{!-- ra:00000000000003ec0000000000000000 --}Metafora AI 🧠 Membentuk Persepsi Publik Global - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
Metafora AI 🧠 Membentuk Persepsi Publik Global
17
November 2025

Metafora AI 🧠 Membentuk Persepsi Publik Global

  • 6
  • 17 November 2025
Metafora AI 🧠 Membentuk Persepsi Publik Global

Konferensi Hype Studies pertama di Barcelona pada September 2025 mengungkap bagaimana metafora visual dan naratif membentuk pemahaman masyarakat terhadap teknologi Artificial Intelligence (kecerdasan buatan)1. Workshop "Exploring Metaphors of AI: Visualisations, Narratives and Perception" mempertemukan peneliti, seniman, dan praktisi teknologi untuk mengkaji dampak metafora terhadap ekspektasi publik yang berlebihan.

Penelitian Stanford: 12.000 Metafora Publik

Myra Chen dari Stanford University memaparkan riset tentang persepsi publik Amerika melalui 12.000 metafora yang dikumpulkan selama 12 bulan2. Peserta diminta melengkapi kalimat "AI is like ______". Hasilnya? Ditemukan 20 metafora dominan dengan alat, otak, dan pencuri sebagai yang paling menonjol, masing-masing mencakup sekitar 10% dari total metafora.

Yang mengejutkan adalah pergeseran persepsi dalam satu tahun. Tahun 2023, saat ChatGPT menjadi mainstream (umum digunakan), metafora dominan adalah komputer, mesin pencari, dan sintesizer – semuanya tinggi dalam kompetensi namun rendah dalam kehangatan3. Setahun kemudian, metafora berubah menjadi asisten, teman, dan guru yang lebih hangat dan mirip manusia. Ini menunjukkan intensifikasi antropomorfisme (pemberian sifat manusia) dan kehangatan dalam persepsi AI.

Metafora 🎯AntropomorfismeKehangatanKompetensiDampak Kepercayaan
AsistenTinggiTinggiTinggiSangat Positif
Mesin PencariRendahRendahTinggiNetral
PencuriSedangRendahRendahNegatif
HewanSedangTinggiRendahNetral-Positif
TuhanTinggiBervariasiTinggiSangat Tinggi
PerpustakaanRendahSedangTinggiPositif
GuruTinggiTinggiTinggiSangat Positif

Perbedaan Demografis Signifikan

Analisis lebih lanjut menemukan perbedaan demografis menarik4. Perempuan dan individu non-binary (non-biner) cenderung kurang mempercayai AI dan memandangnya kurang kompeten serta kurang hangat. Sebaliknya, orang tua justru lebih mempercayai AI dan lebih banyak melakukan antropomorfisme. Temuan ini penting untuk memahami bagaimana identitas sosial membentuk interaksi manusia-AI dan mengatasi dampak AI pada kelompok rentan dan termarginalisasi.

Dekonstruksi Naratif AI yang Menyesatkan

Rainer Rehak dari Weizenbaum Institut menganalisis naratif AI melalui lensa informatika kritis, studi data dan algoritma, serta teori perlindungan data5. Dia mengidentifikasi tiga tipe AI: AI Lemah (dirancang untuk tugas spesifik, termasuk AI generatif), AI Kuat atau AGI (Artificial General Intelligence) yang mampu belajar mandiri dan berpikir abstrak (belum ada hingga kini), dan AI Zeitgeist – istilah usulannya untuk penggunaan AI yang samar dan bisa berarti apa saja.

Rehak membongkar beberapa naratif menyesatkan. Tentang keputusan dan otonomi, dia menjelaskan bahwa untuk membuat keputusan, aktor harus memiliki alternatif pilihan, tanggung jawab, intensi, dan model internal dunia – namun tidak ada satupun yang dimiliki sistem AI6. Sistem AI bisa memberikan respons berbeda, tetapi hanya sebagai hasil keacakan statistik.

Kasus Penggunaan yang Mengecewakan

Rehak mengilustrasikan konsekuensi dengan use case (kasus penggunaan) konkret. Untuk meringkas teks, AI justru menghasilkan ringkasan yang memerlukan lebih banyak koreksi manusia, lebih memakan waktu daripada meringkas dari awal7. Studi pemerintah Australia menemukan bahwa ringkasan AI memerlukan lebih banyak pekerjaan, bukan lebih sedikit. Untuk chatbot, sebuah maskapai Kanada harus bertanggung jawab karena chatbot-nya memberikan saran buruk kepada penumpang.

Metafora Alternatif untuk Literasi Kritis

Anuj Gupta (University of South Florida) dan Yasser Atef (American University in Cairo) mengembangkan kerangka multiliteracy (multiliterasi) untuk AI8. Mereka menggunakan digital collaborative autoethnography (autoetnografi kolaboratif digital) dan mengumpulkan metafora dari literatur, media, blog, dan percakapan. Paper mereka telah diunduh lebih dari 6.000 kali.

Mereka merancang grafik dengan dua sumbu: satu untuk kemiripan manusia (dari sangat mirip manusia hingga non-manusia) dan satunya untuk kerangka multiliterasi (fungsional, kritis, retoris). Misalnya, helper (pembantu) adalah manusiawi dan fungsional, sementara stochastic parrot (burung beo stokastik) adalah semi-manusia dan mewakili pandangan kritis terhadap AI9.

Lima Kluster Metafora Visual Baru

Leo Lau dari Mixed Initiative Hong Kong mengidentifikasi lima kluster metafora alternatif10:

  • Tidak sempurna, terdistorsi, rekursif: Cermin yang selalu memantulkan balik atau mendistorsi realitas, seperti rear mirror atau distorted mirror.
  • Tekno-modernitas, kemahakuasaan: "AI sebagai listrik baru" atau "AI sebagai plastik", dibangun di atas metafora "data sebagai minyak baru". Wheels in progress menggambarkan tangan kapitalis menjalankan roda mouse komputer.
  • Pertumbuhan, alam, kehidupan: Entitas biologis seperti hewan, kekacauan, bonsai, anjing, monyet mengetik, dan stochastic parrot at work yang memodifikasi kritik menjadi lebih positif.
  • Kosmik, mitos, esoterik, monster: Tuhan (serba tahu dan kuat), Ouija board (papan ouija) dengan banyak tangan berbagi ilusi agensi, walking hand, dan parasit.
  • Eksplorasi, peluang, permainan:New frontier (perbatasan baru) menunjukkan industri AI yang tidak teregulasi, sementara slot machine dan playing dice mengacu pada perjudian dan LLM sebagai permainan probabilitas.

Kesimpulan

Workshop ini mendemonstrasikan bahwa bahasa yang digunakan untuk mendeskripsikan AI tidak sekadar fungsional, tetapi secara fundamental membentuk pengembangan teknologi, persepsi publik, dan dampak sosial11. Semua kontributor menunjukkan bagaimana sebagian besar metafora AI saat ini dapat merusak atau mendistorsi persepsi masyarakat terhadap AI. Ketika perusahaan teknologi mempromosikan framing metaforis yang membuat AI tampak membantu, cerdas, atau mirip manusia, mereka tidak hanya menciptakan siklus hype tetapi juga mendorong orang untuk mempercayai dan mengadopsi AI tanpa mempertanyakan keterbatasan, bias, atau dampak dunia nyata.

Namun, ada catatan optimis karena semua kontributor menekankan pentingnya membangun metafora baru untuk membantu orang berinteraksi dengan AI secara lebih seimbang, terinformasi, dan sehat. Tantangan ke depan adalah menciptakan representasi AI yang beragam, akurat, dan realistis, sambil secara bersamaan membekali orang dengan keterampilan berpikir kritis yang diperlukan untuk terlibat secara bijaksana dengan teknologi tersebut.

Daftar Pustaka

  • Pusceddu, C. (2025, November 17). Review of "Exploring metaphors of AI: visualisations, narratives and perception". AIhub. https://aihub.org/2025/11/17/review-of-exploring-metaphors-of-ai-visualisations-narratives-and-perception/
  • Ibid.
  • Loc. Cit.
  • Op. Cit.
  • Ibid.
  • Loc. Cit.
  • Op. Cit.
  • Ibid.
  • Loc. Cit.
  • Op. Cit.
  • Ibid.
Download PDF tentang Analisis Metafora AI: Dampak V (telah di download 20 kali)
  • Metafora AI 🧠 Membentuk Persepsi Publik Global
    Konferensi Hype Studies pertama di Barcelona pada September 2025 mengungkap bagaimana metafora visual dan naratif membentuk pemahaman masyarakat terhadap teknologi Artificial Intelligence (kecerdasan buatan).
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan ai paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.