{!-- ra:00000000000003ec0000000000000000 --}Wamenhan Tekankan Penguatan 🛡️ Deterensi Nasional dalam Kuliah Umum PPSA XXVI - Swante Adi Krisna | Kementerian Pertahanan RI
cross
Hit enter to search or ESC to close
16
October 2025

Wamenhan Tekankan Penguatan 🛡️ Deterensi Nasional dalam Kuliah Umum PPSA XXVI

  • 12
  • Kamis, 16 Oktober 2025

Kuliah Umum Kebijakan Pertahanan di Tengah Dinamika Global

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto menyampaikan kuliah umum kepada 90 peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXVI Lemhannas RI di Jakarta pada Kamis, 16 Oktober 2025.1 Kuliah bertema "Kebijakan Pertahanan Negara Dalam Menghadapi Perubahan Geopolitik Global (Hanneg)" ini mewakili Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. 2 Gubernur Lemhannas TB. Ace Hasan Syadzily melaporkan peserta PPSA XXVI berasal dari lintas sektor meliputi TNI, Polri, kementerian, akademisi hingga tokoh masyarakat.1

Tema kuliah sejalan dengan visi Presiden Prabowo dalam membangun sistem pertahanan kuat dan disegani.1 Ace Hasan menekankan studi agama berperan penting memperkokoh fondasi ketahanan nasional dan semangat kebangsaan.3 Lemhannas rutin menggelar program pendidikan untuk pimpinan nasional guna memperkuat wawasan strategis.

Empat Pilar Penguatan Pertahanan Indonesia

Wamenhan Donny menguraikan empat fokus utama penguatan kemampuan pertahanan. Pertama, persatuan bangsa dan sistem pertahanan semesta (sishanta).1 Kedua, peningkatan kekuatan militer melalui modernisasi. Ketiga, pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Keempat, penguatan aliansi dan diplomasi pertahanan.1

Pembangunan kekuatan nasional dilakukan lewat penguatan komponen pertahanan rakyat semesta.1 Program modernisasi Alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan) menggunakan skema Perisai Trisula Nusantara yang mencakup restrukturisasi organisasi dan penambahan personel TNI.1 Menhan Sjafrie memastikan TNI terus meningkatkan kewaspadaan di tengah konflik global dengan penguatan melalui program Trisula Nusantara.4

Kemandirian Industri Pertahanan Nasional

Kementerian Pertahanan mendorong kemandirian industri pertahanan dengan meningkatkan kontrak bagi BUMN dan swasta.1 Setiap pembelian alutsista dari luar negeri diwajibkan melakukan transfer teknologi (technology transfer).1 Langkah ini memperkuat kapasitas produksi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Sinergi Elemen Bangsa Hadapi Dinamika Geopolitik

Menutup kuliah umum, Wamenhan menegaskan pentingnya memperkuat wawasan kebangsaan dan sinergi seluruh elemen bangsa.1 Ketiga matra TNI sama-sama menjadi prioritas dengan fokus berbeda sesuai kebutuhan strategis.1 Wamenhan mengajak peserta menjaga persatuan dan semangat bela negara sebagai modal mewujudkan Indonesia mandiri, bermartabat, dan disegani dunia.1

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebelumnya mengingatkan pentingnya kolaborasi saat memberikan pembekalan kepada peserta P3N XXV di Lemhannas.5 Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menghadapi tantangan kompleks ketahanan nasional. Menhan Sjafrie berpesan agar TNI tidak menyakiti hati rakyat karena kekuatan terbesar bukan pada senjata atau teknologi.6

Kesimpulan

Kuliah umum Wamenhan di Lemhannas menegaskan komitmen pemerintah membangun kekuatan deterensi nasional melalui empat pilar: persatuan bangsa, modernisasi militer, kemandirian industri pertahanan, dan diplomasi pertahanan. Sinergi seluruh elemen bangsa dengan wawasan kebangsaan kuat menjadi fondasi Indonesia menghadapi perubahan geopolitik global dan mewujudkan kedaulatan yang bermartabat.

Daftar Pustaka

Download Full PDF (downloaded 203 times)

Download PDF tentang Strategi Penguatan Deterensi P (telah di download 203 kali)
  • Wamenhan Tekankan Penguatan 🛡️ Deterensi Nasional dalam Kuliah Umum PPSA XXVI
    Kuliah umum Wakil Menteri Pertahanan pada PPSA XXVI Lemhannas mengungkap empat pilar strategis penguatan pertahanan Indonesia: persatuan bangsa dengan sistem pertahanan semesta, modernisasi kekuatan militer melalui Perisai Trisula Nusantara, kemandirian industri pertahanan nasional dengan transfer teknologi, dan diplomasi pertahanan internasional. Analisis kebijakan ini menunjukkan transformasi paradigma pertahanan dari reaktif menuju proaktif dengan penguatan kapasitas deterensi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
PENULIS
Swante Adi Krisna
Penikmat musik Ska, Reggae dan Rocksteady sejak 2004. Gooners sejak 1998. Blogger dan SEO paruh waktu sejak 2014. Graphic Designer autodidak sejak 2001. Website Programmer autodidak sejak 2003. Woodworker autodidak sejak 2024. Sarjana Hukum Pidana dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Magister Hukum Pidana di bidang cybercrime dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta. Magister Kenotariatan di bidang hukum teknologi, khususnya cybernotary dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta. Bagian dari Keluarga Besar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.
KEMENTERIAN PERTAHAN RI