Pandemi COVID-19 tidak hanya menguji sistem kesehatan global, tetapi juga mengungkap fenomena menarik tentang bagaimana manusia membentuk dan mempertahankan keyakinan yang saling bertentangan. Filosofi epistemologi (epistemology), yang dulunya dianggap sebagai bidang akademis yang kering, kini menjadi relevan dalam memahami dinamika kepercayaan publik selama krisis kesehatan global.1
Anatomi Ketidakkonsistenan Keyakinan
Michael LaBossiere, seorang filsuf yang mengajar epistemologi, mencatat transformasi pandangannya sendiri terhadap studi pengetahuan. "Saya tidak tertarik pada studi pengetahuan sampai saya mulai mengajarkannya," ungkapnya.1 Pengamatan terhadap respons publik menunjukkan pola keyakinan yang membingungkan secara logis.
Beberapa kelompok masyarakat—terutama pendukung pemimpin tertentu—menunjukkan kemampuan luar biasa untuk memegang teguh sejumlah klaim yang tidak dapat semuanya benar secara bersamaan. Ini bukan fenomena unik pada satu kelompok politik saja, namun kasus pandemi memberikan studi kasus yang jelas.1
Spektrum Teori yang Bertentangan
Selama pandemi, berbagai narasi berkembang secara simultan. Ada yang menyalahkan asal virus dari China—ada yang menyebut kebocoran laboratorium, ada pula yang menyebut teknologi 5G sebagai penyebab.1 Misinformasi tentang virus China bahkan menyebar dengan cepat sejak awal pandemi, memicu kepanikan yang tidak proporsional.2
| Tipe Klaim 🔍 | Isi Keyakinan | Status Logis | Dampak 💥 |
|---|---|---|---|
| Teori Asal | Virus berasal dari China (laboratorium) | Mengakui realitas virus | Menyalahkan pihak eksternal |
| Teori Hoaks | Pandemi tidak ada/dibesar-besarkan | Menyangkal realitas virus | Gerakan anti-masker |
| Teori 5G | Teknologi 5G penyebab pandemi | Alternatif kausalitas | Vandalisme tower telekomunikasi |
| Respons Efektif | Penanganan cepat dan berhasil | Mengakui ancaman serius | Klaim kesuksesan politik |
| Vaksin | Kredit pengembangan vaksin | Mengakui kebutuhan medis | Narasi pencapaian |
| Konspirasi Politik | Rekayasa untuk tujuan politik | Semi-pengakuan realitas | Polarisasi partisan |
| Seperti Flu | Tidak lebih berbahaya dari influenza | Minimalisasi ancaman | Penolakan protokol kesehatan |
Logika Formal vs Realitas Kognitif
Dalam logika formal, dua klaim bersifat inconsistent (tidak konsisten) ketika keduanya tidak dapat benar secara bersamaan, meskipun keduanya bisa salah. Contoh sederhana: botol hanya berisi vodka versus botol hanya berisi air.1 Keduanya bisa salah jika botol kosong.
Kontradiksi (contradiction) lebih ekstrem—satu klaim harus salah dan yang lain harus benar. Jika pandemi disebabkan oleh 5G, maka pandemi bukan hoaks; klaim bahwa pandemi adalah hoaks akan menghasilkan kontradiksi logis.1
Namun manusia bukan mesin logika. Berbeda dengan robot dalam cerita fiksi ilmiah yang akan meledak saat menghadapi kontradiksi, otak manusia mampu menampung keyakinan yang tidak konsisten bahkan kontradiktif tanpa "kerusakan sistem".1
Intentionalitas dan Struktur Keyakinan
Epistemolog memahami keyakinan memiliki intentionality (intensionalitas)—yaitu sifat "tentang sesuatu" (aboutness).1 Ketika seseorang mempercayai sesuatu tentang dunia mereka, mereka menganggap keyakinan itu sesuai dengan realitas. Tapi keyakinan tidak harus tentang hal yang nyata—seseorang bisa percaya pada unicorn meskipun unicorn tidak ada.
Yang menarik, konsistensi dinamis (dynamic consistency) dalam teori keputusan menunjukkan bahwa preferensi sensitif terhadap ambiguitas harus gagal dalam consequentialism atau konsistensi dinamis—dua properti yang kompatibel dengan utilitas ekspektasi subjektif dan pembaruan Bayesian.3 Ini mengindikasikan kompleksitas filosofis dalam mempertahankan keyakinan koheren.
Keyakinan Sebagai "File Dokumen", Bukan Program
LaBossiere menggunakan analogi sederhana namun powerful: keyakinan seperti file Word di mana seseorang bisa mengetik kalimat apa saja, bukan seperti program komputer yang akan error jika mengandung kontradiksi logis.1 Mengatakan seseorang percaya sesuatu seperti mengatakan itu ada dalam "file dokumen" mental mereka.
Fakta bahwa lebih dari 80% Republikan mengklaim presiden tertentu melakukan pekerjaan hebat menangani pandemi—sambil juga menyatakan pandemi adalah hoaks—menunjukkan kemampuan manusia mengompartementalisasi keyakinan yang bertentangan.1
Implikasi dan Pembelajaran
Fenomena ini membuka pertanyaan mendalam tentang formasi keyakinan dan bagaimana keyakinan memengaruhi tindakan. Jika pandemi adalah hoaks, mengapa mengklaim respons cepat dan efektif? Jika memerlukan vaksin, bagaimana mungkin tidak ada ancaman nyata?1
Virus memang menjadi isu berulang di China—dari HMPV yang ditemukan di Indonesia (dilaporkan mirip flu biasa)4, hingga wabah chikungunya yang memicu langkah-langkah mirip era COVID dengan drone dan fumigasi.5 Konteks ini menunjukkan bahwa respons terhadap virus tidak hanya soal fakta medis, tapi juga persepsi dan politik.
Satu kemungkinan yang patut dipertimbangkan: orang-orang mungkin tidak benar-benar mempercayai semua klaim yang mereka profes. Mereka bisa saja berpura-pura bahwa suatu klaim benar padahal mereka percaya itu tidak benar. Dengan kata lain: berbohong.1
Studi ini mengingatkan kita bahwa konsistensi logis, meskipun ideal dalam wacana rasional, bukan karakteristik alami kognisi manusia. Memahami hal ini penting untuk komunikasi kesehatan publik, pendidikan kritis, dan dialog antarkelompok dalam masyarakat yang semakin terpolarisasi.
Kesimpulan
Paradoks keyakinan selama pandemi mengajarkan bahwa manusia memiliki kapasitas unik untuk mempertahankan sistem kepercayaan yang tidak konsisten secara logis. Tidak seperti sistem formal yang akan gagal, pikiran manusia dapat menampung kontradiksi—entah melalui kompartementalisasi, redefinisi konsep, atau bahkan ketidakjujuran strategis. Memahami mekanisme ini bukan hanya latihan filosofis, tetapi kebutuhan praktis dalam era informasi yang kompleks dan sering membingungkan.
Daftar Pustaka
- LaBossiere, M. (2025, 28 Oktober). Consistency & Belief. A Philosophers Blog. https://aphilosopher.drmcl.com/2025/10/28/consistency-belief/
- The Jakarta Post. (2020, 29 Januari). Project fear: Misinformation spreads China virus panic. https://www.thejakartapost.com/news/2020/01/30/project-fear-misinformation-spreads-china-virus-panic.html
- JSTOR. (2025, 1 Januari). Dynamic consistency, valuable information and subjective beliefs. https://www.jstor.org/stable/45386921
- Tempo.co. (2025, 6 Januari). HMPV Virus Found in Indonesia, Health Minister: Similar to Common Flu, No Need to Panic. https://en.tempo.co/read/1960883/hmpv-virus-found-in-indonesia-health-minister-similar-to-common-flu-no-need-to-panic
- The Health Site. (2025, 12 Agustus). Another Virus in China? Chikungunya Outbreak Triggers COVID-Era Measures With Drones and Fumigation - Is India at Risk? https://www.thehealthsite.com/news/another-virus-in-china-chikungunya-outbreak-triggers-covid-era-measures-with-drones-and-fumigation-is-india-at-risk-1250073/


