{!-- ra:00000000000003ec0000000000000000 --}Chris Lattner & Jeremy Howard Bicara 🗣️ Craftsmanship Pemrograman di Era AI Agentic - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
Chris Lattner & Jeremy Howard Bicara 🗣️ Craftsmanship Pemrograman di Era AI Agentic
19
November 2025

Chris Lattner & Jeremy Howard Bicara 🗣️ Craftsmanship Pemrograman di Era AI Agentic

  • 6
  • 19 November 2025
Chris Lattner & Jeremy Howard Bicara 🗣️ Craftsmanship Pemrograman di Era AI Agentic

Pendahuluan: Kekhawatiran di Balik Revolusi AI

Jeremy Howard, pendiri fast.ai yang telah membantu jutaan orang belajar AI (Artificial Intelligence/Kecerdasan Buatan), menyatakan kekhawatiran mendalam tentang tren pengembangan perangkat lunak saat ini. Ketika CEO membanggakan tim mereka menghasilkan 10.000 baris kode AI per hari, apakah kita berlomba menuju masa depan di mana tidak ada yang memahami cara kerja apapun?1 Pertanyaan ini ia ajukan dalam percakapan dengan Chris Lattner pada 5 Oktober 2025.

Chris Lattner bukan sembarang programmer. Ia pencipta LLVM, kompiler Clang, bahasa pemrograman Swift, dan infrastruktur MLIR. Karyanya menjadi fondasi bagi Rust, Swift di iPhone, bahkan kompiler yang digunakan Google dan Apple. Howard memilih berbicara dengan Lattner karena kodenya terus berjalan di seluruh dunia selama dua dekade lebih.2

Prinsip Desain dari Dasar

Lattner selalu bertanya fundamental. Perjalanan saya selalu tentang memahami fundamental dari apa yang membuat sesuatu bekerja, jelasnya.1 LLVM dibuat saat liburan Natal 2000. Tidak pernah dirancang untuk Rust atau Julia. Tapi arsitekturnya memungkinkan hal-hal yang tidak pernah dibayangkan penciptanya.

Pendekatan modular ini kini semakin relevan. Arsitektur modular AI mulai menjadi standar perusahaan karena model lebih kecil dengan smart retrieval memberikan hasil lebih cepat, murah, dan jelas tanpa kompleksitas sistem black-box raksasa.3 SuperX bahkan meluncurkan Modular AI Factory dengan siklus deployment kurang dari 6 bulan, jauh lebih cepat dari standar 18-24 bulan.4

Keahlian versus Vibe-Coding

Lattner menggunakan AI. Ia mendapat peningkatan produktivitas 10-20% dari code completion. Tapi ia khawatir dengan vibe-coding. Orang-orang bilang, 'Oke, mungkin akan berhasil.' Seperti mesin judi. Tarik tuas lagi, kata Howard.1 Lattner menyaksikan insinyur senior membiarkan agentic loop menghasilkan bug fix yang sebenarnya salah total. Gejala hilang, tapi produk justru lebih buruk.

🔍 Aspek⚙️ Pendekatan Tradisional🤖 Vibe-Coding
Pemahaman kodeMendalamSuperfisial
DebuggingSistematisTrial-error
ArsitekturTerencanaAd-hoc
Longevity produkDekadeTidak pasti
Pertumbuhan karirProgresifStagnan
Unit testBermaknaPotensi tech debt
Metrik suksesKualitas produkJumlah baris kode

Dogfooding dan Iterasi Ketat

Swift dilahirkan dalam kerahasiaan Apple. Hasilnya? Tools tidak berfungsi, kompilasi lambat, sering crash. Mojo berbeda. Kami menganggap diri kami pelanggan pertama. Kami punya ratusan ribu baris kode Mojo, ungkap Lattner.1 Platform Solveit dari fast.ai menerapkan filosofi serupa: AI melihat persis apa yang dilihat manusia, dan sebaliknya.

FPT memperkenalkan AI Notebook berbasis JupyterLab yang berjalan di NVIDIA accelerated computing sebagai pendamping coding terpercaya bagi pengembang.5 Ini sejalan dengan keyakinan Lattner bahwa tight iteration loops krusial. Edit kode, kompilasi, jalankan tes, dalam waktu kurang dari semenit. Idealnya 30 detik.

Bifurkasi Keterampilan

Howard melihat pemisahan akan terjadi. Orang yang menggunakan AI dengan cara salah akan semakin buruk. Yang menggunakannya untuk belajar lebih cepat akan melampaui kecepatan pertumbuhan kemampuan AI, katanya.1 Saran Lattner untuk yang baru lulus: jangan ikuti jalur mayoritas. Ketika semua orang zig, saatnya zag. Mastery adalah kuncinya.

Kesimpulan

Craftsmanship pemrograman tidak mati karena AI. Justru semakin penting. Lattner dan Howard sepakat: AI adalah alat untuk berpikir lebih efektif, bukan pengganti pemikiran. LLVM bertahan 25 tahun karena arsitektur dan pemahaman mendalam penciptanya. Prinsip itu abadi.

Daftar Pustaka

Download PDF tentang Keahlian Pemrograman di Era Ke (telah di download 19 kali)
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan ai paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.