Larangan penggunaan ponsel di ruang kelas universitas ternyata bukan solusi jangka panjang yang efektif. Junia Paulus, seorang pengajar yang baru mengampu kursus pertamanya musim panas lalu, mengamati bahwa strategi pembatasan teknologi justru menciptakan antagonisme antara pendidik dan mahasiswa1. Mahasiswa tetap menemukan celah melalui VPN (Virtual Private Network), ponsel cadangan, bahkan mengirim pesan lewat Apple Watch yang kini hadir dengan casing titanium hasil 3D printing (pencetakan tiga dimensi)2.
Kegagalan Strategi Larangan Total
Penelitian menunjukkan lingkungan belajar tanpa teknologi memang meningkatkan pemahaman, mengurangi kecemasan, dan memperkuat keterlibatan. Namun realitasnya berbeda. "Perang terhadap ponsel" ini mengingatkan pada kampanye "war on drugs" di Amerika Serikat yang berlangsung lima puluh tahun namun gagal—penggunaan narkoba justru meningkat3. Program DARE (Drug Abuse Resistance Education) malah menjadi bahan lelucon, kausnya dipakai secara ironis oleh para pelajar.
Paulus menjelaskan pendekatan kontrol teknologi seolah menangani zat adiktif. Tapi strategi pelarangan mendorong penggunaan ke bawah tanah, membuatnya lebih berbahaya, dan menghambat pengguna mencari bantuan4. Buku ujian biru (blue books) memang kembali populer di pendidikan tinggi pasca-pandemi, tren yang bergerak mundur ke alat analog.
Mengapa Mahasiswa Tidak Bisa Lepas dari Ponsel
Mahasiswa menggunakan ponsel di kelas bukan karena tidak peduli pembelajaran. Mereka tidak bisa menahan diri. Teknologi dirancang merangsang otak secara khusus5. Media sosial dikurasi agar pengguna terlibat tanpa sadar, notifikasi muncul di ponsel, tablet, laptop, bahkan jam tangan. Bahkan mahasiswa pascasarjana dan profesor pun kesulitan menjaga batasan sehat dengan ponsel mereka—belanja online (daring) saat presentasi bukan monopoli mahasiswa.
| Aspek 📊 | Strategi Larangan ❌ | Pendekatan Harm Reduction ✅ |
|---|---|---|
| Filosofi Dasar | Teknologi sebagai musuh yang harus dihilangkan | Teknologi sebagai realitas yang perlu dikelola |
| Efektivitas Jangka Panjang | Rendah, mahasiswa cari celah (VPN, ponsel cadangan) | Tinggi, membangun kebiasaan mandiri berkelanjutan |
| Hubungan Pengajar-Mahasiswa | Antagonistik, seperti polisi dan pelanggar | Kolaboratif, berbasis pemahaman bersama |
| Dampak Psikologis | Mahasiswa merasa tidak dipercaya | Mahasiswa belajar tanggung jawab personal |
| Persiapan Dunia Kerja | Tidak melatih manajemen diri | Mengembangkan disiplin mandiri yang dibutuhkan karier |
| Penanganan Kecanduan | Dianggap kegagalan moral individu | Diperlakukan sebagai masalah kesehatan publik |
| Keberlanjutan | Memerlukan pengawasan konstan | Membangun kesadaran internal mahasiswa |
Prinsip Harm Reduction untuk Teknologi
Para ahli sepakat bahwa larangan narkoba bermasalah dan tidak mengurangi penggunaan. Mereka menyarankan harm reduction (pengurangan dampak buruk) yang mencakup akses ke tempat suntik aman, kelompok dukungan, investasi riset, dan ketersediaan sumber daya6. Bagaimana menerjemahkan ini ke penggunaan ponsel?
Prinsip harm reduction meliputi intervensi kesehatan publik, akses sumber daya, pengakuan masalah, dan tidak memperlakukan penyalahgunaan sebagai kegagalan moral. Kita mungkin tidak akan membatasi penggunaan ponsel di lokasi tertentu saja. Namun prinsip umumnya tetap berlaku. Perubahan nyata datang dari mengatur dan meminta pertanggungjawaban produsen serta desainer teknologi—bukan hanya menargetkan individu.
Implementasi di Ruang Kelas
Paulus mengakui tidak bisa menyelesaikan isu ini dalam satu semester. Diskusi tentang teknologi perlu dilakukan, tapi membantu mahasiswa mengembangkan kebiasaan berkelanjutan butuh usaha lebih besar dari satu pengajar7. Idealnya, ini didukung implementasi sistematis berbasis kebijakan lintas sektor masyarakat dari pendidikan hingga perlindungan konsumen. Memperlakukan kecanduan ponsel dan hubungan tidak sehat dengan teknologi sebagai masalah kesehatan publik memungkinkan solusi konkret.
Di kelasnya, Paulus menetapkan batasan jelas dan meminta mahasiswa mematuhinya. Bukan karena percaya mereka gagal secara moral, tapi berharap insentif positif atau negatif membuat mereka merefleksikan perilaku. Dia menjelaskan alasan batasan yang ditetapkan, berbicara tentang pentingnya hadir sepenuhnya8. Dan menegakkan batasan dengan meminta mahasiswa bertanggung jawab—bukan untuk membuat mereka merasa diawasi, tapi agar tahu bahwa penggunaan ponsel berdampak pada orang lain di sekitar, melampaui dampak negatif pada pengalaman belajar mereka sendiri.
Perbedaan Krusial: Alat vs. Keterlibatan Produktif
Ponsel mungkin tidak kondusif untuk lingkungan kelas, dan larangan memang berhasil membuat mahasiswa fokus. Tapi bagaimana ketika mahasiswa masuk dunia kerja dan harus mengatur diri sendiri? Ini kekhawatiran yang sering muncul saat membahas pelarangan ponsel di sekolah9. Alasan penyertaan perangkat adalah keterlibatan, interaktivitas—pikirkan aplikasi Kahoot.
Namun apakah ini hanya alat yang kebetulan menggunakan ponsel, atau alat yang melibatkan teknologi secara produktif? Perbedaan ini krusial, seperti perbedaan antara memberi obat pereda nyeri dengan opiat kepada orang yang berjuang dengan kecanduan versus memberi metadon kepada pecandu opiat. Penting juga tidak lari dari menghadapi peran ponsel, media sosial, dan teknologi secara lebih luas dalam subjek yang kita kerjakan.
Pertanyaan Mendasar untuk Masa Depan
Bagaimana kita terlibat secara sosial online (daring)? Bagaimana berpikir kritis tentang konten yang kita libatkan secara online? Bagaimana memiliki kebiasaan dan hubungan sehat dengan teknologi yang merasuki setiap sudut masyarakat10? Ini pertanyaan yang Paulus tanyakan pada dirinya sebagai mahasiswa yang tumbuh dengan internet, pertanyaan yang dia harapkan bisa didorong untuk dipikirkan mahasiswanya sebagai instruktur.
Perangkat seperti Apple Watch Series 11 dengan baterai enam jam lebih panjang untuk penggunaan sepanjang hari menunjukkan teknologi terus berkembang11. Era 3D-printed Apple Watch menandai perubahan keberlanjutan yang mendorong industri teknologi menuju masa depan lebih berkelanjutan12. Pertanyaannya bukan apakah teknologi ada atau tidak, tapi bagaimana kita membangun hubungan sehat dengannya.
Kesimpulan
"Perang terhadap ponsel" kemungkinan tidak akan menjadi solusi yang kita butuhkan, mengingat kegagalan strategi serupa pada narkoba. Pendekatan harm reduction yang memperlakukan masalah teknologi sebagai isu kesehatan publik menawarkan alternatif lebih manusiawi dan efektif. Dengan menetapkan batasan jelas, menjelaskan alasan di baliknya, dan menegakkannya tanpa sikap antagonistik, pendidik dapat membantu mahasiswa mengembangkan kebiasaan manajemen diri yang akan berguna sepanjang karier mereka. Masa depan bukan tentang menghilangkan teknologi, tapi tentang membangun literasi dan tanggung jawab dalam menggunakannya.
Daftar Pustaka
- Paulus, Junia. "Ending the War on Phones." Blog of the APA, 10 November 2025. https://blog.apaonline.org/2025/11/10/ending-the-war-on-phones/
- Moneycontrol. "Apple brings 3D-printed titanium cases to Apple Watch Ultra 3 and Series 11." 18 November 2025. https://www.moneycontrol.com/technology/apple-brings-3d-printed-titanium-cases-to-apple-watch-ultra-3-and-series-11-article-13682943.html
- ZDNET. "For the first time, the Apple Watch Series 11 is priced to recommend without hesitation." 18 November 2025. https://www.zdnet.com/article/for-the-first-time-the-apple-watch-series-11-is-priced-to-recommend-without-hesitation/
- MSN. "Not just a hobby: 3D printed Apple Watch era signals sustainability shake-up." 18 November 2025. https://www.msn.com/en-in/lifestyle/shopping/not-just-a-hobby-3d-printed-apple-watch-era-signals-sustainability-shake-up/ar-AA1QFyOs

