{!-- ra:00000000000003ea0000000000000000 --}Mengakhiri Perang 📱 Ponsel di Kelas: Pendekatan Baru Pendidi - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
Mengakhiri Perang 📱 Ponsel di Kelas: Pendekatan Baru Pendidi
10
November 2025

Mengakhiri Perang 📱 Ponsel di Kelas: Pendekatan Baru Pendidi

  • 7
  • 10 November 2025
Mengakhiri Perang 📱 Ponsel di Kelas: Pendekatan Baru Pendidi

Larangan penggunaan ponsel di ruang kelas universitas ternyata bukan solusi jangka panjang yang efektif. Junia Paulus, seorang pengajar yang baru mengampu kursus pertamanya musim panas lalu, mengamati bahwa strategi pembatasan teknologi justru menciptakan antagonisme antara pendidik dan mahasiswa1. Mahasiswa tetap menemukan celah melalui VPN (Virtual Private Network), ponsel cadangan, bahkan mengirim pesan lewat Apple Watch yang kini hadir dengan casing titanium hasil 3D printing (pencetakan tiga dimensi)2.

Kegagalan Strategi Larangan Total

Penelitian menunjukkan lingkungan belajar tanpa teknologi memang meningkatkan pemahaman, mengurangi kecemasan, dan memperkuat keterlibatan. Namun realitasnya berbeda. "Perang terhadap ponsel" ini mengingatkan pada kampanye "war on drugs" di Amerika Serikat yang berlangsung lima puluh tahun namun gagal—penggunaan narkoba justru meningkat3. Program DARE (Drug Abuse Resistance Education) malah menjadi bahan lelucon, kausnya dipakai secara ironis oleh para pelajar.

Paulus menjelaskan pendekatan kontrol teknologi seolah menangani zat adiktif. Tapi strategi pelarangan mendorong penggunaan ke bawah tanah, membuatnya lebih berbahaya, dan menghambat pengguna mencari bantuan4. Buku ujian biru (blue books) memang kembali populer di pendidikan tinggi pasca-pandemi, tren yang bergerak mundur ke alat analog.

Mengapa Mahasiswa Tidak Bisa Lepas dari Ponsel

Mahasiswa menggunakan ponsel di kelas bukan karena tidak peduli pembelajaran. Mereka tidak bisa menahan diri. Teknologi dirancang merangsang otak secara khusus5. Media sosial dikurasi agar pengguna terlibat tanpa sadar, notifikasi muncul di ponsel, tablet, laptop, bahkan jam tangan. Bahkan mahasiswa pascasarjana dan profesor pun kesulitan menjaga batasan sehat dengan ponsel mereka—belanja online (daring) saat presentasi bukan monopoli mahasiswa.

Aspek 📊Strategi Larangan ❌Pendekatan Harm Reduction
Filosofi DasarTeknologi sebagai musuh yang harus dihilangkanTeknologi sebagai realitas yang perlu dikelola
Efektivitas Jangka PanjangRendah, mahasiswa cari celah (VPN, ponsel cadangan)Tinggi, membangun kebiasaan mandiri berkelanjutan
Hubungan Pengajar-MahasiswaAntagonistik, seperti polisi dan pelanggarKolaboratif, berbasis pemahaman bersama
Dampak PsikologisMahasiswa merasa tidak dipercayaMahasiswa belajar tanggung jawab personal
Persiapan Dunia KerjaTidak melatih manajemen diriMengembangkan disiplin mandiri yang dibutuhkan karier
Penanganan KecanduanDianggap kegagalan moral individuDiperlakukan sebagai masalah kesehatan publik
KeberlanjutanMemerlukan pengawasan konstanMembangun kesadaran internal mahasiswa

Prinsip Harm Reduction untuk Teknologi

Para ahli sepakat bahwa larangan narkoba bermasalah dan tidak mengurangi penggunaan. Mereka menyarankan harm reduction (pengurangan dampak buruk) yang mencakup akses ke tempat suntik aman, kelompok dukungan, investasi riset, dan ketersediaan sumber daya6. Bagaimana menerjemahkan ini ke penggunaan ponsel?

Prinsip harm reduction meliputi intervensi kesehatan publik, akses sumber daya, pengakuan masalah, dan tidak memperlakukan penyalahgunaan sebagai kegagalan moral. Kita mungkin tidak akan membatasi penggunaan ponsel di lokasi tertentu saja. Namun prinsip umumnya tetap berlaku. Perubahan nyata datang dari mengatur dan meminta pertanggungjawaban produsen serta desainer teknologi—bukan hanya menargetkan individu.

Implementasi di Ruang Kelas

Paulus mengakui tidak bisa menyelesaikan isu ini dalam satu semester. Diskusi tentang teknologi perlu dilakukan, tapi membantu mahasiswa mengembangkan kebiasaan berkelanjutan butuh usaha lebih besar dari satu pengajar7. Idealnya, ini didukung implementasi sistematis berbasis kebijakan lintas sektor masyarakat dari pendidikan hingga perlindungan konsumen. Memperlakukan kecanduan ponsel dan hubungan tidak sehat dengan teknologi sebagai masalah kesehatan publik memungkinkan solusi konkret.

Di kelasnya, Paulus menetapkan batasan jelas dan meminta mahasiswa mematuhinya. Bukan karena percaya mereka gagal secara moral, tapi berharap insentif positif atau negatif membuat mereka merefleksikan perilaku. Dia menjelaskan alasan batasan yang ditetapkan, berbicara tentang pentingnya hadir sepenuhnya8. Dan menegakkan batasan dengan meminta mahasiswa bertanggung jawab—bukan untuk membuat mereka merasa diawasi, tapi agar tahu bahwa penggunaan ponsel berdampak pada orang lain di sekitar, melampaui dampak negatif pada pengalaman belajar mereka sendiri.

Perbedaan Krusial: Alat vs. Keterlibatan Produktif

Ponsel mungkin tidak kondusif untuk lingkungan kelas, dan larangan memang berhasil membuat mahasiswa fokus. Tapi bagaimana ketika mahasiswa masuk dunia kerja dan harus mengatur diri sendiri? Ini kekhawatiran yang sering muncul saat membahas pelarangan ponsel di sekolah9. Alasan penyertaan perangkat adalah keterlibatan, interaktivitas—pikirkan aplikasi Kahoot.

Namun apakah ini hanya alat yang kebetulan menggunakan ponsel, atau alat yang melibatkan teknologi secara produktif? Perbedaan ini krusial, seperti perbedaan antara memberi obat pereda nyeri dengan opiat kepada orang yang berjuang dengan kecanduan versus memberi metadon kepada pecandu opiat. Penting juga tidak lari dari menghadapi peran ponsel, media sosial, dan teknologi secara lebih luas dalam subjek yang kita kerjakan.

Pertanyaan Mendasar untuk Masa Depan

Bagaimana kita terlibat secara sosial online (daring)? Bagaimana berpikir kritis tentang konten yang kita libatkan secara online? Bagaimana memiliki kebiasaan dan hubungan sehat dengan teknologi yang merasuki setiap sudut masyarakat10? Ini pertanyaan yang Paulus tanyakan pada dirinya sebagai mahasiswa yang tumbuh dengan internet, pertanyaan yang dia harapkan bisa didorong untuk dipikirkan mahasiswanya sebagai instruktur.

Perangkat seperti Apple Watch Series 11 dengan baterai enam jam lebih panjang untuk penggunaan sepanjang hari menunjukkan teknologi terus berkembang11. Era 3D-printed Apple Watch menandai perubahan keberlanjutan yang mendorong industri teknologi menuju masa depan lebih berkelanjutan12. Pertanyaannya bukan apakah teknologi ada atau tidak, tapi bagaimana kita membangun hubungan sehat dengannya.

Kesimpulan

"Perang terhadap ponsel" kemungkinan tidak akan menjadi solusi yang kita butuhkan, mengingat kegagalan strategi serupa pada narkoba. Pendekatan harm reduction yang memperlakukan masalah teknologi sebagai isu kesehatan publik menawarkan alternatif lebih manusiawi dan efektif. Dengan menetapkan batasan jelas, menjelaskan alasan di baliknya, dan menegakkannya tanpa sikap antagonistik, pendidik dapat membantu mahasiswa mengembangkan kebiasaan manajemen diri yang akan berguna sepanjang karier mereka. Masa depan bukan tentang menghilangkan teknologi, tapi tentang membangun literasi dan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Daftar Pustaka

  • Paulus, Junia. "Ending the War on Phones." Blog of the APA, 10 November 2025. https://blog.apaonline.org/2025/11/10/ending-the-war-on-phones/
  • Moneycontrol. "Apple brings 3D-printed titanium cases to Apple Watch Ultra 3 and Series 11." 18 November 2025. https://www.moneycontrol.com/technology/apple-brings-3d-printed-titanium-cases-to-apple-watch-ultra-3-and-series-11-article-13682943.html
  • ZDNET. "For the first time, the Apple Watch Series 11 is priced to recommend without hesitation." 18 November 2025. https://www.zdnet.com/article/for-the-first-time-the-apple-watch-series-11-is-priced-to-recommend-without-hesitation/
  • MSN. "Not just a hobby: 3D printed Apple Watch era signals sustainability shake-up." 18 November 2025. https://www.msn.com/en-in/lifestyle/shopping/not-just-a-hobby-3d-printed-apple-watch-era-signals-sustainability-shake-up/ar-AA1QFyOs
Download PDF tentang Pendekatan Harm Reduction dala (telah di download 6 kali)
  • Mengakhiri Perang 📱 Ponsel di Kelas: Pendekatan Baru Pendidi
    Larangan penggunaan ponsel di ruang kelas universitas ternyata bukan solusi jangka panjang yang efektif. Junia Paulus, seorang pengajar yang baru mengampu kursus pertamanya musim panas lalu, mengamati bahwa strategi pembatasan teknologi justru menciptakan antagonisme antara pendidik dan mahasiswa1. Mahasiswa tetap menemukan celah melalui VPN (Virtual Private Network), ponsel cadangan, bahkan mengirim pesan lewat Apple Watch yang kini hadir dengan casing titanium hasil 3D printing (pencetakan tiga dimensi).
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan SEO paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.