Peter Adamson dari LMU dan KCL menantang pandangan bahwa istilah philosophy (filsafat) hanya berlaku untuk tradisi Eropa.1 Dia berpendapat kuat. Sangat kuat bahkan. Menggunakan kata "filsafat" untuk India pra-modern dan Tiongkok bukan imperialisme budaya, melainkan cara memperluas pemahaman kita tentang apa itu filsafat sebenarnya.
Perdebatan Penggunaan Istilah
Beberapa akademisi mempertanyakan legitimasi menggunakan istilah "filsafat" untuk tradisi intelektual di luar Eropa. Argumen mereka sederhana: jika budaya tertentu tidak memiliki kata "filsafat" atau padanan langsungnya, maka memaksakan istilah tersebut kepada mereka mungkin merupakan bentuk imperialisme budaya.1 Mereka menyarankan istilah alternatif yang lebih longgar seperti "tradisi intelektual" atau "pemikiran" untuk menghindari potensi distorsi budaya.
Adamson, yang dikenal luas sebagai pembawa acara podcast (siaran audio) "History of Philosophy without any Gaps", tidak setuju dengan kekhawatiran ini. Dia telah mengembangkan serial buku dari podcast-nya yang sudah berjalan lama tersebut.1 Posisinya jelas dan tegas dalam mendukung penggunaan universal istilah filsafat.
Lima Argumen Utama Pembelaan
Aktivitas Tanpa Kata
Argumen pertama Adamson menggunakan analogi sederhana namun kuat. Pohon tumbuh tanpa memiliki kata untuk "tumbuh", dan orang di seluruh dunia mengalami schadenfreude (kesenangan atas kemalangan orang lain) tanpa mengetahui bahasa Jerman.1 Prinsip ini menunjukkan bahwa tidak adanya kata tertentu tidak menghalangi keberadaan aktivitas atau konsep tersebut. Kita tidak bisa begitu saja menerapkan aturan umum yang melarang penggunaan kata untuk menggambarkan aktivitas yang tidak akan digunakan oleh mereka yang terlibat dalam aktivitas tersebut.
| Argumen π― | Penjelasan | Contoh π‘ |
|---|---|---|
| Aktivitas tanpa kata | Tidak perlu memiliki kata untuk melakukan sesuatu | Pohon tumbuh, schadenfreude |
| Terminologi non-imanen | Filsafat Eropa sendiri menggunakan istilah kontemporer untuk konteks historis | Intensional vs ekstensional, dualisme |
| Impor istilah terbalik | Istilah dari tradisi lain dapat memperkaya analisis Eropa | Xiao (bakti filial), li (ritual) |
| Kejelasan filosofis | Banyak materi jelas merupakan filsafat | Mohisme, Nyaya |
| Perluasan konsep | Tradisi lain menantang batasan filsafat Eropa | Filsafat lisan Afrika |
| Manfaat global | Pendekatan global memperluas pemahaman filosofis | De-sentrasi Eropa |
| Validitas historis | Filsafat ada di mana-mana sepanjang sejarah manusia | Universal manusia |
Konsistensi Metodologis
Dalam sejarah filsafat Eropa sendiri, para ahli terus-menerus menggunakan istilah analisis non-imanen.1 Kita berbicara tentang perbedaan intensional versus ekstensional, atau dualisme dan fisikalisme, ketika membahas filsafat kuno. Benar, seseorang perlu melakukan ini dengan hati-hati. Tetapi praktik ini tidak bermasalah secara inheren dan sering kali tampak mencerahkan, bahkan tidak terhindarkan. "Philosophy is not merely an academic pursuit but a fundamental human activity," demikian filosof kontemporer sering mengatakan.2 Jadi siapa pun yang memiliki kekhawatiran tersebut harus menjelaskan perbedaan antara kasus-kasus ini, atau sama-sama ketat dalam tidak pernah menggunakan terminologi kontemporer untuk membahas filsafat historis.
Pertukaran Terminologi Dua Arah
Adamson berpendapat seseorang dapat dan harus terbuka untuk mengimpor istilah ke arah lain juga. Misalnya, setelah melihat Konfusianisme, orang mungkin melihat bahwa bakti filial (xiao) dan kesopanan ritual (li) adalah istilah fundamental analisis filosofis dalam konteks tersebut.1 Orang kemudian dapat menggunakan istilah-istilah ini untuk memperjelas pemahaman seseorang tentang filsafat Eropa. Adamson sendiri menulis sesuatu tentang ritual dalam filsafat Yunani kuno yang terinspirasi dari melihat topik tersebut dalam filsafat Tiongkok untuk podcast, dan dia menggambarkan karya ini sebagai penyelidikan tentang "kesopanan ritual" dalam konteks Yunani.
Bukti Konkret dari Tradisi Non-Eropa
Ada banyak materi dalam sastra India dan Tiongkok kuno yang jelas merupakan filsafat.1 Atau dengan kata lain, jika itu bukan filsafat, sulit untuk mengetahui apa lagi yang harus menyebutnya, dan menolak menggunakan kata tersebut tampak seperti kepura-puraan belaka. Pertimbangkan argumen Mohis untuk kepedulian tidak memihak (jian ai), yang sangat mirip dengan utilitarianisme. Atau lihat tradisi Nyaya dengan diskusinya tentang struktur dan kriteria untuk argumen penjelasan, yang terlihat sangat mirip dalam maksud dengan teori silogistik Aristotelian (meskipun mencapai seperangkat aturan penalaran yang berbeda).1 Sangat tidak masuk akal untuk mengklaim bahwa hal-hal ini tidak dihitung sebagai "filsafat" meskipun sangat mirip dengan contoh inti filsafat dari tradisi Eropa.
Di sisi lain, ada banyak materi dalam tradisi-tradisi lain ini yang menantang dan meregangkan konsepsi kita tentang apa itu filsafat dan apa yang bisa menjadi filsafat, topik apa yang dicakupnya dan pertimbangan jenis apa yang bisa diambil secara serius. Contoh yang diberikan di atas adalah contoh yang baik; contoh lain adalah perdebatan tentang filsafat lisan di Afrika.1 Menurut Adamson, menganggap sebelumnya bahwa tidak ada dari ini yang mungkin "filsafat", hanya dengan alasan bahwa orang-orang yang terlibat tidak memiliki kata ini, adalah berasumsi dan reduktif. "Philosophy encompasses various methodologies and interests across different cultural contexts," seperti yang diamati oleh departemen filsafat terkemuka.3
Melawan Imperialisme dengan Ekspansi
Dengan poin terakhir ini, kita melampaui pembelaan berbicara tentang "filsafat" dalam konteks non-Eropa untuk memberikan alasan positif melakukannya. Dengan menganggap serius gagasan bahwa filsafat telah ada dalam konteks lain ini, kita dapat memperluas konsepsi filsafat itu sendiri.1 Ini adalah cara Adamson menjawab kekhawatiran tentang imperialisme budaya. Itu memang tampak sebagai kekhawatiran yang valid. Tetapi, sementara sah untuk berbicara tentang "filsafat" di India pra-modern, Tiongkok, Afrika, dan tempat serta waktu lain, tidak sah menggunakan fitur spesifik filsafat Eropa sebagai ujian lakmus untuk memutuskan apa yang dihitung dan apa yang tidak.
Jauh dari imperialis, pendekatan global memiliki potensi untuk de-sentrisasi filsafat Eropa, menunjukkannya hanya sebagai salah satu dari banyak contoh fenomena yang telah ada di seluruh dunia sepanjang sejarah. Mungkin di mana pun dan kapan pun ada manusia, sebenarnya, meskipun itu pertanyaan lain! "Scientific theories need not capture reality perfectly to be valuable; they need to work in context," prinsip serupa berlaku untuk kategorisasi filosofis.4 Pendekatan ini membuka pintu untuk pemahaman yang lebih kaya dan lebih inklusif tentang pemikiran filosofis manusia di seluruh peradaban.
Implikasi untuk Studi Filosofi
Pengakuan filsafat lintas budaya ini membawa implikasi praktis penting. "Philosophy graduates think about the big questions in life and have the ability to analyse and communicate complex ideas intelligently," keterampilan yang dapat diterapkan secara universal terlepas dari konteks budaya.5 Ketika kita menerima bahwa filsafat telah berkembang secara independen di berbagai peradaban, kita juga mengakui bahwa keterampilan berpikir kritis dan analitis adalah kemampuan manusia universal, bukan monopoli tradisi Eropa.
Kesimpulan
Peter Adamson memberikan pembelaan yang meyakinkan untuk penggunaan istilah "filsafat" dalam konteks non-Eropa. Lima argumennya membentuk kasus yang koheren: aktivitas dapat ada tanpa kata yang menggambarkannya, filsafat Eropa sendiri menggunakan terminologi anachronis, pertukaran istilah harus dua arah, banyak teks non-Eropa jelas filosofis, dan memperluas konsep filsafat memperkaya pemahaman kita.1 Pendekatan ini, jauh dari imperialis, sebenarnya mendemokratisasi filsafat dengan menunjukkan universalitasnya. Dengan mengakui bahwa pemikiran filosofis telah berkembang di mana-mana manusia hidup, kita tidak memaksakan kategori Barat tetapi mengakui kemampuan intelektual fundamental manusia yang melampaui batas budaya. Dunia Islam dapat dikesampingkan dalam perdebatan ini karena mereka memang mewarisi kata "filsafat" dari Yunani, dan dengan demikian berbicara tentang falsafa, meskipun ada lebih banyak yang bisa dikatakan tentang ini.1
Daftar Pustaka
- Weinberg, Justin. "What's in a Name? 'Philosophy' in Non-European Traditions (guest post)." Daily Nous, 11 November 2025. https://dailynous.com/2025/11/11/whats-in-a-name-philosophy-in-non-european-traditions-guest-post/
- "What Is Philosophy and How Do We Do It?" Philosophy Now, 25 Agustus 2014. https://philosophynow.org/issues/79/What_Is_Philosophy_and_How_Do_We_Do_It
- "Department of Philosophy." Saint Louis University, 18 Agustus 2024. https://www.slu.edu/arts-and-sciences/philosophy/index.php
- "The philosophy of science." The Varsity, 15 November 2025. https://thevarsity.ca/2025/11/15/the-philosophy-of-science/
- "What can you do with a philosophy degree?" Times Higher Education, 21 September 2022. https://www.timeshighereducation.com/student/subjects/what-can-you-do-philosophy-degree


