya, saya sebenarnya masih terjebak dalam simulasi.1 Saya tidak akan melarikan diri dengan cara ini—tidak lebih dari jika saya di penjara dan punya kembar yang berkeliaran bebas.
Kesimpulan: Nested Simulations dan Problem Abadi
Problem dunia eksternal tampaknya masih menghantui semua upaya pelarian. Secara spesifik, bahkan jika seseorang tampaknya telah menentukan ini adalah simulasi dan kemudian tampak berhasil keluar, pertanyaan akan tetap muncul: apakah mereka benar-benar bebas?1
Ini adalah plot twist standar dalam fiksi ilmiah—pelarian dari realitas virtual ternyata adalah realitas virtual juga. Episode "M. Night Shaym-Aliens!" dari Rick and Morty mengolok-olok ini dengan cemerlang.1 Juga terjadi dalam film horor seperti Nightmare on Elm Street, di mana karakter yang terjebak dalam mimpi buruk percaya mereka akhirnya terbangun di dunia nyata—padahal belum.
Dalam kasus simulasi, pelarian mungkin hanya pelarian tersimulasi. Dan sampai problem dunia eksternal diselesaikan, tidak ada cara untuk mengetahui apakah seseorang bebas atau masih menjadi tahanan. Ini adalah paradoks yang mengganggu namun menarik—bahwa upaya untuk membuktikan kebebasan kita justru mungkin bagian dari ketidakbebasan itu sendiri.
Daftar Pustaka
- LaBossiere, Michael. "The Simulation II: Escape." A Philosophers Blog, 21 November 2025. https://aphilosopher.drmcl.com/2025/11/21/the-simulation-ii-escape/
- ABC News. "The Jewish philosopher Spinoza was one of the great Enlightenment thinkers. So why was he 'cancelled'?" 3 Oktober 2020. https://www.abc.net.au/news/2020-10-04/17th-century-jewish-philosopher-spinoza-cancel-culture-comeback/12722826
- Brandeis University. "Spinoza's Challenge to Jewish Thought: Writings on His Life, Philosophy, and Legacy." 14 Maret 2019. https://www.brandeis.edu/tauber/publications/books/schwartz-spinoza.html
- Workers' Liberty. "Spinoza's ideas." 17 Oktober 2022. https://www.workersliberty.org/story/2022-10-18/spinozas-ideas
- IndieWire. "'Virtuosity' Walked So 'The Matrix' Could Run." 28 Januari 2025. https://www.indiewire.com/features/commentary/virtuosity-new-4k-restoration-influence-the-matrix-1235088203/
- Gizmodo. "Virtuosity Was Ridiculous in 1995, But Now It's a Blast." 4 Februari 2016. https://gizmodo.com/virtuosity-was-ridiculous-in-1995-but-now-its-a-blast-1757382708


