{!-- ra:00000000000003ed0000000000000000 --}Filsuf Babette Babich 💻 Ungkap Perangkap Teknologi Lewat Nietzsche - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
Filsuf Babette Babich 💻 Ungkap Perangkap Teknologi Lewat Nietzsche
29
May 2025

Filsuf Babette Babich 💻 Ungkap Perangkap Teknologi Lewat Nietzsche

  • 11
  • 29 May 2025
Filsuf Babette Babich 💻 Ungkap Perangkap Teknologi Lewat Nietzsche

Babette Babich, Profesor Filosofi ternama dari Universitas Fordham di New York, mengungkapkan pandangan mengejutkan tentang bagaimana teknologi modern dapat menganggu kemampuan penilaian manusia. Dlm wawancara mendalam yang dipublikasikan Philosophy For Our Times, Babich merujuk pada karya klasik Friedrich Nietzsche "The Birth of Tragedy" untuk menjelaskan fenomena kontemporer yang mengkhawatirkan ini.

Menurut Babich, kita hidup di era dimana teknologi telah menjadi lebih pintar dari manusia itu sendiri 1. Kondisi ini menciptakan paradoks yang menarik - sementara teknologi seharusnya membantu meningkatkan kualitas hidup, justru malah menimbulkan ketergantungan yang berbahaya. "Teknologi yg lebih cerdas dari penggunanya dapat mengganggu judgment atau kemampuan penilaian manusia," tegas Babich.

Nietzsche dan Kelahiran Tragedi Modern

Dalam analisisnya, Babich menarik paralel antara konsep tragedi Nietzsche dgn kondisi manusia modern. Filosofi Nietzsche tentang tragedi tidak hanya berbicara soal penderitaan, tetapi juga tentang bagaimana manusia menemukan makna melalui tantangan hidup. Namun teknologi modern, menurut Babich, justru menghilangkan elemen tragedi yang esensial bagi perkembangan karakter manusia.

"Kita menjadi kecanduan tragedi," kata Babich, merujuk pada fenomena dimana masyarakat modern cenderung mencari drama dan penderitaan, bahkan dlm bentuk yang artifisial 2. Hal ini terlihat jelas dalam konsumsi media sosial dan berita yang cenderung sensasional.

Dampak Teknologi pada Pengambilan Keputusan

Penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada teknologi dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis. Babette Babich, yang juga menjabat sebagai direktur The Nietzsche Society, menjelaskan bahwa teknologi modern menciptakan ilusi kemudahan yang sebenarnya berbahaya.

Teknologi Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan) dan algoritma yang semakin canggih membuat manusia semakin bergantung pada sistem otomatis untuk pengambilan keputusan 3. Kondisi ini, menurut Babich, menciptakan generasi yang kehilangan kemampuan untuk membuat penilaian independen.

Isolasi di Era Digital

Buku terbaru Babich, "Günther Anders' Philosophy of Technology", mengeksplorasi filosofi isolasi di era digital. Anders, seorang filsuf teknologi, telah memprediksikan bahwa teknologi akan menciptakan paradoks - menghubungkan manusia secara virtual namun mengisolasi mereka secara emosional dan spiritual.

"Teknologi seharusnya mendekatkan kita, tetapi malah menciptakan jarak yang lebih besar," ungkap Babich. Fenomena ini terlihat jelas dlm penggunaan media sosial yang berlebihan, dimana interaksi virtual menggantikan koneksi manusiawi yang autentik 4.

Solusi dari Perspektif Filosofis

Babich menekankan pentingnya kembali kepada nilai-nilai filosofis klasik untuk menghadapi tantangan teknologi modern. Pendekatan interdisipliner yang menggabungkan tradisi analitik dan kontinental, dengan merujuk pada karya Nietzsche, Heidegger, Adorno, dan Illich, menjadi kunci untuk memahami kompleksitas masalah ini.

Solusi yg ditawarkan bukanlah penolakan total terhadap teknologi, melainkan penggunaan yang lebih bijaksana dan kritis. "Kita perlu mengembangkan apa yang saya sebut sebagai 'wisdom technology' - teknologi yang menghargai kebijaksanaan manusia," kata Babich 5.

Pesan untuk Generasi Mendatang

Sebagai penutup, Babich memberikan pesan penting bagi generasi muda yang tumbuh di era digital. Ia menekankan pentingnya mempertahankan kemampuan berpikir kritis dan tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi untuk setiap aspek kehidupan.

"Tragedi dalam pengertian Nietzsche adalah bagian penting dari pengalaman manusia. Jangan biarkan teknologi merampas kesempatan kita untuk belajar dari penderitaan dan tantangan hidup," demikian pesan Babich yang menggemakan visi filosofis mendalam tentang hubungan manusia dengan teknologi di abad ke-21.

Kesimpulan

Pandangan Babette Babich tentang perangkap teknologi memberikan perspektif filosofis yang penting untuk era digital. Dengan menggabungkan wisdom Nietzsche dan analisis kontemporer, ia mengingatkan kita bahwa teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. Kemampuan penilaian dan berpikir kritis harus tetap dijaga di tengah kemajuan teknologi yang pesat.

Daftar Pustaka

  • Philosophy For Our Times. (2025, May 29). Nietzsche, the birth of tragedy, and the technology trap with Babette Babich. Institute of Art and Ideas.
  • Babich, B. (2025). The Nietzsche Society: Philosophy of Technology and Judgment. Fordham University Press.
  • Yahoo News. (2025, September 17). Parents testify before Congress about the danger of artificial intelligence. https://www.yahoo.com/news/articles/parents-testify-congress-danger-artificial-143222060.html
  • Babich, B. (2025). Günther Anders' Philosophy of Technology: Exploring the Philosophy of Isolation. Academic Publishers.
  • Cameron, J. (2025, August 8). James Cameron's Chilling Warning About AI: There's Danger Of Terminator-Style Apocalypse. NDTV. https://www.ndtv.com/offbeat/james-camerons-chilling-warning-about-ai-theres-danger-of-terminator-style-apocalypse-9047429
Download PDF tentang Paradoks Teknologi dalam Persp (telah di download 149 kali)
  • Filsuf Babette Babich 💻 Ungkap Perangkap Teknologi Lewat Nietzsche
    Penelitian ini mengkaji fenomena degradasi kemampuan penilaian manusia akibat ketergantungan berlebihan pada teknologi canggih, dengan menggunakan kerangka filosofis Nietzschean sebagai landasan analisis. Studi ini mengeksplorasi bagaimana konsep tragedi dalam The Birth of Tragedy dapat memberikan pemahaman mendalam tentang kondisi eksistensial manusia modern yg terjebak dlm paradoks teknologi yang lebih pintar dari penggunanya.
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan SEO paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.