{!-- ra:00000000000003ea0000000000000000 --}Beban Tersembunyi 🌐 Penutur Non-Native English di Dunia Filosofi - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
Beban Tersembunyi 🌐 Penutur Non-Native English di Dunia Filosofi
24
September 2025

Beban Tersembunyi 🌐 Penutur Non-Native English di Dunia Filosofi

  • 10
  • 24 September 2025
Beban Tersembunyi 🌐 Penutur Non-Native English di Dunia Filosofi

Sebuah penelitian internasional baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan tentang tantangan yang dihadapi filosof yang bukan penutur asli bahasa Inggris (Non-Native English Speakers/NNES). Studi yg melibatkan lebih dari 1.600 responden dari seluruh dunia ini menunjukkan adanya kesenjangan signifikan dlm beban kerja dan partisipasi akademik antara penutur asli dan non-asli bahasa Inggris.

Beban Kerja Ganda untuk Filosof Non-Native

Hasil survei menunjukkan bahwa filosof NNES memerlukan waktu dua kali lipat lebih lama untuk membaca makalah berbahasa Inggris dibandingkan penutur asli 1. Temuan ini mengejutkan karena menunjukan betapa besar hambatan epistemik yg dihadapi komunitas filosofis non-Inggris. Untuk persiapan presentasi akademis, waktu yg dibutuhkan juga hampir dua kali lipat lebih panjang.

Dr. Uwe Peters dari Utrecht University, salah satu peneliti utama, menjelaskan bahwa bahkan filosof NNES dengan tingkat kemampuan bahasa Inggris tinggi (C1-C2) masih mengalami kendala substansial 2. Sekitar 60% dari mereka melaporkan pernah menghindari mengajukan pertanyaan di acara akademik karena kekhawatiran tentang kemampuan bahasa Inggris mereka, bandingkan dengan hanya 16% penutur asli.

Dampak Psikologis dan Sosial

Aspek yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak psikologis yg dialami. Hampir 50% filosof NNES melaporkan pernah merasa diejek karena aksen atau pelafalan bahasa Inggris mereka 3. Situasi ini tidak hanya menciptakan hambatan personal, tetapi juga berpotensi merugikan komunitas filosofis secara keseluruhan karena wawasan berharga mungkin tidak tersampaikan.

Yang mengejutkan, 90% responden NNES juga menyatakan bahwa penggunaan bahasa Inggris yang intensif dlm dunia akademik telah mengganggu kemampuan mereka berfilsafat dalam bahasa ibu mereka sendiri. Peters sendiri mengakui kesulitan menjelaskan penelitiannya dalam bahasa Jerman setelah hampir satu dekade bekerja di negara-negara berbahasa Inggris 4.

Perspektif Global: Colombia, China, dan Jepang

Juan Santos dari Bogota, Colombia, menekankan bahwa permasalahan ini terkait erat dengan kelas sosial ekonomi 5. Di Colombia, pendidikan bahasa Inggris seringkali menjadi penanda kekayaan dan status. NNES dari latar belakang sosial ekonomi tinggi biasanya memiliki akses ke pelatihan bahasa Inggris formal dan peluang yg lebih baik untuk mengasah keterampilan bahasa.

Sitian dari Nanning, China, menggambarkan bahasa Inggris akademik sebagai "paspor sekaligus beban" 6. Bahasa ini memberikan akses ke publikasi dan pengakuan internasional namun juga menimbulkan tekanan kognitif dan emosional. Bahkan pengguna bahasa Inggris yang terampil sering ragu berbicara dlm seminar, bukan karena kurang ide, tetapi karena merumuskannya dalam bahasa Inggris yg "tepat" membutuhkan waktu.

Tantangan Struktural di Asia

Kiichi dari Hiroshima, Jepang, menjelaskan kesulitan khusus yang dihadapi penutur asli bahasa Jepang 7. Meskipun kebanyakan orang mempelajari bahasa Inggris setidaknya selama enam tahun, banyak yg masih kesulitan dengan percakapan dasar, apalagi penulisan akademik. Filosof Jepang khususnya sering mengalami kesulitan menulis makalah dlm bahasa Inggris yg tepat tanpa bantuan layanan proofreading.

Untungnya, kemajuan teknologi AI seperti ChatGPT telah membuat praktik menulis dan berbicara bahasa Inggris jauh lebih mudah diakses. Beberapa sekolah di Jepang mulai menggunakan teknologi tersebut dalam pendidikan, yg mungkin membantu mengurangi hambatan epistemik yg dihadapi akademisi Jepang dlm dunia akademik global 8.

Penutur Asli Juga Mengalami Tantangan

Menariknya, banyak responden penutur asli bahasa Inggris juga melaporkan tantangan dengan bahasa Inggris akademik. Beberapa mencatat bahwa latar belakang kelas pekerja atau "first-gen", atau berbicara dengan aksen regional, membuatnya lebih sulit merasa nyaman di konferensi atau menulis dengan percaya diri dlm prosa akademik 9.

Bahasa Inggris akademik ternyata bukan hanya hambatan bahasa, tetapi juga dapat bertindak sebagai penanda kelas dan penjaga gerbang di dalam negara-negara berbahasa Inggris untuk penutur asli juga. Temuan ini menunjukan kompleksitas permasalahan yg tidak hanya berdimensi linguistik namun juga sosial-ekonomi.

Langkah ke Depan

Penelitian ini menyoroti bahwa meskipun bahasa Inggris dapat menyatukan filosof lintas benua, bahasa ini juga dapat memecah belah dengan menimbulkan tantangan berbeda bagi penutur asli dan non-asli, atau menekankan perbedaan kelas, regional, atau sosial lainnya 10. Bahasa Inggris akademik tidak netral - ia mengistimewakan suara tertentu, merugikan yg lain, dan mungkin membuat banyak filosof NNES kurang mampu berfilsafat dalam bahasa ibu mereka.

Jika kita menginginkan filsafat yg benar-benar global, adil, dan kondusif untuk mengejar kebenaran, kita perlu lebih sadar akan kerja tak terlihat yang diinvestasikan banyak filosof NNES untuk didengar. Mengakui ketidakseimbangan ini mungkin tidak cukup, tetapi ini adalah tempat yg menjanjikan untuk memulai transformasi menuju dunia filosofis yg lebih inklusif.

Kesimpulan

Studi komprehensif ini mengungkap realitas tersembunyi dlm dunia filosofis akademik dimana penutur non-asli bahasa Inggris menghadapi beban kerja yg secara signifikan lebih berat dan hambatan partisipasi yg substansial. Temuan menunjukan perlunya reformasi struktural dalam cara komunitas filosofis global berinteraksi dan menghargai kontribusi dari berbagai latar belakang linguistik. Masa depan filsafat yg inklusif memerlukan pengakuan eksplisit terhadap tantangan ini dan langkah konkret untuk menciptakan lingkungan akademik yg lebih adil bagi semua pemikir, terlepas dari bahasa ibu mereka.

Referensi

  • 1. Peters, U., Inarimori, K., Liu, S., & Santos-Castro, J. S. (2025). Epistemic Challenges Faced by Non-native English Speakers in Philosophy: Evidence from an International Survey. Review of Philosophy and Psychology. https://dailynous.com/2025/09/24/the-hidden-costs-of-being-a-non-native-english-speaker-in-philosophy-guest-post/
  • 2. ABC Education. (2021). Academic English: Linking words. https://www.abc.net.au/education/learn-english/academic-english-linking-words/13429736
  • 3. Gizmodo. (2023). AI Detectors Discriminate Against Non-Native English Speakers. https://gizmodo.com/ai-detectors-discriminate-against-non-english-speakers-1850622278
  • 4. Yahoo News Australia. (2023). Non-native English speaking scientists work much harder just to keep up, global research reveals. https://au.news.yahoo.com/non-native-english-speaking-scientists-200238364.html
  • 5. Leadership Nigeria. (2023). Teaching English In Asia As A Non-Native English Speaker. https://leadership.ng/teaching-english-in-asia-as-a-non-native-english-speaker/
  • 6. The Print. (2025). Science is leaving behind women, non-English speakers. We must level the field. https://theprint.in/science/science-is-leaving-behind-women-non-english-speakers-we-must-level-the-field/2747624/
  • 7. Gigazine. (2023). Sentences written by non-native English speakers are misidentified as "created by AI". https://gigazine.net/gsc_news/en/20230711-ai-discriminate-non-native-english-speakers
  • 8. Concordia University. (2022). Philosophy Speaker Series Schedule 2022-23. https://www.concordia.ca/cunews/artsci/philosophy/2022/08/25/philosophy-speaker-series-2022-23-schedule.html
  • 9. Inside Higher Ed. (2023). The 'Native Speaker' Fallacy. https://www.insidehighered.com/opinion/views/2023/08/18/stop-native-speaker-writing-advice-opinion
  • 10. MSN. (2025). Gender, language and income biases limit contributions to scientific, English-language journals. https://www.msn.com/en-us/news/world/gender-language-and-income-biases-limit-contributions-to-scientific-english-language-journals/ar-AA1MPZgu
Download PDF tentang Tantangan Epistemik Penutur No (telah di download 83 kali)
  • Beban Tersembunyi 🌐 Penutur Non-Native English di Dunia Filosofi
    Penelitian internasional terhadap lebih dari 1.600 filsuf mengungkap disparitas signifikan antara penutur asli dan non-asli bahasa Inggris dalam ranah filosofi akademik. Studi ini mengeksplorasi bagaimana dominasi bahasa Inggris akademik menciptakan hambatan epistemik yang sistematis, mempengaruhi partisipasi intelektual, dan mengancam keberagaman perspektif dalam diskursus filosofis global. Temuan menunjukkan bahwa penutur non-native English menghadapi beban kerja ganda, mengalami penurunan kepercayaan diri, dan kehilangan kemampuan berfilsafat dalam bahasa ibu mereka, sementara struktur akademik yang ada melanggengkan ketidakadilan linguistik dan sosioekonomik.
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan SEO paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.