Techno-optimism (techno-optimism) merupakan fragmentasi pandangan dunia yang menempatkan teknologi sebagai solusi utama bagi permasalahan kemanusiaan1. Pandangan ini meyakini bahwa manfaat perubahan teknologi jauh lebih besar dibanding biayanya, termasuk risiko eksistensial dan biaya jangka panjang. Prinsip utamanya sederhana: teknologi adalah sistem yang dapat memperbaiki dirinya sendiri. Ketika masalah muncul dari teknologi baru, jawabannya bukanlah mengurangi teknologi tetapi justru menciptakan lebih banyak dan lebih baik lagi. Konsep ini semakin relevan di tengah perdebatan tentang dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) terhadap masa depan manusia.
Akar Sejarah dan Perkembangan Pandangan
Vannevar Bush, penasihat sains utama Presiden Franklin Roosevelt dan Harry Truman, pertama kali memperkenalkan bahasa techno-optimism dalam politik Amerika melalui dokumen kebijakan "Science, the Endless Frontier" tahun 19452. Dokumen tersebut memicu pengeluaran besar-besaran pemerintah Amerika untuk riset dan pengembangan (research and development atau R&D) pascaperang. Narasi techno-optimism biasanya menceritakan kisah masa lalu pemburu-pengumpul yang penuh kekerasan. Kemajuan teknologi awalnya lambat, namun sejak Renaisans Eropa terjadi proses penemuan dan inovasi eksponensial yang terus berakselerasi hingga kini.
Kemajuan teknologi ini bersamaan dengan peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan1. Hal tersebut membangun imperatif moral untuk mempercepat kemajuan teknologi lebih lanjut. Tentu saja, ini pembacaan sejarah yang selektif. Banyak techno-optimist yang canggih akan berargumen tentang kebutuhan inovasi institusional untuk menyertai inovasi teknologi. Jaminan sosial (social security), misalnya, adalah inovasi institusional yang melawan disparitas kekayaan yang muncul dari mode produksi techno-kapitalis.
Visi Masa Depan: Singularitas dan Utopia
Visi masa depan yang dibawa techno-optimism adalah kekuatan dan kebahagiaan sempurna. Ketika kemajuan teknologi mencapai titik singularitas (singularity)—ledakan kecerdasan di mana entitas cerdas, manusia, mesin, atau campuran keduanya, mampu meningkatkan diri untuk mencapai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi—ekspektasinya adalah untuk kebaikan umat manusia3. Di titik ini, kemanusiaan akan diperkuat menjadi bentuk yang tidak dapat dikenali dan akan berkembang ke luar angkasa yang luas. Dunia akan menjadi utopia di mana semua akan mengalami "kebahagiaan dan kesenangan yang melampaui" selama kehidupan abadi, seperti yang tertulis dalam "Letter from Utopia" Nick Boström.
Namun, banyak yang meragukan gambaran utopis ini. Mereka menyebutkan sejumlah risiko eksistensial yang dibawa oleh teknologi, terutama AI, yang seharusnya membawa kita ke sana—Nick Boström sendiri menjadi salah satu yang pertama di antara mereka1. Filosof Nicholas Agar berargumen menggunakan ide normalisasi hedonik (hedonic normalisation), yang menyatakan bahwa pengalaman subjektif seseorang selaras dengan keadaan objektifnya. Kehidupan sehari-hari tidak lebih bahagia hari ini dibanding dua ratus tahun lalu, meskipun kemajuan teknologi luar biasa. Masa depan juga tidak akan penuh kebahagiaan meski lebih banyak ketidaknyamanan dihilangkan.
Dinamika Kontemporer dalam Industri Teknologi
Jensen Huang, CEO Nvidia, mewakili kubu techno-optimist dalam industri teknologi kontemporer4. Pandangannya kontras dengan perspektif yang lebih hati-hati dari tokoh seperti Dario Amodei dari Anthropic. Perdebatan antara optimis teknologi dan apa yang sering disebut "doomers" mencerminkan ketegangan fundamental tentang kecepatan dan arah perkembangan AI. David Sinclair, peneliti penuaan di Universitas Harvard, mewakili optimisme ekstrem dengan mengklaim "sebenarnya akan mudah untuk menyembuhkan penuaan dan kanker"5. Begitu pula Elon Musk yang terus mengklaim akan segera mendaratkan manusia di Mars.
| Aspek 🎯 | Pandangan Techno-Optimism | Implikasi Praktis 💡 |
|---|---|---|
| Nilai Utama | Kontrol dan penguasaan atas alam | Pengembangan teknologi enhancement manusia |
| Pengetahuan | Berharga karena memberikan kemungkinan kontrol | Fokus pada riset aplikatif dan inovasi |
| Solusi Masalah | Menggunakan sains dan teknologi | Farmakologi untuk penyakit mental, robot pendamping untuk kesepian |
| Tata Kelola | Cenderung teknokratis (aturan oleh ahli) | Keputusan berbasis kalkulasi ekonomi dan manfaat |
| Kehidupan Sehari-hari | Adopsi dini (early adopter) teknologi baru | Pertukaran data pribadi untuk layanan online |
| Tujuan Ekstrem | Immortalitas melalui transhumanisme | Mind uploading, bioteknologi peningkatan manusia |
| Harapan | Masa depan yang lebih baik melalui teknologi | Keselamatan buatan manusia sendiri |
Teori Nilai dan Tindakan dalam Praktik
Pandangan dunia datang dengan aksiologi (axiology) atau teori nilai. Techno-optimism menghargai kontrol dan penguasaan atas alam, untuk membengkokkan alam sesuai kehendak kita, daripada hidup bersama alam dan mengikuti ritme alam1. Tujuan transhumanis untuk immortalitas adalah contoh ekstrem dari keinginan kontrol ini. Kematian dipandang sebagai batasan yang harus diatasi, bukan sesuatu yang konstitutif dari makna eksistensi. Pengetahuan, bagi techno-optimist, berharga karena memberikan lebih banyak kemungkinan untuk kontrol, bukan karena bernilai intrinsik.
Dari aksiologi mengikuti prakseologi (praxeology), atau teori tindakan. Fragmentasi pandangan dunia techno-optimist meresepkan penggunaan sains dan teknologi untuk memecahkan masalah, daripada seruan pada nilai moral atau norma sosial (meskipun inovasi institusional tidak dikecualikan)1. Misalnya, peningkatan penyakit mental harus diperbaiki melalui cara farmakologis daripada menangani masalah sosial dari mana mereka muncul. Hal yang sama dapat dikatakan tentang pengembangan robot pendamping untuk melawan kesepian. Ketika pola pikir ini memasuki ranah politik, ada kecenderungan menuju tata kelola teknokratis, atau pemerintahan oleh para ahli.
Aplikasi dalam Pendidikan dan Kesehatan
Omar Abbosh, pemimpin Pearson, menunjukkan antusiasme terhadap transformasi teknologi dalam pendidikan dengan menyatakan bahwa dengan alat AI yang tepat, anak-anak "akan belajar lebih banyak dan belajar lebih baik"6. Namun ia menekankan bahwa AI agentik (agentic AI) tidak boleh dilihat sebagai pengganti guru. Di sektor kesehatan, rencana 10 tahun National Health Service (NHS) di Inggris mengungkapkan transformasi digital yang didorong oleh techno-optimism dan batasan efisiensi7. Pendekatan ini menekankan efisiensi operasional melalui digitalisasi sambil mengakui keterbatasan teknologi dalam mengatasi tantangan sistemik yang lebih dalam.
Makna Eksistensial dan Tantangan Kontemporer
Pandangan dunia juga membuat hidup bermakna dengan memberi kita tujuan untuk diperjuangkan, interpretasi yang menghibur, dan harapan yang berkelanjutan. Yang terpenting, techno-optimism menawarkan harapan untuk masa depan yang lebih baik1. Di masa ketika kepercayaan pada kemajuan sosial dan moral goyah, kemajuan sains dan teknologi yang pasti menawarkan perlindungan bagi yang putus asa. Dalam ketiadaan agama dan iman, sains dan teknologi membawa janji jawaban dan immortalitas—keselamatan buatan kita sendiri. Dari perspektif eksistensial, (ekstrem) techno-optimist tetap tidak nyaman di dunia tanpa transendensi.
Namun di dunia industri teknologi, ketegangan antara optimis teknologi dan incrementalists perusahaan (enterprise incrementalists) menciptakan dinamika pasar yang kompleks8. Di satu sisi, evangelis yang mengutamakan otonomi—OpenAI, Anthropic, dan gelombang startup asli AI—mendorong transformasi radikal. Di sisi lain, perusahaan tradisional mengadopsi pendekatan bertahap yang lebih hati-hati. Agent studios mungkin bisa menjadi jembatan antara dua kubu ini, menawarkan solusi yang seimbang antara inovasi berani dan implementasi praktis.
Debashis Basu memperingatkan tentang mania AI yang berpotensi memicu kehancuran pasar: "Bahayanya adalah ketika musiknya berhenti, kejatuhannya akan tiba-tiba, lebih cepat, dan lebih dalam dari yang diperkirakan siapa pun"9. Peringatan ini mengingatkan bahwa meskipun techno-optimism menawarkan visi masa depan yang menarik, kehati-hatian tetap diperlukan dalam menghadapi hype teknologi yang berlebihan.
Kesimpulan
Techno-optimism menawarkan lensa interpretatif yang kuat untuk memahami hubungan manusia dengan teknologi. Pandangan ini meyakini bahwa teknologi bukan hanya alat tetapi solusi sistemik untuk tantangan kemanusiaan. Meskipun visi utopisnya tentang singularitas dan kebahagiaan abadi mungkin terasa spekulatif, dampak praktis pandangan ini sangat nyata—dari kebijakan riset pemerintah hingga adopsi teknologi sehari-hari. Fragmentasi pandangan dunia ini terus membentuk bagaimana masyarakat merespons inovasi, dari AI hingga bioteknologi. Namun penting untuk menyeimbangkan optimisme dengan realisme, mengakui bahwa teknologi memerlukan kerangka institusional dan etis yang kuat untuk benar-benar melayani kebaikan bersama. Perdebatan antara techno-optimist dan kritikus mereka bukan tentang menolak atau menerima teknologi secara total, tetapi tentang menavigasi jalur yang bijaksana menuju masa depan yang lebih baik bagi semua.
Daftar Pustaka
- Van Steerteghem, J. (2022, 13 Maret). In View: Techno-Optimism. Worldview Encounters. https://worldviewencounters.substack.com/p/in-view-techno-optimism
- Bush, V. (1945). Science, the Endless Frontier. United States Government Printing Office. Sebagaimana dikutip dalam Van Steerteghem, J. (2022).
- Vinge, V. (1993). Technological Singularity. Sebagaimana dikutip dalam Van Steerteghem, J. (2022).
- Thorbecke, C. (2025, 22 Mei). Jensen Huang's Techno-Optimism Has a Point. Bloomberg Opinion. https://www.bloomberg.com/opinion/articles/2025-05-22/nvidia-ceo-jensen-huang-s-techno-optimism-has-a-point?sref=1pnqJ0TR
- (2024, 5 Desember). The techno-realist manifesto. The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/opinion/2024/12/07/the-techno-realist-manifesto.html
- (2025, 5 November). Pearson boss says with the right AI tools children 'will learn more and learn better'. The Irish Times. https://www.irishtimes.com/technology/2025/11/06/pearson-boss-says-with-the-right-ai-tools-children-will-learn-more-and-learn-better/
- Priestman, E., & Baker, M. (2025, 29 Juli). Digital Transformation in the NHS's 10-Year Plan: Techno-Optimism and the Limits of Efficiency. PMHub. https://pmlive.com/pmhub/mtech_access-2/digital-transformation-in-the-nhss-10-year-plan-techno-optimism-and-the-limits-of-efficiency/
- (2025, 22 Oktober). Can agent studios broker an AI truce between techno-optimists and enterprise incrementalists? Diginomica. https://diginomica.com/can-agent-studios-broker-ai-truce-techno-optimists-enterprise-incrementalists
- Basu, D. (2025, 10 November). Will AI Mania Provoke Market Meltdown? Rediff. https://www.rediff.com/business/column/will-ai-mania-provoke-market-meltdown/20251110.htm


