Dalam era dominasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), mahasiswa semakin tergoda menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan tugas kreatif mereka. Namun, seorang profesor dari American Philosophical Association (APA) menyerukan pentingnya menjaga kreativitas manusia yg tak bisa digantikan oleh teknologi1.
Dr. Lindsay Brainard dlm suratnya kepada mahasiswa menegaskan bahwa kreativitas manusia memiliki nilai epistemic yg unik. "Setiap kali seseorang berhasil menjadi kreatif dalam seni atau domain lain, mereka belajar sesuatu," tulisnya2. Pernyataan ini didukung oleh fakta bahwa industri kreatif modern sedang menghadapi tantangan besar dari teknologi AI.
Dampak AI pada Pembelajaran Kreatif
Proses pembelajaran melalui kreativitas berbeda secara fundamental dengan konsumsi konten AI. Ketika mahasiswa menulis puisi sendiri, mereka melakukan kurasi kreatif terhadap pengalaman pribadi dan membuat penilaian estetik3. Ini sejalan dengan argumen Immanuel Kant bahwa keindahan yg kita rasakan sebagian merupakan respons terhadap objek dan sebagian bergantung pada kreativitas kita sendiri.
Berbeda halnya ketika ChatGPT diminta menulis tentang kegembiraan kelulusan SMA dan menghasilkan kalimat "topi terbang seperti burung terkejut saat kita melompat ke langit masa depan." Kalimat ini mungkin sesuai dengan perasaan, tetapi tidak revelatory - tidak mengungkapkan bagaimana seseorang melihat momen tersebut4.
Kreativitas sebagai Jalan Memahami Diri
Salah satu aspek terpenting dari kreativitas adalah kemampuannya dalam self-disclosure atau pengungkapan diri. Gary Watson melalui konsep attributability menekankan bahwa tindakan kreatif "tidak bisa dihindari adalah milik kita sendiri"5. Hal ini kontras dengan hasil AI yg tidak memungkinkan seseorang belajar tentang diri mereka secara khusus.
Jordan MacKenzie menjelaskan bahwa mengenal diri sendiri melibatkan pengetahuan tentang nilai-nilai, karakter, kemampuan, perasaan, dan keyakinan kita6. Praktik kreatif yg konsisten dari waktu ke waktu dapat membuat seseorang melihat diri mereka dlm sudut pandang baru.
Pengalaman Harmoni dalam Kreativitas
Thi Nguyen menggambarkan "keharmonisan antara diri dan tantangan" yg dapat dialami pemain catur ketika menemukan langkah elegan. Pengalaman serupa dapat dirasakan dalam pencapaian artistik kreatif7. Jika ChatGPT yang menjadi komposer puisi, mahasiswa tidak akan bangkit menghadapi tantangan dan secara kreatif memenuhi tantangan bentuk seni tersebut.
Kreativitas Memungkinkan Koneksi Bermakna
Kreativitas memiliki nilai khusus dalam memfasilitasi koneksi manusia karena sangat revelatory tentang siapa sebenarnya kita. Ini karena kreativitas selalu menghasilkan pembelajaran dan melibatkan rasa ingin tahu yg genuine8.
Lani Watson mengusulkan tes untuk menentukan apakah rasa ingin tahu seseorang asli: "Secara umum, tidak tepat menganggap seseorang penasaran tentang X jika mereka menolak informasi tentang X tanpa biaya"9.
Keterbatasan AI dalam Koneksi Emosional
Simon Pegg, aktor dan penulis skenario, menjelaskan mengapa AI tidak dapat menciptakan seni yg bermakna: "AI tidak pernah mengalami trauma masa kecil, tidak pernah punya pacar atau patah hati. AI tidak pernah mengalami apapun yg akan memberinya dorongan untuk menciptakan seni"10.
Pernyataan Pegg ini menggarisbawahi fakta bahwa AI, meskipun mampu meniru produk kreativitas manusia, tidak memiliki kepribadian atau pengalaman untuk ditarik dalam menciptakan seni. Akibatnya, AI tidak dapat memungkinkan pengalaman koneksi manusia yg ditawarkan seni ketika beresonansi dengan kita.
Tantangan Era Digital
Industri kreatif saat ini menghadapi transformasi besar akibat AI generatif. Perusahaan media menyadari bahwa AI dapat menghemat waktu tetapi tidak dapat menggantikan kreativitas manusia11. Chief innovation officer Dotdash Meredith menyatakan bahwa dengan lebih banyak konten "rata-rata" buatan mesin, premium pada konten buatan manusia akan meningkat.
Fenomena ini juga terlihat dlm dunia marketing dimana agency harus berevolusi dari operasi bertenaga AI menjadi operasi AI-native sambil tetap mempertahankan kolaborasi manusia-agent12.
Kesimpulan
Meskipun AI terus mengembangkan kemampuan dalam meniru kreativitas manusia, nilai intrinsik dari proses kreatif manusia tetap tidak tergantikan. Kreativitas manusia tidak hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga tentang pembelajaran, pemahaman diri, dan membangun koneksi bermakna dengan orang lain. Seperti yg ditekankan Dr. Brainard, mahasiswa yg memilih untuk tetap kreatif akan "memberikan orang lain kesempatan untuk terhubung" dengan mereka.
Referensi
- American Philosophical Association. (2025, September 12). Step Away from the Chatbot: a Letter to a Student about AI and Creativity. Blog of the APA. https://blog.apaonline.org/2025/09/12/step-away-from-the-chatbot-a-letter-to-a-student-about-ai-and-creativity/
- Brainard, L. (2025). Creativity and epistemic value in artistic creation. Living Debates in Aesthetics.
- Walden, K., & Kant, I. (2025). Aesthetic judgment and creative participation in beauty perception.
- ChatGPT-Generated Poetry Examples. (2025). Creative writing assignment responses.
- Watson, G. (2025). Attributability and creative self-disclosure theory.
- MacKenzie, J. (2025). Self-knowledge and creative practice development.
- Nguyen, T. (2025). Harmony between self and challenge in creative games.
- Curiosity and Creative Learning Research. (2025). Genuine inquiry in artistic practice.
- Watson, L. (2025). Tests for determining authentic curiosity in learning.
- Pegg, S. (2023). Writers Guild of America strike interview on AI limitations.
- Newsweek. (2025, September 10). Media companies know AI saves time but can't replace human creativity. https://www.newsweek.com/nw-ai/media-companies-using-artificial-intelligence-ai-impacts-trends-2037279
- Forbes. (2025, September 12). The rise of Agentic AI and its disruptive impact on marketing agencies. https://www.msn.com/en-in/technology/artificial-intelligence/the-rise-of-agentic-ai-and-its-disruptive-impact-on-marketing-agencies/ar-AA1MsJ2s

