{!-- ra:00000000000003ea0000000000000000 --}Konsep Membantu Alam 🌿 Jadi Perdebatan Etis Konservasi Modern - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
Konsep Membantu Alam 🌿 Jadi Perdebatan Etis Konservasi Modern
24
August 2025

Konsep Membantu Alam 🌿 Jadi Perdebatan Etis Konservasi Modern

  • 26
  • 24 August 2025
Konsep Membantu Alam 🌿 Jadi Perdebatan Etis Konservasi Modern

Slogan "membantu alam" yg sering dipasang di taman-taman kota untuk menjelaskan program pengendalian spesies invasif, ternyata menimbulkan pertanyaan filosofis mendalam tentang hubungan manusia dengan alam. Michael LaBossiere, seorang filsuf dlm blognya, mengungkap kompleksitas di balik frasa yg tampak sederhana ini.

Kota Tallahassee di Florida, Amerika Serikat, secara aktf menangani spesies invasif menggunakan herbisida dan machete sebagai bagian dari upaya "membantu alam". Namun, praktik ini menimbulkan pertanyaan: apakah kita benar-benar membantu alam ataukah hanya melayani kepentingan manusia? 1

Dilema Etis Spesies Invasif

Spesies invasif seperti babi hutan, ular piton Burma, dan tanaman Nandina adalah bagian dari alam juga. Membunuh mereka atas nama "membantu alam" menciptakan kontradiksi etis yg tidak mudah diselesaikan. 2 Pendekatan utilitarian mungkin bisa diterapkan: jika membiarkan spesies invasif berkembang lebih merugikan ekosistem daripada membunuhnya, maka tindakan tersebut benar secara moral.

Namun, tantangan praktisnya adalah membuat perhitungan rasional dan terinformasi tentang apa yg terbaik bagi alam. Manusia secara historis terbukti buruk dalam penilaian ini, sehingga assessment semacam ini perlu dievaluasi kritis.

Mobilitas Spesies Adalah Hal Natural

Migrasi spesies ke area baru sebenarnya adalah fenomena alami yg telah berlangsung sejak awal kehidupan. Hewan biasanya mobil dan telah menyebar ke seluruh dunia. 3 Tumbuhan juga menyebar luas, seperti ketika biji ditransportasikan oleh burung. Menganggu proses ini sepertinya tidak benar-benar "membantu alam".

Perspektif Teleologis dan Religius

Aristoteles mengatakan bahwa semua makhluk alami memiliki tujuan, dengan demikian berargumen untuk realitas teleologis. Sebagai contoh sederhana, biji ek memiliki tujuan menjadi pohon ek. Jika seseorang melihat alam dalam istilah teleologis, maka kita bisa membantu alam dengan membantunya mencapai tujuannya. 4

Pendekatan religius juga bisa diterapkan. Seseorang bisa menerima dewi alam dan membantu alam dengan membantunya mencapai tujuannya. Atau menerima keberadaan Tuhan dan membantu Tuhan dengan membantu dunia alami mencapai tujuan Tuhan.

Tanggung Jawab Manusia

Jika kita menerima pandangan teleologis tentang alam, maka kita bisa berargumen bahwa kita harus menangani spesies invasif yg kita kenalkan secara tidak sengaja atau sengaja. Ini termasuk makhluk seperti katak tebu, tikus, kerang, dan berbagai tumbuhan. Kita bertanggung jawab atas tindakan kita, mungkin bahkan ketika tidak disengaja.

Seseorang bahkan bisa berargumen bahwa apa yg kita lakukan adalah artifisial daripada alami, sehingga kita perlu membatalkan hal-hal tidak alami yg telah kita lakukan. 5 Menariknya, ini tampaknya mengimplikasikan bahwa kita adalah spesies paling invasif dan kita harus mengembalikan diri ke habitat asli dan mengembalikan dunia ke waktu distribusi spesies yang lebih awal.

Perspektif Antroposentris

Spesies cenderung dikutuk sebagai invasif berdasarkan dampak mereka terhadap manusia. Contohnya, orang Amerika Utara biasanya tidak melabeli anjing mereka sebagai spesies invasif. Ini bukan karena anjing adalah penghuni asli Amerika Utara, tapi karena kita menyukai anjing. 6

Spesies yg baru datang umumnya dilabeli sebagai invasif ketika kita tidak menyukai apa yg mereka lakukan. Misalnya, orang Florida umumnya tidak menyukai spesies non-native yg membanjiri badan air di negara bagian itu. Ini karena dampak yg mereka miliki pada kita.

Kejujuran dalam Motivasi

Karena manusia penting secara moral, kita memiliki hak untuk mempertimbangkan dampak spesies terhadap kesejahteraan kita. Tapi kita harus jujur ketika melakukan ini: kita tidak boleh mengklaim bahwa kita membantu alam, kita harus mengakui bahwa kita melakukan apa yg kita pikir akan menguntungkan kita.

Kesimpulan

Hanya karena bersifat invasif tidak menjamin penghapusan atau perusakan spesies. Kalau tidak, kita perlu dihapus atau dihancurkan. Sebaliknya, ini adalah masalah untuk penilaian moral dan praktis. Membicarakan "alam" dan melabeli spesies sebagai "invasif" sebagian besar adalah masalah retorika dan kita akan lebih baik dengan jujur tentang apa yg kita lakukan dan mengapa. 7

Referensi

  • LaBossiere, M. (2025, Agustus 24). Helping Nature. A Philosophers Blog. https://aphilosopher.drmcl.com/2025/08/24/helping-nature/
  • Bangkok Post. (2020, Desember 21). Helping Nature help itself. https://www.bangkokpost.com/business/general/2038703/helping-nature-help-itself
  • WWF. (2018, Oktober 22). Rewilding – helping nature find its own way. https://wwf.panda.org/wwf_news/?337064/Rewilding--helping-nature-find-its-own-way
  • WWF. (2019, September 12). Climate adaptation: putting nature first. https://wwf.panda.org/wwf_news/?353054/Climate-adaptation-putting-nature-first
  • Deutsche Welle. (2024, Juli 3). Helping nature to help ourselves. https://www.dw.com/en/helping-nature-to-help-ourselves/video-69551219
  • The Washington Post. (2008, Agustus 8). Helping Nature Help You. https://www.washingtonpost.com/archive/realestate/2008/08/09/helping-nature-help-you/951c03b4-b876-4d30-8ad0-0fcd58b5a36e/
  • Nature. (2001, Oktober 31). Nature's helping hand. https://www.nature.com/articles/35102123
Download PDF tentang Paradoks Membantu Alam: Analis (telah di download 67 kali)
  • Konsep Membantu Alam 🌿 Jadi Perdebatan Etis Konservasi Modern
    Penelitian ini menganalisis kompleksitas filosofis di balik konsep membantu alam yg sering digunakan dalam program konservasi modern. Melalui pendekatan analitis terhadap praktik pengendalian spesies invasif, studi ini mengungkap kontradiksi etis fundamental antara intervensi manusia dan proses alamiah, serta meneliti berbagai kerangka filosofis mulai dari utilitarian hingga teleologis untuk memahami motivasi sebenarnya di balik upaya konservasi kontemporer.
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan SEO paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.