Peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengembangkan pendekatan baru untuk mengatasi masalah lama dalam pengembangan software (perangkat lunak): kode yang berantakan, sulit diubah, dan tidak transparan.1 Tim dari Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory (CSAIL) MIT memperkenalkan metode modular yang memecah sistem menjadi "konsep" terpisah dan "sinkronisasi" yang jelas.
Masalah Fragmentasi Fitur dalam Pengembangan Software
Daniel Jackson, profesor MIT di bidang teknik elektro dan ilmu komputer, menjelaskan bahwa tantangan utama sistem modern adalah fitur tunggal tidak pernah sepenuhnya mandiri. Menambahkan tombol "bagikan" di platform media sosial seperti Instagram melibatkan kode yang tersebar di berbagai layanan: posting (pengunggahan), notifikasi, autentikasi pengguna.1 Jackson menyebut ini "fragmentasi fitur", hambatan utama keandalan software.
"Cara kita membangun software saat ini, fungsionalitasnya tidak terlokalisasi," kata Jackson.1 Anda harus mencari di tiga atau empat tempat berbeda. Koneksinya terkubur dalam kode low-level (tingkat rendah). Ini membuat pengembangan menjadi rumit dan rawan kesalahan.
Konsep dan Sinkronisasi sebagai Solusi
Pendekatan baru ini menggunakan dua komponen utama. Konsep menggabungkan satu fungsi koheren seperti berbagi, menyukai, atau mengikuti, lengkap dengan status dan tindakan yang dapat dilakukan.1Sinkronisasi menjelaskan bagaimana konsep-konsep tersebut berinteraksi pada tingkat yang lebih tinggi.
Eagon Meng, mahasiswa PhD CSAIL yang merancang domain-specific language (DSL) sinkronisasi baru, menekankan pentingnya keterbacaan: "Mengapa kita tidak bisa membaca kode seperti buku?"2 Tim berharap software harus dapat dibaca dan ditulis sesuai pemahaman kita. Konsep memetakan fenomena yang familiar, sinkronisasi merepresentasikan intuisi tentang apa yang terjadi ketika mereka bersatu.
| Aspek ๐ | Pendekatan Tradisional | Konsep & Sinkronisasi |
| Modularitas | Fitur tersebar di banyak layanan | Setiap fitur dalam satu konsep |
| Keterbacaan ๐ | Koneksi tersembunyi dalam kode | Aturan interaksi eksplisit |
| Perubahan | Risiko efek samping tidak terduga | Lebih aman, transparan |
| Testing | Sulit menemukan dan menguji fitur | Terpusat, mudah diuji |
| AI Generation ๐ค | LLM menghasilkan kode berantakan | LLM dapat menghasilkan dengan andal |
| Error Handling | Tersebar di setiap layanan | Ditangani sekali di sinkronisasi |
| Dokumentasi | Tidak jelas, tidak lengkap | Self-documenting melalui struktur |
Studi Kasus dan Implementasi Nyata
Dalam studi kasus mereka, peneliti menugaskan fitur seperti liking (menyukai), commenting (berkomentar), dan sharing (berbagi) masing-masing ke satu konsep.1 Seperti arsitektur microservices (layanan mikro), tetapi lebih modular. Tanpa pola ini, fitur-fitur tersebut tersebar di banyak layanan, sulit ditemukan dan diuji.
Menggunakan pendekatan konsep-dan-sinkronisasi, setiap fitur menjadi terpusat dan dapat dibaca. Sinkronisasi menjelaskan secara tepat bagaimana konsep berinteraksi.1 Studi juga menunjukkan bagaimana sinkronisasi dapat memfaktorkan masalah umum seperti error handling (penanganan kesalahan), format respons, atau penyimpanan persisten.
Integrasi dengan Large Language Models
Manfaat pendekatan ini meluas ke pengembangan berbasis AI. Karena sinkronisasi eksplisit dan deklaratif, mereka dapat dianalisis, diverifikasi, dan tentu saja dihasilkan oleh LLM.1 Ini membuka pintu untuk pengembangan software yang lebih aman dan otomatis, di mana asisten AI dapat mengusulkan fitur baru tanpa menimbulkan efek samping tersembunyi.
Large language models (model bahasa besar) untuk coding (pengkodean) sangat bagus dan terus membaik, namun mereka juga mengekspos kelemahan lama dalam software.3 Model MIT ini memberikan struktur yang dapat diandalkan untuk generasi kode AI.
Visi Masa Depan Pengembangan Software
Jackson melihat potensi pergeseran budaya yang lebih luas dalam pengembangan software. Salah satu idenya adalah pembuatan "katalog konsep", perpustakaan bersama konsep yang telah diuji dengan baik dan spesifik domain.1 Pengembangan aplikasi kemudian dapat menjadi kurang tentang menjahit kode dari awal dan lebih tentang memilih konsep yang tepat dan menulis sinkronisasi di antara mereka.
"Konsep bisa menjadi jenis bahasa pemrograman high-level (tingkat tinggi) yang baru, dengan sinkronisasi sebagai program yang ditulis dalam bahasa itu," kata Jackson.1 Ini cara membuat koneksi dalam software terlihat. Saat ini kita menyembunyikan koneksi tersebut dalam kode. Tetapi jika Anda dapat melihatnya secara eksplisit, Anda dapat bernalar tentang software pada tingkat yang jauh lebih tinggi.
Arahan Lanjutan dan Aplikasi Potensial
Arahan yang lebih canggih juga dimungkinkan. Sinkronisasi dapat mengoordinasikan sistem terdistribusi, menjaga replika di server yang berbeda tetap sinkron, atau memungkinkan database (basis data) bersama berinteraksi dengan bersih.1 Melemahkan semantik sinkronisasi dapat mengaktifkan konsistensi akhirnya sambil tetap menjaga kejelasan di tingkat arsitektural.
Kevin Sullivan, Associate Professor di University of Virginia, berkomentar: "Membangun software untuk penggunaan manusia pada abstraksi dari mesin komputasi yang mendasarinya telah membebani dunia dengan software yang terlalu sering mahal, membuat frustrasi, bahkan berbahaya, untuk dipahami dan digunakan."1 Meng dan Jackson membalikkan naskah dan bersikeras membangun software interaktif pada abstraksi dari pemahaman manusia, yang mereka sebut 'konsep'.
Kesimpulan
Penelitian MIT ini menawarkan pendekatan transformatif untuk pengembangan software di era AI. Dengan memisahkan konsep dan sinkronisasi, sistem menjadi lebih modular, transparan, dan mudah dipahami baik oleh manusia maupun mesin.1 Thomas Ball, profesor kehormatan Lancaster University, menambahkan bahwa desain konsep Meng dan Jackson memberikan cara yang menjanjikan untuk menggambarkan apa yang kita inginkan dari software secara modular.
"Jika software ingin menjadi lebih dapat dipercaya, kita memerlukan cara menulis yang membuat niatnya transparan," kata Jackson.1 Konsep dan sinkronisasi adalah satu langkah menuju tujuan itu. Pekerjaan ini didanai sebagian oleh Machine Learning Applications (MLA) Initiative dari CSAIL Alliances, dengan dewan inisiatif termasuk British Telecom, Cisco, dan Ernst and Young.
Makalah mereka "What You See Is What It Does: A Structural Pattern for Legible Software" dipresentasikan di Splash Conference di Singapura pada Oktober 2025.1 Pendekatan ini dapat mempengaruhi bagaimana industri dan akademisi berpikir tentang arsitektur software di era kecerdasan buatan. Era dimana vibe coding
menjadi semakin populer untuk instruksi natural language (bahasa alami) kepada LLM menghasilkan kode.4
Daftar Pustaka
- Gordon, Rachel. "MIT researchers propose a new model for legible, modular software." MIT News, 6 November 2025. https://news.mit.edu/2025/mit-researchers-propose-new-model-for-legible-modular-software-1106
- MSN. "Researchers propose a new model for legible, modular software." 6 November 2025. https://www.msn.com/en-us/news/technology/researchers-propose-a-new-model-for-legible-modular-software/ar-AA1PWGea
- InfoWorld. "Some thoughts on AI and coding." 5 November 2025. https://www.infoworld.com/article/4083424/some-thoughts-on-ai-and-coding.html
- Dark Reading. "Getting a Cybersecurity Vibe Check on Vibe Coding." 30 Juli 2025. https://www.darkreading.com/application-security/cybersecurity-vibe-check-vibe-coding

