University of Bern, Swiss – Proyek ambisius berjudul "How We Need to Think about Artificial Cognition" (Bagaimana Kita Perlu Berpikir tentang Kognisi Artifisial) yang dipimpin filosof Matthieu Queloz dari University of Bern menerima hibah senilai 1.619.334 franc Swiss atau setara lebih dari 2 juta dolar Amerika dari Swiss National Science Foundation1. Dana substansial ini akan mendukung penelitian lima tahun mulai 2027 hingga 2032.
Konsep Kognitif yang Paradoks
Queloz mengemukakan bahwa konsep kognitif kita saat ini menghadapi paradoks. "Konsep kognitif kita saat ini secara bersamaan tidak tergantikan namun tidak memadai; tidak tergantikan karena kita membutuhkan kekayaan kosakata kognitif untuk memandu kepercayaan dan pengambilan keputusan; tidak memadai karena mereka mengkodekan asumsi antropomorfik"1. Kalimat ini jadi landasan pemikiran proyek.
Masalahnya cukup gamblang sebenarnya. Ketika artificial intelligence (kecerdasan buatan) terintegrasi ke domain kritis, muncul pertanyaan fundamental tentang sejauh mana sistem ini harus dikonseptualisasikan dalam istilah kognitif1. Penelitian dari Tiongkok bahkan mengonfirmasi bahwa AI mampu membentuk kognisi setara manusia secara spontan2. Namun begitu, kosakata kognitif yang kita punya mengasumsikan pengalaman fenomenal dan otonomi rasional yang tidak dapat dipetakan secara rapi ke mesin.
Adaptasi Konseptual sebagai Solusi
Hipotesis panduan proyek ini menegaskan bahwa menyelesaikan ketegangan tersebut memerlukan adaptasi konseptual1. Tim peneliti harus memisahkan yang tidak tergantikan dari yang tidak memadai. Caranya? Dipandu oleh pemahaman tentang fungsi konsep-konsep ini sejak awal dan pemahaman teknis tentang mekanisme internal model AI.
Tiga case studies (studi kasus) mendasar akan dikerjakan: pembentukan konsep, pemahaman, dan penalaran1. Melalui pendekatan ini proyek bertujuan melakukan reverse-engineering (rekayasa balik) untuk menunjukkan bagaimana konsep dapat diadaptasi ke kognisi artifisial. Generativitas dalam bahasa dan kognisi juga menjadi fokus teoretis yang relevan dengan perkembangan AI kontemporer3.
Pendanaan dan Tim Penelitian
Dari total pendanaan, sebagian akan mengangkat postdoctoral fellows (peneliti pascadoktoral) dan mahasiswa PhD baru1. Ini strategi bagus untuk regenerasi peneliti muda di bidang filsafat AI. Proyek Queloz menjadi satu-satunya yang dipimpin filosof yang didanai dalam putaran hibah terkini – dari 40 proyek lain yang disetujui, semuanya bukan dari disiplin filsafat.
| Aspek 📋 | Detail ✅ |
|---|---|
| Pemimpin Proyek | Matthieu Queloz (Filosof, University of Bern) |
| Jumlah Hibah | 1.619.334 franc Swiss (~2 juta USD) |
| Sumber Dana | Swiss National Science Foundation |
| Periode Proyek | 2027-2032 (5 tahun) |
| Fokus Studi Kasus | Pembentukan konsep, pemahaman, penalaran |
| Tujuan Utama | Adaptasi konseptual untuk kognisi artifisial |
| Penerima Manfaat | Postdoctoral fellows dan mahasiswa PhD baru |
Implikasi untuk Masa Depan AI
Proyek ini akan mengklarifikasi apa yang kita peroleh dan risiko yang dihadapi dengan memperluas bahasa kognitif ke AI1. Lebih jauh, penelitian ini membantu menjembatani kesenjangan definisi antara filsafat dan machine learning (pembelajaran mesin). Perbedaan vital antara machine learning dan AI generatif perlu dipahami dengan lebih jernih4.
Perspektif Kognisi Mesin
Beberapa ahli memandang AI versus synthetic intelligence (kecerdasan sintetis) sebagai masa depan kognisi mesin5. Synthetic minds (pikiran sintetis) menciptakan realitasnya sendiri tanpa kesadaran, menurut analisis dari Forbes6. Namun ada juga kekhawatiran bahwa AI dapat mengancam pemikiran kritis dan mendalam7. Beberapa penelitian menunjukkan tugas berbantuan AI dapat mengurangi keterlibatan otak dan kreativitas – fenomena yang peneliti sebut sebagai "kemalasan metakognitif"8.
Meski demikian, Queloz menawarkan jalan tengah yang konstruktif. Dengan fondasi konseptual yang tepat, kita bisa berbicara tentang AI dengan cara yang rigorous (ketat) namun realistis dan membantu dalam menavigasi kompleksitas era baru ini1.
Kesimpulan
Proyek artificial cognition (kognisi artifisial) ini menandai langkah signifikan dalam filsafat AI. Dengan pendanaan besar dan pendekatan sistematis melalui tiga studi kasus fundamental, Queloz dan timnya akan menghasilkan kerangka konseptual yang diperlukan untuk memahami kognisi mesin tanpa jatuh ke antropomorfisme yang tidak tepat. Penelitian lima tahun ini berpotensi mengubah cara kita memahami dan berinteraksi dengan sistem AI di masa mendatang.
Daftar Pustaka
- Weinberg, J. (2025, 5 Desember). Large Grant for Artificial Cognition Project. Daily Nous. https://dailynous.com/2025/12/05/large-grant-for-artificial-cognition-project/
- Chinese scientists confirm AI capable of spontaneously forming human-level cognition. (2025, 10 Juni). Global Times. https://www.globaltimes.cn/page/202506/1335801.shtml?id=11
- Generativity in language, cognition, and artificial intelligence. Theoretical convergences and emerging paradigms. (2025, 18 April). Fabula. https://www.fabula.org/actualites/127156/generativity-in-language-cognition-and-artificial-intelligence-theoretical-convergences-and-emerging-paradigms.html
- Marr, B. (2024, 24 Juni). The Vital Difference Between Machine Learning And Generative AI. Forbes. https://www.forbes.com/sites/bernardmarr/2024/06/25/the-vital-difference-between-machine-learning-and-generative-ai/
- AI vs SI: The future of machine cognition. (2025, 23 Oktober). Newsday. https://www.newsday.co.zw/theindependent/opinion/article/200047632/ai-vs-si-the-future-of-machine-cognition
- Chilakapati, G. (2025, 25 April). Synthetic Minds: How AI Is Creating Its Own Reality Without Consciousness. Forbes. https://www.forbes.com/councils/forbestechcouncil/2025/04/25/synthetic-minds-how-ai-is-creating-its-own-reality-without-consciousness/
- Is artificial intelligence a threat to critical thinking? (2025, 25 Februari). Free Malaysia Today. https://www.freemalaysiatoday.com/category/leisure/2025/02/27/is-artificial-intelligence-a-threat-to-critical-thinking
- The Cognitive Revolution: Bryan Wu makes the case for the future of AI. (2025, 1 Desember). The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/culture/2025/12/02/the-cognitive-revolution-bryan-wu-makes-the-case-for-the-future-of-ai.html


