Filosofi politik kontemporer menghadapi dilema fundamental. Demokrasi runtuh bukan karena kurangnya informasi, melainkan karena jutaan warga terputus dari realitas.1 Kerusuhan Capitol Building Amerika Serikat pada 6 Januari 2021 membuktikan hal ini. Para pengunjuk rasa menyerbu gedung karena mempercayai kebohongan bahwa pemilu "dicuri"—sebuah klaim tanpa bukti yang dapat diverifikasi.
Akar Masalah: Identitas Sosial versus Kebenaran
Penelitian selama beberapa dekade menunjukkan fakta mengejutkan. Keyakinan politik kita tidak didasarkan pada analisis rasional semata.1 Sebaliknya, identitas sosial—kelompok-kelompok yang kita rasakan memiliki kedekatan—mendominasi cara kita memproses informasi. Sistem "kekebalan psikologis" ini melindungi identitas dengan mencari, mempercayai, dan mengingat informasi yang mengafirmasi status kelompok kita. Informasi yang mengancam? Diabaikan.
Fenomena ini bukan hal baru dalam sejarah manusia. Yang berbeda adalah skalanya. Media sosial, radio talk show (talk radio), dan ekonomi perhatian (attention economy) menciptakan jurang menganga antara praktik pencarian kebenaran kolektif yang andal dan identitas sosial yang dianut jutaan orang.1
Mengapa Pemilih Mempercayai Informasi Keliru
Contoh konkret dari pemilu 2024 di Amerika Serikat sangat mencolok. Mayoritas pemilih mendukung kandidat kontroversial karena mempercayai hal-hal yang secara objektif salah: ekonomi lebih buruk daripada kenyataannya, kejahatan lebih merajalela, atlet transgender (trans athletes) lebih banyak, dan migran lebih berbahaya.1 Bukti empiris menunjukkan sebaliknya—namun tidak relevan. Beberapa bahkan percaya kandidat tersebut akan mengakhiri perang Gaza, menurunkan harga, atau membela pekerja. Semuanya terbukti fantasi ketika realitas muncul.
| Aspek Masalah 🎯 | Manifestasi Konkret | Dampak pada Demokrasi |
|---|---|---|
| Bias Kognitif | Penalaran bermotivasi (motivated reasoning) | Penolakan fakta terverifikasi |
| Ketidaktahuan Politik | Kurangnya pemahaman kebijakan publik | Keputusan pemilu tidak terinformasi |
| Ekosistem Media 📱 | Dominasi media sosial dan kabel berita | Fragmentasi realitas bersama |
| Penurunan Jurnalisme | Hilangnya berita lokal dan standar konten | Vakum informasi berkualitas |
| Identitas Kelompok | Polarisasi berbasis afiliasi sosial | Tribalisme politik ekstrem |
| Teori Konspirasi | Penyebaran narasi alternatif masif | Erosi kepercayaan institusional |
| Teknologi Persuasi | Algoritma yang memperkuat bias | Ruang gema (echo chambers) digital |
Solusi Konvensional yang Tidak Cukup
Respons standar terhadap krisis epistemik biasanya bersifat edukatif. Periksa fakta lebih baik. Tingkatkan literasi media. Ajarkan pemikiran kritis. Ciptakan lebih banyak ruang deliberasi.1 Intervensi semacam ini memang berharga—tetapi tidak akan menyelesaikan masalah fundamental.
Generasi sebelumnya tidak lebih berbudi luhur secara epistemik. Mereka berhasil karena kebiasaan tidak sempurna mereka tetap mengarahkan mereka untuk mempercayai praktik epistemik kolektif yang genuinely reliable. Mereka mendapat "keberuntungan epistemik" (epistemic luck).2 Kelompok sosial yang kebetulan mereka identifikasi memandu mereka ke arah yang tepat.
Identitas Sosial sebagai Target Intervensi
Masalahnya bukan ketersediaan informasi baik atau kesempatan berdeliberasi. Akarnya ada pada lanskap formasi identitas sosial yang patologis.1 Ini berarti solusi sejati mengharuskan perubahan siapa orang-orang: bagaimana mereka memahami diri sendiri, identitas mana yang mereka anut dan anggap paling menonjol, serta bagaimana mereka menafsirkan identitas tersebut.
Tugas ini sangat sulit secara praktis dan menghadirkan tantangan moral kompleks. Membentuk dan memobilisasi identitas sosial orang lain adalah eksekusi kekuasaan yang mungkin berbahaya—bahkan di tangan aktor bermotivasi baik yang mencari tujuan demokratis.1 Namun tugas ini bukan tidak mungkin.
Strategi Transformasi Identitas
Pemimpin berbakat kadang membawa transformasi substansial menggunakan alat retoris dan performatif dari politik massa. Gayanya berbeda dari persuasi berorientasi keyakinan yang biasa kita harapkan. Membuat argumen persuasif dalam ruang deliberatif bersama sangat berbeda dari mengundang orang ke dalam ruang tersebut sejak awal.1 Kampanye pembaruan demokratis efektif akan fokus membentuk ulang makna identitas tertentu yang telah ditangkap kekuatan anti-demokratis—seperti ruralitas atau maskulinitas—dan menggeser relevansi relatif identitas lain seperti kelas.
Upaya paling andal untuk mengubah identitas sosial sejumlah besar orang dewasa beroperasi di luar ranah politik massa. Mereka hampir selalu berakar dalam relasi tatap muka berkelanjutan, dalam organisasi yang tujuannya bukan, setidaknya pada awalnya, langsung politis.1 Target audiens bukan "tersangka biasa" yang datang ke pertemuan politik. Untuk membangun kembali identifikasi kolektif melintasi perbedaan—solidaritas—orang harus memiliki alasan lain untuk bekerja sama dan saling mempercayai terlebih dahulu.
Peran Serikat Buruh dan Organisasi Komunitas
Lokasi klasik untuk "pengorganisasian" semacam ini adalah serikat buruh (labor unions), yang selalu memainkan peran sentral dalam ekspansi dan konsolidasi demokrasi.1 Meskipun menghadapi serangan berkelanjutan, pengorganisasian tempat kerja masih memiliki kemampuan unik membawa orang beragam bersama mengejar tujuan bersama. Gerakan buruh yang dihidupkan kembali harus menjadi bagian sentral dari proyek pembaruan demokratis apa pun.
Namun solidaritas, kapasitas sipil (civic capacity), dan kekuatan kolektif juga harus dibangun di sepanjang jalur lain. Identifikasi kolektif perlu dipupuk seputar kekhawatiran bersama seperti utang, perumahan, atau lingkungan—serta komitmen agama, artistik, atau bahkan atletik bersama.1
Implikasi untuk Kebijakan Publik
Bahasa epistemik dalam berita utama membentuk persepsi pembaca tentang objektivitas, penelitian menunjukkan.3 Perbedaan halus dalam penggunaan kata seperti "percaya" versus "menunjukkan" mempengaruhi cara audiens mengevaluasi kredibilitas informasi. Ini menggarisbawahi pentingnya standar jurnalistik yang ketat.
Kepercayaan epistemik (epistemic trust) juga muncul sebagai faktor sukses kritis dalam berbagai domain—dari rehabilitasi psikosomatik hingga praktik klinis.4 Kemampuan untuk mempercayai sumber pengetahuan yang andal adalah fondasi tidak hanya untuk demokrasi yang sehat, tetapi juga untuk kesejahteraan individu.
Kesimpulan
Diagnosis yang tepat sangat penting. Manifestasi masalah mungkin epistemik, tetapi akarnya terletak pada identitas sosial.1 Solusi paling menjanjikan akan menangani akar tersebut secara langsung. Ini jauh lebih sulit daripada memperbaiki pendidikan media atau fact-checking—tetapi ini adalah target yang benar.
Mendeskripsikan apa yang diperlukan untuk menyelamatkan demokrasi jauh lebih mudah daripada benar-benar melakukannya. Namun setidaknya kita dapat memulai dengan pemahaman yang akurat tentang tantangan yang kita hadapi.1 Praktik pencarian kebenaran kolektif yang andal masih ada—masalahnya adalah porsi signifikan populasi tidak lagi mempercayainya. Dan tanpa kepercayaan itu, kebenaran yang mereka tetapkan tidak lagi membatasi mereka yang berkuasa.
Daftar Pustaka
- Bagg, Samuel. "The Problem is Epistemic. The Solution is Not." Blog of the APA, 12 November 2025. https://blog.apaonline.org/2025/11/12/the-problem-is-epistemic-the-solution-is-not/
- "Virtue Epistemology and Epistemic Luck." Nature Research Intelligence, 15 Juli 2025. https://www.nature.com/research-intelligence/nri-topic-summaries/virtue-epistemology-and-epistemic-luck-micro-383117
- "Epistemic language in news headlines shapes readers' perceptions of objectivity." PNAS, 5 Mei 2024. https://www.pnas.org/doi/10.1073/pnas.2314091121
- "Mentalizing and epistemic trust as critical success factors in psychosomatic rehabilitation: results of a single center longitudinal observational study." Frontiers in Psychiatry, 11 Mei 2023. https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2023.1150422/full

