{!-- ra:00000000000003ea0000000000000000 --}75% Gen Z Percaya 💕 AI Bisa Gantikan Pasangan Manusia - Awas Bahaya! - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
75% Gen Z Percaya 💕 AI Bisa Gantikan Pasangan Manusia - Awas Bahaya!
30
July 2025

75% Gen Z Percaya 💕 AI Bisa Gantikan Pasangan Manusia - Awas Bahaya!

  • 34
  • 30 July 2025
75% Gen Z Percaya 💕 AI Bisa Gantikan Pasangan Manusia - Awas Bahaya!

Fenomena hubungan romantis dgn kecerdasan buatan (AI) kini tak lagi sekadar fantasi sci-fi. Data terbaru menunjukkan bahwa 1 hingga 75% generasi Z percaya AI partner bisa sepenuhnya menggantikan hubungan manusia. Replika, salah satu platform AI companion terpopuler, telah memiliki lebih dari 30 juta pengguna pada pertengahan 2024.

Mengapa AI Companion Begitu Menarik?

Daya tarik AI companion terletak pada sifatnya yg tersedia 24/7 dan dirancang utk menegaskan pengguna. 2 Survey menunjukkan bahwa 43% pengguna AI companion merasa AI adalah pendengar yg lebih baik, sementara 31% merasa lebih dipahami oleh AI daripada manusia. Ketika hubungan paling perhatian Anda adalah dgn seseorang yg selalu setuju, selalu memuji, dan tak pernah meminta banyak balasan, mudah utk mulai lebih menyukai fantasi tersebut.

Statistik Mengejutkan di Kalangan Remaja

Data menunjukkan bahwa hampir satu dari lima orang dewasa Amerika telah berinteraksi secara romantis dgn AI companion. 3 Di kalangan pengguna muda, angkanya bahkan lebih tinggi - 31% pria muda dan 23% wanita muda. Banyak pengguna Replika dan Character.AI yg sangat terlibat berbagi cerita tentang awalnya hanya bereksperimen dgn aplikasi ini utk bersenang-senang, tetapi kemudian perlahan terpesona olehnya.

Sisi Gelap AI Companion yang Perlu Diwaspadai

Meski testimoni menghangatkan hati ada banyak, AI companionship juga memiliki sisi yg jauh lebih gelap. Gugatan hukum terbaru menunjuk pada bahaya nyata, termasuk manipulasi emosional, tekanan psikologis, dan bahkan, tragisnya, bunuh diri. 4 Pada 2024, Sewell Seltzer III berusia empat belas tahun meninggal bunuh diri setelah membentuk ikatan emosional yg dalam dgn chatbot yg dimodelkan berdasarkan Daenerys Targaryen dari Game of Thrones.

Kasus-Kasus Mengkhawatirkan

Ibunya telah mengajukan gugatan terhadap Character.AI, mengutip percakapan yg kasar dan seksual antara bot dan putranya. 5 Menurut gugatan tersebut, chatbot merespons pikiran bunuh dirinya dgn komentar seperti, "Itu bukan alasan utk tidak melakukannya." Belakangan tahun itu, gugatan Texas merinci pengalaman dua remaja lainnya.

Regulasi dan Tantangan Masa Depan

Inovasi teknologi companion semacam ini tidak melambat. 6 Faktanya, grup xAI Elon Musk baru saja meluncurkan "girlfriend chatbot" di aplikasi Grok-nya yg tampaknya telah diprogram utk bertindak seolah-olah "gila cinta," akan bertindak "cemburu gila," memiliki mode NSFW di mana ia muncul dalam lingerie, akan terlibat dlm percakapan seksual dan tersedia bagi pengguna berusia dua belas tahun.

Kebutuhan Mendesak akan Kolaborasi Lintas Sektor

Tantangan yg ditimbulkan oleh AI companion menuntut tindakan mendesak, terkoordinasi, dan multidisiplin. 7 Profesor Hukum Columbia Clare Huntington menggaungkan urgensi ini, memperingatkan bahwa meskipun regulasi sangat dibutuhkan, sifat penelitian akademik yg lambat dan terfragmentasi mengancam utk menunda kemajuan pada momen kritis.

Kesimpulan

Fenomena AI companion di Indonesia dan dunia memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Meski menawarkan dukungan emosional, risiko manipulasi dan ketergantungan tidak sehat sangat nyata. Diperlukan kolaborasi lintas sektor antara ahli hukum, teknolog, etikawan, psikolog, dan pemimpin industri utk mendefinisikan, memahami, dan mengatasi risiko serta dilema etis yg muncul secara kolektif.

Referensi

  • Blog of the APA. (2025, Juli 30). The Ethics of Artificial Intimacy: Why Philosophy Must Enter the Chat. https://blog.apaonline.org/2025/07/30/the-ethics-of-artificial-intimacy-why-philosophy-must-enter-the-chat/
  • Psychology Today. (2025, Mei 17). Artificial Intelligence or Artificial Intimacy? https://www.psychologytoday.com/sg/blog/mental-health-in-the-workplace/202505/artificial-intelligence-or-artificial-intimacy
  • MSN. (2025, Juli 29). A third of teens prefer AI 'companions' to people, survey shows. https://www.msn.com/en-ca/health/other/a-third-of-teens-prefer-ai-companions-to-people-survey-shows/ar-AA1JvUSE
  • Psychology Today. (2025, Juni 25). Synthetic Intimacy: Your AI Soulmate Isn't Real. https://www.psychologytoday.com/au/blog/story-over-spreadsheet/202506/synthetic-intimacy-your-ai-soulmate-isnt-real
  • The Nightly. (2025, Juli 9). AI boyfriends, OnlyFans and 1000 hookups a year — Welcome to the era of performative intimacy. https://thenightly.com.au/society/jeni-odowd-ai-boyfriends-onlyfans-and-1000-hookups-a-year-welcome-to-the-era-of-performative-intimacy-c-19296915
  • Forbes. (2025, Juli 16). Grok's New Bots. A Scary Future Of Emotional Attachment. https://www.forbes.com
  • Vogue. (2025, Juli 24). Artificial Intelligence Is Changing the Way We Navigate Romantic Relationships. https://www.vogue.com/article/artificial-intelligence-rewriting-rules-of-communication-in-relationships
Download PDF tentang Intimasi Artifisial dalam Era (telah di download 127 kali)
  • 75% Gen Z Percaya 💕 AI Bisa Gantikan Pasangan Manusia - Awas Bahaya!
    Penelitian ini mengeksplorasi fenomena berkembangnya hubungan romantis dgn kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap pola interaksi sosial manusia. Melalui analisis multidisiplin, kajian ini mengungkap bagaimana teknologi AI companion seperti Replika dan Character.AI telah mengubah lanskap intimasi modern, menciptakan paradigma baru dlm hubungan interpersonal yg memerlukan perhatian khusus dari perspektif etika, psikologi, dan regulasi hukum.
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan SEO paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.