{!-- ra:00000000000003ea0000000000000000 --}Ilmuwan MIT Padukan Neurosains 🎵 AI dan Musik untuk Inovasi Kesehatan Mental - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
Ilmuwan MIT Padukan Neurosains 🎵 AI dan Musik untuk Inovasi Kesehatan Mental
15
October 2025

Ilmuwan MIT Padukan Neurosains 🎵 AI dan Musik untuk Inovasi Kesehatan Mental

  • 6
  • 15 October 2025
Ilmuwan MIT Padukan Neurosains 🎵 AI dan Musik untuk Inovasi Kesehatan Mental

CAMBRIDGE, Massachusetts – Kimaya Lecamwasam, ilmuwan komputasional neurosains (neuroscience) dari MIT Media Lab, mengembangkan pendekatan inovatif menggabungkan musik, kecerdasan buatan (AI), dan ilmu saraf untuk menciptakan intervensi kesehatan mental non-farmakologis yang dapat diskalakan.1 Penelitian ini membuka perspektif baru dalam penanganan gangguan kecemasan melalui "pharmamusicology" – istilah yang merujuk pada penggunaan musik sebagai terapi medis.

Perjalanan dari Musisi Pemalu ke Peneliti Inovatif

Lecamwasam tumbuh dalam keluarga musikal. Dia bermain gitar elektrik dan bass sejak kecil, bahkan tampil di berbagai band semasa SMA. "Sepanjang hidup saya, menulis dan memainkan musik adalah cara paling jelas untuk mengekspresikan diri," ungkapnya.1 Sebagai anak yang pemalu dan cemas, musik menjadi medium komunikasi sekaligus manajemen kesehatan mental pribadinya.

Pengalaman langsung melihat reaksi audiens terhadap musik, plus nilai terapeutik bagi para musisi sendiri, memicu keingintahuannya tentang mekanisme neurologis di balik kekuatan musik.1 Koneksi erat antara bermusik dan kesejahteraan mental itulah yang mendorongnya mendalami sains.

Fondasi Akademik di Wellesley dan MIT

Pada 2021, Lecamwasam meraih gelar sarjana neurosains dari Wellesley College dengan spesialisasi Systems and Computational Neuroscience, sambil tetap mempelajari musik. Semester pertamanya, kelas songwriting membuatnya lebih sadar akan hubungan musik-emosi.1 Tiga tahun ia mengikuti MIT Undergraduate Research Opportunities Program di laboratorium Emery Brown – Edward Hood Taplin Professor of Medical Engineering and Computational Neuroscience.

Di sana, fokusnya mengklasifikasikan kesadaran pada pasien teranestesi dan melatih prostetik berbasis brain-computer interface menggunakan reinforcement learning.1 Brown kemudian merekomendasikan program pascasarjana di MIT Media Lab, yang terbukti cocok untuk menyatukan dua hasratnya.

Pharmamusicology: Musik sebagai Intervensi Medis

Tesis masternya berfokus pada "pharmamusicology" – bagaimana musik dapat memengaruhi fisiologi dan psikologi penderita kecemasan secara positif.2 Konsep ini menempatkan musik bukan sekadar hiburan, melainkan alat terapeutik tervalidasi klinis yang bisa dikombinasikan dengan psikoterapi dan intervensi farmasi.

Aspek Penelitian 🎼Fokus UtamaKolaborator
PharmamusicologyDampak musik pada fisiologi & psikologi kecemasanTesis Master MIT
Live Music ImpactPengaruh konser skala besar pada kesehatan mentalPixMob, Empatica
AI-Generated MusicResonansi emosional AI vs. musik human-composedProf. Anna Huang's Human-AI Resonance Lab
Lullaby WritingDampak menulis nina bobo pada kesehatan perinatalNorth Shore Lullaby Project, Massachusetts
Well-Being ConcertsKonser kesejahteraan untuk audiensCarnegie Hall's Weill Music Institute
Interactive LightingLighting interaktif dalam pengalaman musik stadiumPixMob, Empatica (MIT spinoff)
Clinical ValidationValidasi klinis mendengarkan, komposisi & performance musikMyndstream (internasional)

Kolaborasi Global dan Aplikasi Nyata

Lecamwasam berkolaborasi dengan Carnegie Hall's Weill Music Institute untuk Well-Being Concerts, dan saat ini bermitra dengan North Shore Lullaby Project di Massachusetts – cabang dari Carnegie Hall's Lullaby Project – meneliti dampak penulisan lullaby pada kesehatan perinatal.1 Kolaborasi internasional utamanya dengan perusahaan Myndstream, membandingkan resonansi emosional musik AI versus karya manusia untuk aplikasi klinis.

Proyeknya dengan PixMob dan Empatica (spinoff MIT Media Lab) berpusat pada penilaian dampak pencahayaan interaktif dan pengalaman musik live skala besar terhadap resonansi emosional di setting stadium dan arena.1 Dia juga memimpin workshop kesejahteraan dan musik di Wellbeing Summit Bilbao, Spanyol, serta mempresentasikan karyanya di konferensi CHI 2023 Hamburg, Jerman, dan Audio Mostly 2024 Milan, Italia.

Menyatukan Seni dan Sains di MIT Media Lab

"Satu hal yang saya sangat sukai dari tempat saya berada adalah saya bisa menjadi seniman sekaligus ilmuwan," kata Lecamwasam.1 Dalam memilih program pascasarjana, dia memastikan bisa melakukan riset rigorous, tervalidasi, dan penting, namun tetap bisa melakukan eksplorasi kreatif yang keren dan mempraktikkan penelitiannya dengan berbagai cara.

Profesor Tod Machover, penasihat risetnya sekaligus direktur Opera of the Future group, menyatakan: "Kimy menggabungkan cinta mendalam dan pengetahuan sofistikat tentang musik dengan keingintahuan ilmiah dan ketelitian dengan cara yang merepresentasikan semangat Media Lab/MAS terbaik."1

Membangun Komunitas Peneliti

Lecamwasam aktif dalam program SOS (Students Offering Support) di Program in Media Arts and Sciences (MAS) selama beberapa tahun, membantu mahasiswa dari berbagai latar belakang dalam proses aplikasi.1 Dia akan menjadi peer mentor MAS pertama dalam inisiatif baru yang mencakup "buddy system" – memasangkan mahasiswa master dengan PhD untuk membantu transisi kehidupan graduate student di MIT.

Sebagai bagian dari Media Lab's Studcom – organisasi yang dijalankan mahasiswa untuk mempromosikan dan menciptakan pengalaman menyatukan komunitas – Lecamwasam percaya semuanya yang dia lakukan didukung teman-teman di lab dan departemennya.1 "Semua orang sangat antusias dengan pekerjaan mereka dan saling mendukung. Itu membuat bahkan ketika hal-hal menantang atau sulit, saya termotivasi melakukan pekerjaan ini dan menjadi bagian dari komunitas ini," ujarnya.

Kesimpulan

Penelitian Kimaya Lecamwasam menunjukkan potensi besar musik sebagai intervensi kesehatan mental yang dapat diskalakan dan non-farmakologis. Pendekatannya yang menggabungkan neurosains komputasional, AI, dan praktik musikal membuka jalan bagi aplikasi klinis yang lebih etis dan berpusat pada kreativitas serta agensi manusia.2 Dengan kolaborasi lintas institusi dan negara, riset ini membuktikan bahwa seni dan sains dapat bersinergi menciptakan solusi inovatif untuk tantangan kesehatan mental kontemporer.

Daftar Pustaka

Download PDF tentang Integrasi Neurosains Komputasi (telah di download 17 kali)
  • Ilmuwan MIT Padukan Neurosains 🎵 AI dan Musik untuk Inovasi Kesehatan Mental
    Penelitian ini mengeksplorasi konvergensi neurosains komputasional, kecerdasan buatan, dan praktik musikal sebagai fondasi pengembangan intervensi kesehatan mental yang terukur, tervalidasi klinis, dan non-farmakologis, dengan fokus khusus pada konsep pharmamusicology yang dikembangkan di MIT Media Lab oleh Kimaya Lecamwasam.
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan ai paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.