Ben Lorica mengungkapkan paradoks menarik dalam adopsi kecerdasan buatan (AI). Demo spektakuler—model yang mampu menulis lagu dari prompt teks, agen yang merencanakan dengan mudah—namun mayoritas inisiatif GenAI (Generative AI) perusahaan gagal memberikan dampak bisnis terukur.1 "Prototype purgatory" menjadi jebakan: proof-of-concept mengesankan, tapi tidak pernah masuk produksi. Masalahnya bukan kekuatan model, melainkan "learning gap" di mana alat generik gagal beradaptasi dengan workflow enterprise yang berantakan.
Shadow AI Economy dan Kesenjangan Implementasi
Fenomena menarik terjadi. Karyawan diam-diam menggunakan akun ChatGPT pribadi untuk menyelesaikan pekerjaan.2 Permintaan grassroots untuk AI sangat kuat—tapi solusi top-down yang ambisius justru gagal memenuhinya. Ini bukan masalah algoritma AI. Kompleksitas foundational lingkungan enterprise menjadi hambatan utama, mirip dengan tantangan dalam enterprise search.
Sistem agentic AI sering menjadi "black box" yang sulit di-debug.3 Performanya menurun tak terduga saat menghadapi custom tools. Mereka kekurangan memori, kesulitan generalisasi. Kegagalan bukan karena kecerdasan AI-nya—tapi karena sistem di sekitarnya rapuh. Tantangannya bergeser: dari menyempurnakan prompt ke membangun sistem yang resilient dan verifiable.
Kekuatan Strategis dari Memulai Kecil
Solusi paling efektif? Counterintuitive. Daripada membangun sistem kompleks yang mencakup segalanya, tim AI harus mempersempit fokus secara dramatis—think smaller.4 Konsep lama dari dunia startup muncul kembali: "wedge" (irisan). Produk awal yang sangat fokus menyelesaikan satu masalah spesifik dan menyakitkan untuk satu user atau tim kecil. Dan melakukannya dengan sangat baik.
| Strategi 📋 | Deskripsi | Manfaat Utama |
|---|---|---|
| Single-Player Start | Buat sesuatu yang langsung berguna untuk satu orang | Feedback cepat, iterasi gesit |
| Hero Users | Target karyawan berpengaruh yang sudah pakai shadow AI | Champion internal, adopsi organik |
| Messy Inbox | Identifikasi bottleneck manual data-entry yang menyakitkan | Value langsung terasa, wedge opportunity |
| Virtuous Cycle | Penggunaan sehari-hari generate data unik untuk AI | Improvement berkelanjutan, moat data |
| System of Action | Jangan hanya analisis—selesaikan pekerjaan, kuasai workflow | Indispensable, switching cost tinggi |
| Reliability Over Capability | Tool sederhana yang bulletproof vs agen powerful tapi fragile | Trust building, kredibilitas cepat |
| Data Trojan Horse | Aplikasi dengan utilitas langsung yang capture data proprietary | Network effect, defensibility jangka panjang |
Mencari Hero Users yang Tepat
Kuncinya bukan sekadar menemukan masalah kecil—tapi menemukan orang yang tepat. "Hero users" adalah karyawan berpengaruh yang diberdayakan untuk keluar dari script standar demi menyelesaikan masalah mereka sendiri.5 Pikirkan sales ops manager yang menghabiskan setengah harinya membersihkan data lead. Atau customer success lead yang secara manual mengkategorikan setiap support ticket. Mereka adalah shadow AI economy Anda—sudah menggunakan consumer tools karena solusi resmi tidak cukup baik. Build untuk mereka dulu.
Pendekatan ini bekerja sangat baik untuk AI karena mengatasi tantangan fundamental: kepercayaan. Produk wedge menciptakan tight feedback loop dengan kelompok user inti, memungkinkan Anda membangun kredibilitas dan menyempurnakan sistem dalam lingkungan terkontrol.6 Ini tentang menyelesaikan cold-start problem untuk kepercayaan pada sistem AI dalam organisasi, bukan hanya untuk network effects.
Dari Passive Record ke Active Agent
Pergeseran fundamental dalam enterprise software. Selama puluhan tahun, tujuannya menjadi "System of Record"—database otoritatif seperti Salesforce atau SAP yang menyimpan informasi kritis. AI mengubah medan pertempuran.7 Hadiah hari ini adalah menjadi "System of Action"—lapisan intelligent yang tidak hanya menyimpan data tapi aktif melakukan pekerjaan dengan mengotomasi seluruh workflow.
Strategi Data Trojan Horse
Cara paling powerful untuk membangun? Melalui strategi "Data Trojan Horse". Anda menciptakan aplikasi yang memberikan utilitas langsung dan, dalam prosesnya, menangkap aliran data proprietary yang unik.8 Ini menciptakan siklus virtuos: tool mendorong adopsi, penggunaan menghasilkan data unik, data ini melatih AI Anda, produk yang ditingkatkan menjadi indispensable. Anda membangun parit bukan dengan model yang terkomodifikasi—tapi dengan workflow-specific intelligence yang berkembang seiring waktu.
Contoh konkret: "messy inbox problem." Setiap organisasi punya workflow yang dimulai dengan influx kacau informasi tak terstruktur—email, PDF, voice messages. Tool AI yang mengotomasi langkah pertama yang menyakitkan ini dengan mengekstrak, menstrukturkan, dan routing informasi memberikan value langsung.9 Dengan memiliki proses top-of-funnel kritis ini, Anda mendapat hak untuk mengorkestrasi semua yang downstream. Anda tidak berkompetisi dengan System of Record—Anda menginterceptnya.
ServiceNow sebagai Master Class
ServiceNow memposisikan diri bukan sebagai pengganti sistem inti seperti CRM atau ERP tapi sebagai orchestration layer—"System of Action"—yang duduk di atasnya.10 Value propositionnya: menghubungkan sistem disparate dan mengotomasi workflow lintas sistem tanpa memerlukan "rip and replace" software legacy yang mahal. Ini master class dalam menjadi intelligent fabric organisasi. Platform players sedang bundling kapabilitas "cukup baik" ke offering inti mereka—tool AI Anda harus lebih dari wrapper API.
Kesimpulan
Jalan dari prototype purgatory ke produksi melewati fokus strategis. Emirates Group berkolaborasi dengan OpenAI untuk akselerasi adopsi AI,11 sementara Indosat mempromosikan adopsi AI aman di universitas untuk ekosistem smart-campus.12 Di era ini, value bermigrasi dari sekadar memegang data ke bertindak secara intelligent atasnya. Tim yang sukses bukan yang mengejar model paling advanced—tapi yang mulai dengan masalah satu Hero user, menangkap data unik melalui focused agent, dan ekspansi tanpa henti dari beachhead tersebut.
Daftar Pustaka
- Lorica, B. (2025, 5 November). Think Smaller: The Counterintuitive Path to AI Adoption. O'Reilly Media. https://www.oreilly.com/radar/think-smaller-the-counterintuitive-path-to-ai-adoption/
- Ibid.
- Ibid.
- Ibid.
- Ibid.
- Ibid.
- Ibid.
- Ibid.
- Ibid.
- Ibid.
- Air Cargo Week. (2025, 21 November). Emirates Group collaborates with OpenAI to accelerate AI adoption and innovation. https://aircargoweek.com/emirates-group-collaborates-with-openai-to-accelerate-ai-adoption-and-innovation/
- Jakarta Globe. (2025, 18 November). Indosat Champions Digital Talent and Data Security in Higher-Education AI Adoption. https://jakartaglobe.id/special-updates/indosat-champions-digital-talent-and-data-security-in-highereducation-ai-adoption







