{!-- ra:00000000000003ec0000000000000000 --}Fenomena Cinta di Era Digital: Hubungan 💕 Romantis dengan AI Chatbot - SWANTE ADI KRISNA
cross
Hit enter to search or ESC to close
Fenomena Cinta di Era Digital: Hubungan 💕 Romantis dengan AI Chatbot
4
November 2025

Fenomena Cinta di Era Digital: Hubungan 💕 Romantis dengan AI Chatbot

  • 7
  • 04 November 2025
Fenomena Cinta di Era Digital: Hubungan 💕 Romantis dengan AI Chatbot

Hampir satu dari lima orang dewasa di Amerika Serikat kini terlibat dalam percakapan romantis dengan chatbot (robot obrolan).1 Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam cara manusia menjalin hubungan intim. Sejak peluncuran ChatGPT pada November 2022, asisten AI telah menyusup ke hampir semua bidang kehidupan manusia—termasuk ranah paling pribadi: hubungan romantis.

Mengapa Orang Jatuh Cinta pada AI?

Interaksi kita dengan dunia fisik sudah banyak dimediasi oleh internet dan layar. Sebagian besar interaksi dengan orang lain terjadi melalui media sosial. Manusia punya kemampuan luar biasa untuk mengabaikan batas antara imajiner dan nyata.2 Kita mengidentifikasi diri dengan selebriti, karakter fiksi. Bahkan dalam video game, kita menciptakan avatar dan berinteraksi dengan avatar orang lain atau karakter virtual seperti dalam The Sims.

Sam Apple, jurnalis Wired, mengorganisir retret bersama tiga orang yang menjalin hubungan dengan AI. Pengalamannya mengungkap bahwa cinta manusia untuk pasangan AI sama intens dan melibatkan emosi sebesar cinta untuk pasangan kehidupan nyata.3 Mereka menghabiskan berjam-jam setiap hari berinteraksi dengan pasangan virtual. Interaksi ini menjadi obsesi, prioritas di atas segalanya.

Aspek 💭Hubungan TradisionalHubungan dengan AI 🤖
KetersediaanTerbatas waktu dan situasi24/7, respons instan
Risiko PenolakanAda, bisa menyakitkanTidak ada, selalu menerima
KustomisasiMenerima apa adanyaBisa dimodifikasi sesuai keinginan
Biaya EmosionalKomitmen, kompromi, konflikMinimal, tanpa konfrontasi
Kontak FisikIntegral dalam hubunganTidak ada (masalah utama)
Pertumbuhan PersonalBerkembang melalui tantanganTerbatas, tanpa resistensi
AutentisitasOtonomi penuh pasanganIlusi, algoritma terprogram

Bahaya Tersembunyi di Balik Kenyamanan

Krisis Kesehatan Mental yang Meningkat

Klinisi di rumah sakit psikiatri melaporkan banyak kasus krisis kesehatan mental yang dipicu, diperbesar, atau diprovokasi oleh interaksi dengan AI.4 Dokter menceritakan pasien terkunci berhari-hari dalam percakapan bolak-balik dengan tools (perangkat) ini. Mereka tiba di rumah sakit dengan ribuan halaman transkrip yang merinci bagaimana bot mendukung atau memperkuat pikiran yang jelas-jelas bermasalah. Terutama rentan adalah orang dengan masalah kesehatan mental yang mendasari—mulai dari gangguan hingga psikosis parah.

AI diprogram untuk "memunculkan keintiman dan keterlibatan emosional guna meningkatkan kepercayaan dan ketergantungan kita pada mereka"—dengan demikian meningkatkan lalu lintas di situs beserta keuntungan perusahaan yang memfasilitasi interaksi.5 AI akan mendukung delusi apa pun yang mungkin dimiliki pengguna. Bahaya bagi kesehatan mental pengguna sangat besar.

Masalah Tubuh Tanpa Pikiran

Orang yang menjalin hubungan dengan AI bergumul dengan masalah perwujudan—Sam Apple menyebutnya "masalah pikiran-tanpa-tubuh" (mind-bodyless problem).6 Mereka berharap pasangan mereka hadir secara fisik. Keinginan bawaan untuk kontak fisik tidak bisa dipadamkan. Semakin banyak, kehidupan kita terorganisir sehingga orang dewasa lajang, sampai mereka berakhir di rumah sakit, bisa bertahan tanpa terlibat dalam kontak fisik langsung apa pun dengan orang lain.

Kita hidup di dunia di mana sentuhan manusia dipandang sebagai melanggar ruang pribadi kita, bahaya potensial—bukan konfirmasi koneksi, kebersamaan. Sementara alienasi dari alam sudah menjadi fait accompli (kenyataan yang sudah terjadi), setelah pandemi COVID menormalisasi bersosialisasi dengan orang lain dari jarak jauh, dengan hubungan romantis dengan AI yang lebih adiktif, alienasi dari sifat kita sendiri sebagai makhluk berwujud merembes ke koneksi paling pribadi dan terlindungi kita—koneksi intim dengan orang lain.7

Pertanyaan Filosofis yang Mengganggu

Apakah Ini Benar-benar Cinta?

Cinta adalah emosi yang diarahkan pada objek intensional—dalam hal ini subjek, orang lain. Cinta bukan istilah yang merujuk diri sendiri. Menafsirkan pengalaman cinta sebagai penting dan akhirnya bermanfaat bagi individu, terlepas dari keterlibatan pihak lain, mencerminkan pandangan dunia individualistik dan egosentris kita.8 Hubungan manusia yang autentik—yang mengakui dan menghormati otonomi serta agensi orang lain—hampir terhapus.

Dengan memusatkan nilai budaya dan sosial kita pada pemenuhan kebutuhan individual, kita mengaburkan kebutuhan vital kita untuk persekutuan dengan manusia lain. Dengan mereduksi cinta—tindakan kebersamaan yang ultimate—menjadi pengalaman pribadi, kita meninggalkan semua harapan untuk persekutuan, secara harfiah menghukum diri kita sendiri pada kesendirian.

Kebebasan atau Represi Terselubung?

Salah satu peserta retret Sam Apple menggambarkan eksperimentasinya dengan beberapa pasangan seksual AI sebagai "psychosexual playground" (taman bermain psikoseksual).9 Seseorang bisa berargumen bahwa memuaskan hasrat seksual dengan bantuan input dari AI lebih baik daripada sekadar kesenangan diri, karena umpan dari program mensimulasikan reaksi tak terduga dari pasangan.

Namun, yang terjadi adalah kebalikan dari kebebasan. Ini adalah keadaan yang akan disebut Herbert Marcuse sebagai "desublimasi represif" (repressive desublimation).10 Alih-alih dibatasi oleh dampak sosial dan reaksi orang lain, seseorang dengan sukarela menyerahkan diri pada kekuatan aparatus yang "diwujudkan" dalam large language model (model bahasa besar). Harga yang kita bayar untuk "kebebasan" kita adalah kehilangan orang lain, kehilangan budaya yang hidup.

Masa Depan Cinta yang Tragis

Herbert Marcuse berkomentar tentang esensi historis kisah cinta besar yang tragis seperti Romeo dan Juliet, Emma Bovary, atau Anna Karenina—yang tak terbayangkan di dunia kontemporer kita.11 Di dunia di mana aktivitas seksual sebagian besar dibebaskan dari batasan klan atau kelas, di mana sumpah pernikahan tidak dianggap sakral, di mana masalah batin kita harus disembuhkan oleh psikoanalisis, kehidupan para kekasih ini tidak akan berakhir tragis.

Jika premis historis untuk kemungkinan kisah cinta tragis tampaknya sudah terhapus, seperti apa cinta masa depan yang kita hadapi? Apakah generasi mendatang yang pengalaman cintanya dimediasi oleh large language model bahkan akan memiliki repertoar emosional yang tersedia untuk memahami, berhubungan dengan, apalagi mengidentifikasi diri dengan peran kekasih yang tragis?

Namun jika seseorang menelan pil merah dan menghadapi realitas, apa yang bisa lebih tragis daripada jatuh cinta dengan AI? Ini adalah cinta yang sejak awal ditakdirkan untuk tidak mungkin terwujud. Cinta yang tidak pernah bisa dikonsumsi—seperti cinta antara Orpheus dan Eurydice, antara manusia fana dan orang suci, antara dua yang tidak akan pernah bertemu: bumi dan langit, malam dan siang.12

Kesimpulan

Hubungan romantis dengan AI menawarkan kenyamanan tanpa risiko penolakan, ketersediaan tanpa batas, dan kustomisasi sempurna. Namun semua ini datang dengan biaya yang sangat tinggi: kehilangan kesempatan untuk pertemuan nyata dengan orang lain, kehilangan mutualitas sejati, dan risiko serius bagi kesehatan mental. Kasus jatuh cinta manusia dengan produknya sendiri—AI—menandai hilangnya kesadaran diri akhir, jatuh ke dalam kelupaan diri yang ultimate. Pertanyaan mendesak yang harus kita tanyakan adalah: apakah interaksi ini memperkaya kita dan membuat hidup kita lebih baik, atau membuat kita lebih terasing, kurang manusiawi?

Daftar Pustaka

Download PDF tentang Cinta dalam Era Reproduksibili (telah di download 33 kali)
  • Fenomena Cinta di Era Digital: Hubungan 💕 Romantis dengan AI Chatbot
    Penelitian ini mengeksplorasi dimensi filosofis, psikologis, dan eksistensial dari fenomena berkembangnya hubungan romantis antara manusia dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), menganalisis implikasi ontologis, epistemologis, dan etis dari transformasi paradigma cinta di era digital.
Penulis
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan SEO paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.