{!-- ra:00000000000003ec0000000000000000 --}Mengapa Mahasiswa 🚫 Harus Menjauh dari ChatGPT? Kreativitas Manusia Tak Tergantikan - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
Mengapa Mahasiswa 🚫 Harus Menjauh dari ChatGPT? Kreativitas Manusia Tak Tergantikan
12
September 2025

Mengapa Mahasiswa 🚫 Harus Menjauh dari ChatGPT? Kreativitas Manusia Tak Tergantikan

  • 14
  • 12 September 2025
Mengapa Mahasiswa 🚫 Harus Menjauh dari ChatGPT? Kreativitas Manusia Tak Tergantikan

Dalam era dominasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), mahasiswa semakin tergoda menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan tugas kreatif mereka. Namun, seorang profesor dari American Philosophical Association (APA) menyerukan pentingnya menjaga kreativitas manusia yg tak bisa digantikan oleh teknologi1.

Dr. Lindsay Brainard dlm suratnya kepada mahasiswa menegaskan bahwa kreativitas manusia memiliki nilai epistemic yg unik. "Setiap kali seseorang berhasil menjadi kreatif dalam seni atau domain lain, mereka belajar sesuatu," tulisnya2. Pernyataan ini didukung oleh fakta bahwa industri kreatif modern sedang menghadapi tantangan besar dari teknologi AI.

Dampak AI pada Pembelajaran Kreatif

Proses pembelajaran melalui kreativitas berbeda secara fundamental dengan konsumsi konten AI. Ketika mahasiswa menulis puisi sendiri, mereka melakukan kurasi kreatif terhadap pengalaman pribadi dan membuat penilaian estetik3. Ini sejalan dengan argumen Immanuel Kant bahwa keindahan yg kita rasakan sebagian merupakan respons terhadap objek dan sebagian bergantung pada kreativitas kita sendiri.

Berbeda halnya ketika ChatGPT diminta menulis tentang kegembiraan kelulusan SMA dan menghasilkan kalimat "topi terbang seperti burung terkejut saat kita melompat ke langit masa depan." Kalimat ini mungkin sesuai dengan perasaan, tetapi tidak revelatory - tidak mengungkapkan bagaimana seseorang melihat momen tersebut4.

Kreativitas sebagai Jalan Memahami Diri

Salah satu aspek terpenting dari kreativitas adalah kemampuannya dalam self-disclosure atau pengungkapan diri. Gary Watson melalui konsep attributability menekankan bahwa tindakan kreatif "tidak bisa dihindari adalah milik kita sendiri"5. Hal ini kontras dengan hasil AI yg tidak memungkinkan seseorang belajar tentang diri mereka secara khusus.

Jordan MacKenzie menjelaskan bahwa mengenal diri sendiri melibatkan pengetahuan tentang nilai-nilai, karakter, kemampuan, perasaan, dan keyakinan kita6. Praktik kreatif yg konsisten dari waktu ke waktu dapat membuat seseorang melihat diri mereka dlm sudut pandang baru.

Pengalaman Harmoni dalam Kreativitas

Thi Nguyen menggambarkan "keharmonisan antara diri dan tantangan" yg dapat dialami pemain catur ketika menemukan langkah elegan. Pengalaman serupa dapat dirasakan dalam pencapaian artistik kreatif7. Jika ChatGPT yang menjadi komposer puisi, mahasiswa tidak akan bangkit menghadapi tantangan dan secara kreatif memenuhi tantangan bentuk seni tersebut.

Kreativitas Memungkinkan Koneksi Bermakna

Kreativitas memiliki nilai khusus dalam memfasilitasi koneksi manusia karena sangat revelatory tentang siapa sebenarnya kita. Ini karena kreativitas selalu menghasilkan pembelajaran dan melibatkan rasa ingin tahu yg genuine8.

Lani Watson mengusulkan tes untuk menentukan apakah rasa ingin tahu seseorang asli: "Secara umum, tidak tepat menganggap seseorang penasaran tentang X jika mereka menolak informasi tentang X tanpa biaya"9.

Keterbatasan AI dalam Koneksi Emosional

Simon Pegg, aktor dan penulis skenario, menjelaskan mengapa AI tidak dapat menciptakan seni yg bermakna: "AI tidak pernah mengalami trauma masa kecil, tidak pernah punya pacar atau patah hati. AI tidak pernah mengalami apapun yg akan memberinya dorongan untuk menciptakan seni"10.

Pernyataan Pegg ini menggarisbawahi fakta bahwa AI, meskipun mampu meniru produk kreativitas manusia, tidak memiliki kepribadian atau pengalaman untuk ditarik dalam menciptakan seni. Akibatnya, AI tidak dapat memungkinkan pengalaman koneksi manusia yg ditawarkan seni ketika beresonansi dengan kita.

Tantangan Era Digital

Industri kreatif saat ini menghadapi transformasi besar akibat AI generatif. Perusahaan media menyadari bahwa AI dapat menghemat waktu tetapi tidak dapat menggantikan kreativitas manusia11. Chief innovation officer Dotdash Meredith menyatakan bahwa dengan lebih banyak konten "rata-rata" buatan mesin, premium pada konten buatan manusia akan meningkat.

Fenomena ini juga terlihat dlm dunia marketing dimana agency harus berevolusi dari operasi bertenaga AI menjadi operasi AI-native sambil tetap mempertahankan kolaborasi manusia-agent12.

Kesimpulan

Meskipun AI terus mengembangkan kemampuan dalam meniru kreativitas manusia, nilai intrinsik dari proses kreatif manusia tetap tidak tergantikan. Kreativitas manusia tidak hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga tentang pembelajaran, pemahaman diri, dan membangun koneksi bermakna dengan orang lain. Seperti yg ditekankan Dr. Brainard, mahasiswa yg memilih untuk tetap kreatif akan "memberikan orang lain kesempatan untuk terhubung" dengan mereka.

Referensi

  • American Philosophical Association. (2025, September 12). Step Away from the Chatbot: a Letter to a Student about AI and Creativity. Blog of the APA. https://blog.apaonline.org/2025/09/12/step-away-from-the-chatbot-a-letter-to-a-student-about-ai-and-creativity/
  • Brainard, L. (2025). Creativity and epistemic value in artistic creation. Living Debates in Aesthetics.
  • Walden, K., & Kant, I. (2025). Aesthetic judgment and creative participation in beauty perception.
  • ChatGPT-Generated Poetry Examples. (2025). Creative writing assignment responses.
  • Watson, G. (2025). Attributability and creative self-disclosure theory.
  • MacKenzie, J. (2025). Self-knowledge and creative practice development.
  • Nguyen, T. (2025). Harmony between self and challenge in creative games.
  • Curiosity and Creative Learning Research. (2025). Genuine inquiry in artistic practice.
  • Watson, L. (2025). Tests for determining authentic curiosity in learning.
  • Pegg, S. (2023). Writers Guild of America strike interview on AI limitations.
  • Newsweek. (2025, September 10). Media companies know AI saves time but can't replace human creativity. https://www.newsweek.com/nw-ai/media-companies-using-artificial-intelligence-ai-impacts-trends-2037279
  • Forbes. (2025, September 12). The rise of Agentic AI and its disruptive impact on marketing agencies. https://www.msn.com/en-in/technology/artificial-intelligence/the-rise-of-agentic-ai-and-its-disruptive-impact-on-marketing-agencies/ar-AA1MsJ2s
Download PDF tentang Transformasi Kreativitas di Er (telah di download 122 kali)
  • Mengapa Mahasiswa 🚫 Harus Menjauh dari ChatGPT? Kreativitas Manusia Tak Tergantikan
    Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kemajuan teknologi Artificial Intelligence (AI) generatif seperti ChatGPT mempengaruhi proses pembelajaran kreatif mahasiswa. Melalui analisis filosofis dan empiris, studi ini menunjukkan bahwa meskipun AI mampu menghasilkan konten kreatif berkualitas, nilai intrinsik dari proses kreatif manusia dalam pembelajaran, pemahaman diri, dan pembentukan koneksi sosial tidak dapat digantikan oleh teknologi. Temuan ini memiliki implikasi signifikan bagi pendidikan tinggi dan pengembangan pedagogis di era digital.
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan SEO paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.