Nasihat hubungan populer seperti "pilih pertempuran Anda" dan "jangan berharap pasangan bisa membaca pikiran" ternyata menyembunyikan mekanisme opresif yang membebankan perempuan dengan kerja ekstra dalam hubungan heteroseksual.1 Analisis filosofis oleh Alycia LaGuardia-LoBianco dari Blog of the APA mengungkap bagaimana saran yang tampak netral ini sebenarnya memperkuat stereotip heteropatriarkis.
Nasihat "Pilih Pertempuran" Justru Membebani
Saran untuk memilih mana masalah yang layak diangkat dalam hubungan kedengarannya bijak. Namun implementasinya menciptakan hermeneutical labor (kerja hermeneutis) yang tidak proporsional bagi perempuan.1 Kerja ini mencakup: menganalisis perasaan sendiri dan pasangan, mencari tahu niat di balik tindakan, memprediksi hasil dari berbagai opsi komunikasi.
Perempuan sudah disosialisasikan sebagai "terapis hubungan" amatir, baik untuk diri sendiri maupun teman-temannya. Maka nasihat ini meminta mereka melakukan lebih banyak pekerjaan kognitif dan emosional—sebuah ekspektasi yang tidak dituntut dari laki-laki dalam proporsi sama.1 Ellie Anderson menyebut ini sebagai ekspektasi sosial bahwa perempuan secara intuitif ahli soal hubungan.
Asimetri Kekuasaan dalam Mengajukan Keluhan
Risiko mengajukan keluhan tidak setara antar gender. Perempuan yang mengangkat masalah—bahkan dengan cara terkontrol—berisiko dicap "bitchy" (cerewet), "shrill" (melengking), atau "nag" (pengomel).1 Stereotip ini membuat perempuan tidak berdaya untuk mengartikulasikan kebutuhan mereka. Hasilnya? Nasihat untuk "memilih pertempuran" malah jadi justifikasi untuk menelan ketidakpuasan.
"Letting it go" (membiarkan saja) dan "menjadi orang yang lebih besar" terdengar mulia. Tetapi ketika kebutuhan seseorang sudah diabaikan secara tidak proporsional, saran untuk diam justru memperburuk asimetri tersebut.1 Ini mendorong perempuan menjadi agen penindasan diri—menyangkal kebutuhan, membungkam keluhan—dengan kedok menjadi pasangan yang sehat.
Mitos "Pembaca Pikiran" dan Labor Emosional
Nasihat kedua: "jangan berharap pasangan membaca pikiran Anda." Kedengarannya mendorong ekspresi diri. Namun asumsinya keliru: seolah satu-satunya cara mengetahui kebutuhan orang lain adalah dengan diberitahu secara eksplisit.1
Faktanya, banyak perempuan sudah ahli dalam behavioral inference (inferensi perilaku): mencatat kondisi yang memicu perilaku tertentu, mengingat apa yang menyebabkan kegembiraan atau kekecewaan pasangan, mengetahui hal penting bagi orang lain dan bertindak sesuai itu.1 Mereka melakukan ini tanpa diberitahu eksplisit—inilah kerja emosional dan hermeneutis yang sudah mereka lakukan.
Memperkuat Stereotip Berbahaya
Nasihat ini mengabaikan labor (kerja) tersebut dengan memperkuat stereotip bahwa perempuan itu misterius dan tak dapat ditebak—seolah kehidupan emosional mereka sepenuhnya buram kecuali diungkapkan verbal.1 Bersamaan itu, stereotip bahwa laki-laki tidak perhatian dan tidak peka diperkuat, bahkan diberi izin untuk tetap begitu.
| Aspek 🔍 | Beban Perempuan 👩 | Ekspektasi Laki-laki 👨 |
|---|---|---|
| Hermeneutical labor | Menganalisis perasaan sendiri dan pasangan, merencanakan strategi komunikasi | Minimal atau tidak ada ekspektasi |
| Risiko mengajukan keluhan | Dicap negatif: cerewet, pengomel, melengking | Dianggap tegas atau rasional |
| Regulasi emosional | Mengatur emosi diri dan pasangan secara eksplisit | Bergantung pada pasangan untuk diatur |
| Inferensi kebutuhan | Diharapkan membaca isyarat tanpa diberitahu | Tidak perlu membaca isyarat, cukup diberitahu |
| Ekspektasi komunikasi | Harus eksplisit tentang kebutuhan sendiri | Bisa menunggu diberitahu |
| Peran sosial | Terapis hubungan de facto | Penerima layanan terapeutik |
| Justifikasi diam | "Pilih pertempuran" digunakan untuk tidak mengeluh | Tidak menghadapi dilema serupa |
Karena laki-laki tidak diharapkan bertindak memenuhi kebutuhan perempuan kecuali diberitahu eksplisit ("Saya tidak tahu apa yang dia inginkan dari saya!"), mereka dibebaskan dari kerja hermeneutis dan emosional dasar untuk memperhatikan dan "membaca" pasangan.1 Sementara perempuan diberi kerja tambahan: mengomunikasikan kebutuhan mereka sambil juga menafsirkan kebutuhan pasangannya.
Fenomena "Menjaga Perdamaian" yang Menyembunyikan Opresi
Nasihat-nasihat ini terutama mengkhawatirkan karena implementasinya yang sukses justru menjaga perdamaian superfisial—dan dengan demikian mengalihkan perhatian dari fungsi opresifnya.1 Mengikuti saran-saran ini memperkuat norma gender asimetris karena terlihat berhasil: mengurangi konflik interpersonal, dan di mana konflik lebih sedikit, tampak ada koneksi yang sehat.
Namun semua ini dengan mengorbankan kerja perempuan yang berkelanjutan. Saran-saran tersebut secara tidak kentara memperkuat norma-norma ini sambil menghindari pengawasan—karena mengapa kita harus mengeluh jika semuanya tampak baik-baik saja?1
Konteks Sosial yang Hilang
Industri pemeliharaan hubungan—dari blog, podcast, buku self-help, hingga konseling—dibangun di atas dinamika yang ada dalam hubungan romantis heteroseksual, yang sendirinya dibentuk oleh norma opresif.1 Para feminis sudah lama mengenali bahwa institusi heteropatriarki muncul dalam hubungan kita—yang personal adalah politis. Tapi tugas tambahan adalah mengidentifikasi bagaimana praktik yang tampak netral dalam kehidupan personal kita bisa menyembunyikan mekanisme yang memperkuat norma opresif ini.
Menariknya, norma dan nasihat seputar hubungan intim antara perempuan dan laki-laki individual jarang atau tidak menyebut penindasan gender—seolah orang dan praktik yang dinilai tidak pernah menghadapi asimetri kekuasaan.1 Padahal mengabaikan eksistensi opresi berisiko memperkuatnya kembali.
Solusi: Kontekstualisasi Sosial dalam Nasihat
Nasihat hubungan cenderung dibingkai dalam istilah individualistis dan terapeutis. Untuk menghindari masalah seperti yang dibahas, nasihat ini perlu dikontekstualisasikan secara sosial untuk mengenali bagaimana asimetri kekuasaan yang berpotensi opresif dapat bermain dalam hubungan individual.1
Ini tidak hanya berlaku untuk hubungan romantis heteroseksual, tetapi juga untuk hubungan apa pun di mana ketidakseimbangan kekuasaan mungkin ada—seperti antara pasangan dengan perbedaan kelas, penghasilan, ras, atau kemampuan.1 Bukan berarti setiap aspek hubungan interpersonal dibentuk oleh dinamika opresif. Namun tidak dapat disangkal bahwa dinamika ini bisa masuk ke dalam hubungan kita.
Langkah pertama untuk memperbaiki norma berbahaya ini adalah memodulasi nasihat yang ada untuk mengenali dimensi sosial hubungan. Misalnya, kita harus mempertimbangkan ekspektasi sosial yang berbeda pada laki-laki dan perempuan dalam memperhatikan emosi dan kebutuhan pasangan ketika memberikan nasihat resolusi konflik.1 Dan ini berarti nasihat akan setidaknya sebagian diinformasikan oleh dinamika kekuasaan ini—laki-laki mungkin perlu lebih memperhatikan, sementara perempuan seharusnya secara wajar mengharapkan lebih banyak perhatian itu.
Kesimpulan
Janji menjaga perdamaian memang menggoda. Tetapi kita harus mempertimbangkan apa yang disembunyikan dengan melakukannya.1 Nasihat hubungan yang tampak netral dan membantu sebenarnya bisa menjadi mekanisme untuk memperkuat stereotip dan norma heteropatriarkis yang membebani perempuan dengan kerja emosional dan hermeneutis yang tidak proporsional.
Pengakuan terhadap konteks sosial dan asimetri kekuasaan dalam hubungan adalah kunci untuk memberikan nasihat yang benar-benar membantu tanpa memperkuat opresi. Hubungan yang sehat memerlukan kesadaran bahwa dinamika personal tidak terpisah dari struktur sosial yang lebih luas—dan bahwa keadilan dalam hubungan intim adalah bagian dari keadilan sosial yang lebih besar.
Daftar Pustaka
- LaGuardia-LoBianco, A. (2025, November 12). The Cost of Keeping the Peace: Relationship Advice and Oppressive Norms. Blog of the APA. https://blog.apaonline.org/2025/11/12/the-cost-of-keeping-the-peace-relationship-advice-and-oppressive-norms/



