{!-- ra:00000000000003ed0000000000000000 --}Solidaritas Eksistensial 🤝 di Era AI: Mengapa Manusia Masih Butuh Koneksi Emosional Sejati - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
Solidaritas Eksistensial 🤝 di Era AI: Mengapa Manusia Masih Butuh Koneksi Emosional Sejati
6
November 2025

Solidaritas Eksistensial 🤝 di Era AI: Mengapa Manusia Masih Butuh Koneksi Emosional Sejati

  • 6
  • 06 November 2025
Solidaritas Eksistensial 🤝 di Era AI: Mengapa Manusia Masih Butuh Koneksi Emosional Sejati

Teknologi Artificial Intelligence (AI, Kecerdasan Buatan) telah mencapai titik di mana ia dapat menulis seperti manusia. Namun, menurut filsuf Evan Selinger dari American Philosophical Association (APA), ada satu hal yang tidak akan pernah bisa AI berikan: "solidaritas eksistensial"—kenyamanan mendengar dari orang lain yang hidup dalam tubuh fana seperti kita1. Konsep ini menjadi perdebatan penting di tengah klaim Yuval Noah Harari bahwa AI sudah menjadi "pendongeng yang lebih baik" dari manusia.

Apa Itu Solidaritas Eksistensial?

Selinger memperkenalkan istilah baru: solidaritas eksistensial. Ini tentang kenyamanan emosional. Bukan sekadar kata-kata indah1. Kita butuh mendengar dari mereka yang benar-benar hidup, merasakan sakit, kehilangan, cinta—semua yang membuat kita manusia.

Filsuf Inggris Gillian Rose menulis memoar Love's Work saat menghadapi kanker ovarium pada 1995. Karyanya sensitif menggabungkan memori dengan pemikiran filosofis tentang cinta yang rapuh1. Rose pernah menulis ulang kalimat terkenal Tolstoy: "Semua cinta yang tidak bahagia adalah sama" karena kehilangan adalah yang terbesar. Tidak ada demokrasi dalam hubungan cinta, kata Rose—hanya belas kasihan.

Aspek 🎯Solidaritas Eksistensial (Manusia) 👤AI/Chatbot 🤖
Pengalaman HidupBenar-benar mengalami cinta, kehilangan, penderitaanHanya mensimulasikan berdasarkan data pelatihan
Tubuh FanaHidup dalam tubuh yang rapuh, menua, dan akan matiTidak memiliki tubuh atau kesadaran fisik
Empati SejatiMuncul dari pengalaman keterhubungan nyataSimulasi algoritmik tanpa perasaan
MotivasiDorongan personal untuk berbagi dan terhubungPemrograman untuk merespons pola
Konteks BudayaTerbentuk dari pengalaman hidup dalam komunitasMenyerap dari dataset tanpa pemahaman kontekstual
KeunikanSetiap cerita berakar pada perjalanan individualOutput berdasarkan pola statistik
Keaslian NarasiMuncul dari kebutuhan berbagi pengalaman nyataGenerasi teks berdasarkan probabilitas

Mengapa AI Tidak Bisa Memberikan Solidaritas Sejati

ChatGPT dan Ilusi Kebijaksanaan

ChatGPT bisa menghasilkan aforisma yang terdengar mendalam. Contoh: "mencintai adalah berisiko hidup di bawah hukum yang tidak kamu tulis, namun harus ditaati saat ditegakkan"1. Kedengarannya bijak—tapi ChatGPT yang membuatnya. Bot tidak pernah mencintai, menderita, atau berjuang dengan identitas.

Filsuf Peter Singer membuat chatbot AI versi dirinya untuk menyebarkan pandangan utilitariannya. Namun ketika ditanya tentang kritik terhadap gerakan altruisme efektif—khususnya terkait Sam Bankman-Fried yang terjerat skandal—bot hanya bisa merespons secara superfisial1.

Fiksi dan Pengalaman Penulis

James Baldwin pernah bilang bahwa Dostoevsky dan Dickens mengajarkan bahwa penderitaan yang paling menyiksa justru menghubungkannya dengan semua manusia1. Yang penting: Baldwin mengidentifikasi diri dengan penulis, bukan karakter fiksi. Karena Dickens benar-benar mengalami kesengsaraan masa kecil di pabrik sementara orangtuanya dipenjara karena utang.

Penulis fiksi bisa menciptakan dunia yang membuat kita merasa "dilihat" karena mereka hidup dalam tubuh yang rentan—menua, sakit, butuh orang lain, dan akan mati. Ketubuhan ini yang membuat mereka peka terhadap kerentanan orang lain, seperti dijelaskan Carlos Montemayor, Jodi Halpern, dan Abrol Fairweather1. Tanpa ketubuhan, AI hanya mensimulasikan penampilan empati.

Komodifikasi Keinginan Manusia akan Koneksi

Tiga perkembangan menunjukkan kita mendekati pasar massal untuk narasi "eksperiensial" buatan AI. Pertama, influencer AI yang memposting dengan "caption mengharukan" dan ribuan penggemar yang menganggap bot memiliki pengalaman nyata1. Kedua, popularisasi AI companions (teman AI) yang dirancang bertindak seperti manusia—jika seseorang bisa melihat AI sepenuhnya performatif sebagai teman, mengapa tidak tertarik pada memoarnya?

Ketiga, penulis memoar manusia menggunakan versi AI suara mereka untuk menarasikan audiobook. Karena suara adalah bagian identitas sosial kita yang intim, ketika pendengar menerima AI sebagai suara pengalaman personal, mereka terdorong melihat AI sebagai sumber pengalaman itu1.

Sebelum era AI sekarang, influencer online sudah berhasil memonetisasi keinginan akan keaslian dengan "autentisitas" yang dipentaskan. Bahkan banyak yang tanpa malu menjiplak cerita orang lain. Pasar podcast pun jenuh dengan pengakuan mentah yang sulit dibedakan antara yang tulus atau manipulatif1.

Risiko dan Harapan di Masa Depan

Penelitian dari China Daily menunjukkan Universitas Fudan mengurangi tajam penerimaan mahasiswa humaniora menjadi sekitar 20 persen pada 2025, mengutip berkurangnya minat pelamar dan persepsi permintaan sosial2. Ini menandakan kekhawatiran tentang relevansi humaniora di era AI—padahal justru humaniora yang memahami solidaritas eksistensial.

Namun tidak semua orang akan mau membaca atau mendengar akun orang pertama yang ditulis bot. Banyak dari kita masih mendambakan solidaritas eksistensial: orang nyata yang melakukan yang terbaik untuk berbagi atau mengeksplorasi kemenangan dan trauma mereka1. Meski bot bisa menawarkan ilusi yang meyakinkan, perbedaan antara "person" (pribadi) dan "persona" (topeng) semakin dirusak dalam budaya kita.

Studi tentang penggunaan ChatGPT menunjukkan bahwa aplikasi ini menjadi yang paling banyak diunduh di dunia bulan lalu, dengan satu dari 10 orang dewasa secara global menggunakannya—dan semakin banyak yang mengatakan tidak bisa hidup tanpanya3. Namun survei juga mengungkap kesenjangan antara ekspektasi dan realitas: banyak yang menggunakannya untuk tugas sederhana, bukan untuk koneksi emosional mendalam.

Kesimpulan

Solidaritas eksistensial adalah kebutuhan manusia yang tidak bisa digantikan AI. Kita perlu narasi dari orang yang benar-benar berjuang—bukan simulasi algoritmik. Meski bot akan terus berkembang dan pasar akan mencoba mengkomodifikasi keinginan kita akan keaslian, kita harus memutuskan: apakah yang penting hanya kata-kata, atau kita peduli dari mana kata-kata itu berasal?

Dengan bot, terserah kita. Dengan manusia, kita harus menerima bahwa kadang kita tertipu oleh upaya mereka merekayasa keintiman. Tidak ada cara pasti untuk membaca orang dan mendeteksi ketulusan. Tapi mengingat betapa bermanfaatnya pengalaman solidaritas eksistensial, kita tidak bisa menyerah mencarinya1. Ini salah satu risiko yang perlu kita jalani—karena kita adalah manusia dengan kebutuhan manusiawi.

Daftar Pustaka

Download PDF tentang Solidaritas Eksistensial di Er (telah di download 11 kali)
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan SEO paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.