Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) sedang mengubah wajah peperangan modern secara fundamental. Helen Warrell dari Financial Times dan James O'Donnell dari MIT Technology Review mengungkapkan bahwa teknologi AI telah melampaui tahap eksperimental dan kini menjadi komponen krusial dalam strategi militer dunia1. Transformasi ini mencakup tiga area utama: perencanaan logistik, perang siber (cyber warfare), dan penargetan senjata.
Skenario Masa Depan dan Realitas Saat Ini
Bayangan invasi Taiwan oleh China pada Juli 2027 menggambarkan potensi mengerikan AI dalam konflik masa depan1. Drone otonom dengan kemampuan penargetan AI, serangan siber yang dihasilkan AI, dan kampanye disinformasi masif menjadi senjata utama. Namun Anthony King dari University of Exeter berpendapat bahwa "otomatisasi penuh perang hanyalah ilusi"—AI lebih berperan meningkatkan wawasan militer ketimbang menggantikan manusia sepenuhnya1.
Aplikasi AI di Medan Perang
Pasukan Ukraina menggunakan perangkat lunak AI untuk mengarahkan drone yang mampu menghindari jammer Rusia saat mendekati lokasi sensitif1. Sementara itu, Israel Defense Forces mengembangkan sistem pendukung keputusan berbasis AI bernama Lavender yang telah mengidentifikasi sekitar 37.000 target potensial di Gaza. Seorang perwira intelijen Israel mengklaim memiliki lebih banyak kepercayaan pada "mekanisme statistik" AI daripada penilaian tentara yang berduka1.
| Negara 🌍 | Teknologi AI ⚙️ | Aplikasi 🎯 | Status 📊 |
|---|---|---|---|
| Ukraina | Drone AI Anti-Jammer | Penghindaran sistem elektronik musuh | Aktif digunakan |
| Israel | Sistem Lavender | Identifikasi target manusia | 37.000+ target teridentifikasi |
| Jerman | Helsing Cirra AI | Electronic warfare Eurofighter EK | Dipilih November 20252 |
| Malaysia | Cyber Command AI | Pertahanan siber dan elektronik | Diluncurkan Desember 20253 |
| Amerika Serikat | OpenAI-Anduril Partnership | Sistem penangkal drone | Kontrak ditandatangani 20241 |
| China | Wing Loong X Drone | Pemburu kapal selam otonom | Diluncurkan Dubai Airshow 20254 |
| India | Kaala Bhairava Drone | Pesawat tempur AI MALE | Medali perak ARCA 20255 |
Pergeseran Sikap Perusahaan Teknologi
Tahun 2024 menandai titik balik dramatis. OpenAI yang awalnya melarang tegas penggunaan alatnya untuk peperangan, pada akhir tahun menandatangani kesepakatan dengan Anduril untuk membantu menangkal drone di medan perang1. Perubahan sikap ini didorong dua faktor utama.
Pertama, hype teknologi. AI dijanjikan tidak hanya membawa superinteligensi dan penemuan ilmiah, tetapi juga membuat peperangan lebih tajam, akurat, dan terkalkulasi—mengurangi kesalahan manusia. Marinir AS menguji jenis AI yang diklaim mampu menganalisis intelijen asing lebih cepat dari manusia1. Kedua, insentif finansial. OpenAI dan perusahaan sejenis perlu mengembalikan investasi luar biasa besar untuk melatih dan menjalankan model mereka. Pentagon memiliki kantong terdalam. Kepala pertahanan Eropa juga antusias menggelontorkan dana. Pendanaan venture capital untuk teknologi pertahanan tahun ini sudah menggandakan total seluruh tahun 20241.
Ancaman Serangan Siber Otonom
Kelompok hacker yang disponsori negara China dilaporkan mengeksekusi serangan siber skala besar yang hampir sepenuhnya dijalankan AI6. Anthropic, perusahaan AI terkemuka, mengeluarkan peringatan keamanan siber setelah aktor ancaman yang disponsori negara menipu chatbot AI-nya untuk melaksanakan serangan siber berskala besar. Kelompok ancaman GTG-1002 membangun kerangka serangan otonom yang didukung Claude Code, menargetkan perusahaan teknologi, institusi keuangan, dan organisasi lainnya7.
Dilema Etika dan Regulasi
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan larangan menyeluruh terhadap sistem senjata mematikan yang sepenuhnya otonom1. Satu konsensus yang muncul di Barat: keputusan seputar penyebaran senjata nuklir tidak boleh diserahkan ke AI. Namun Keith Dear, mantan perwira militer Inggris yang kini menjalankan perusahaan peramalan strategis Cassi AI, berpendapat hukum yang ada sudah lebih dari cukup: "Anda memastikan tidak ada dalam data pelatihan yang mungkin menyebabkan sistem menjadi nakal... saat Anda yakin, Anda menerapkannya—dan Anda, komandan manusia, bertanggung jawab atas apa pun yang mungkin mereka lakukan yang salah"1.
Kritik dari Ahli Militer
Missy Cummings, mantan pilot tempur Angkatan Laut AS yang kini profesor teknik dan ilmu komputer di George Mason University, vokal menyuarakan keyakinannya bahwa large language models secara khusus cenderung membuat kesalahan besar dalam pengaturan militer1. Tanggapan tipikal terhadap keluhan ini adalah bahwa output AI diperiksa manusia. Tapi jika model AI mengandalkan ribuan input untuk kesimpulannya, dapatkah kesimpulan itu benar-benar diperiksa oleh satu orang?
Peluang dan Bahaya Era Baru
Pasar AI militer diproyeksikan mencapai $35 miliar pada 2035, melompat dari $13,57 miliar di 2023 menjadi $15,30 miliar di 20248. Kontraktor bergegas memenuhi permintaan yang membentuk ulang peperangan itu sendiri. Apa yang dimulai sebagai peralatan eksperimental kini menjadi kebutuhan strategis.
Henry Kissinger, mantan menteri luar negeri AS, menghabiskan tahun-tahun terakhirnya memperingatkan tentang bencana yang akan datang dari peperangan yang digerakkan AI1. Dalam kecepatan dan kerahasiaan perlombaan senjata AI, kemampuan yang muncul ini mungkin tidak menerima pengawasan dan perdebatan yang sangat mereka perlukan.
Kesimpulan
AI telah memasuki medan perang dengan tiga aplikasi utama: perencanaan logistik, perang siber, dan penargetan senjata. Meskipun janji peningkatan akurasi dan efisiensi, kekhawatiran tentang kehilangan kontrol manusia, eskalasi konflik yang terlalu cepat, dan kurangnya pengawasan etis tetap mengemuka. Regulasi harus mengikuti kecepatan evolusi teknologi. Namun dalam euforia yang didorong fiksi ilmiah, mudah kehilangan jejak apa yang sebenarnya mungkin. Peneliti di Harvard's Belfer Center menunjukkan bahwa optimis AI sering meremehkan tantangan mengerahkan sistem senjata sepenuhnya otonom1. Sangat mungkin kemampuan AI dalam pertempuran sedang dibesar-besarkan.
Daftar Pustaka
- Warrell, H., & O'Donnell, J. (2025, November 17). The State of AI: How war will be changed forever. MIT Technology Review. https://www.technologyreview.com/2025/11/17/1127514/the-state-of-ai-the-new-rules-of-war/
- Aerotime. (2025, November 20). Germany picks Helsing's Cirra AI for new Eurofighter electronic-warfare variant. https://www.aerotime.aero/articles/helsing-ai-eurofighter-ai-ew-germany
- Malay Mail. (2025, November 18). AI, drones, cyber warfare: Malaysia's Armed Forces cyber command goes 'live' this December. https://www.malaymail.com/news/malaysia/2025/11/19/ai-drones-cyber-warfare-malaysias-armed-forces-cyber-command-goes-live-this-december/198940
- MSN News. (2025, November 22). China unveils 'world's first' autonomous drone that can hunt submarines: Report. https://www.msn.com/en-us/news/technology/china-unveils-world-s-first-autonomous-drone-that-can-hunt-submarines-report/ar-AA1QWnc7
- Free Press Journal. (2025, November 14). India's First AI-Powered Combat Drone Kaala Bhairava Wins Silver Medal At ARCA 2025 In Croatia. https://www.freepressjournal.in/world/indias-first-ai-powered-combat-drone-kaala-bhairava-wins-silver-medal-at-arca-2025-in-croatia-everything-you-need-to-know-about-this-autonomous-aircraft
- Homeland Security Today. (2025, November 21). Chinese State Hackers Weaponized AI to Launch Dozens of Autonomous Cyberattacks. https://www.hstoday.us/subject-matter-areas/ai-and-advanced-tech/chinese-state-hackers-weaponized-ai-to-launch-dozens-of-autonomous-cyberattacks/
- Business World. (2025, November 13). Chinese Hackers Use Jailbroken Claude AI To Launch Autonomous Cyberattacks. https://www.businessworld.in/article/chinese-hackers-use-jailbroken-claude-ai-to-launch-autonomous-cyberattacks-579727
- eWeek. (2025, November 13). Military AI Market to Hit $35B by 2035. https://www.eweek.com/news/military-ai-market/





